Lumajang 29 Maret 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Di tengah lonjakan wisatawan saat Lebaran Ketupat, pengamanan di kawasan Pantai Mbah Drajid tidak hanya terlihat di daratan. Ada yang berbeda. Di balik garis ombak yang terus bergulung, sejumlah petugas justru berada di sana, yakni berenang, siaga, dan setia “njagani” setiap kemungkinan yang bisa datang tiba-tiba.
Langkah ini menjadi bagian dari penguatan pengamanan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Lumajang, menyusul meningkatnya aktivitas wisata, Sabtu (28/3/2026). Namun lebih dari sekadar penambahan personel, ada pendekatan unik yang membuat pengawasan di pantai ini terasa lebih dekat dengan risiko itu sendiri.
Jika di banyak daerah petugas cukup berjaga di bibir pantai, di Lumajang ceritanya berbeda. Tim SAR BPBD bersama SAR lokal memilih masuk ke laut, menggunakan pelampung dan perlengkapan keselamatan lengkap, lalu menetap di titik-titik rawan arus.
Mereka bukan sekadar mengawasi dari kejauhan. Mereka berenang, menyisir, bahkan bertahan di tengah laut untuk memastikan setiap wisatawan tetap dalam jangkauan pengawasan.
“Kami tidak hanya berjaga di tepi pantai, tetapi juga aktif mengawasi dan menghalau pengunjung yang berenang ke laut, terutama di area yang berbahaya,” ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Lumajang, Yudhi Cahyono dalam keterangannya saat monitoring.
Apa yang dilakukan ini bukan tanpa alasan. Karakter ombak dan arus di Pantai Mbah Drajid yang dikenal cukup kuat menuntut pendekatan yang lebih responsif. Risiko tidak bisa hanya ditunggu dari darat, ia harus dijemput dan diawasi langsung dari sumbernya.
Di titik-titik tertentu, petugas terlihat mengapung di antara gelombang, mata mereka menyapu setiap pergerakan. Ketika ada pengunjung yang mulai terlalu jauh berenang, mereka segera mendekat, memberi isyarat, bahkan mengarahkan untuk kembali ke zona aman.
Di saat yang sama, kehadiran mereka menjadi garis pertahanan pertama jika sewaktu-waktu ada wisatawan yang terseret arus. Jarak yang dekat memungkinkan respons lebih cepat, detik yang sering kali menjadi penentu antara selamat dan celaka.
Keunikan ini menjadi sesuatu yang jarang ditemui di tempat lain. Pendekatan pengamanan yang “masuk ke laut” ini menunjukkan bagaimana strategi keselamatan dikembangkan sesuai karakter wilayah, bukan sekadar mengikuti pola umum.
Kunci dari semua itu terletak pada kolaborasi. Tim SAR BPBD tidak bekerja sendiri. Mereka didukung oleh SAR lokal, warga setempat yang telah lama hidup berdampingan dengan laut dan memahami setiap ritme ombaknya.
Salah satunya adalah Seniman (60), warga lokal yang tergabung dalam Destana (Desa Tangguh Bencana). Bagi Seniman, laut bukan sekadar ruang kerja, tetapi bagian dari kehidupan yang telah ia pahami sejak lama.
“Kami sudah hafal arah arus dan ombak di sini. Kalau ada perubahan, biasanya langsung terasa,” ujarnya sederhana.
Pengetahuan seperti itulah yang menjadi kekuatan tak tergantikan. Kolaborasi antara pengalaman warga dan keterampilan teknis petugas membentuk sistem pengamanan yang lebih peka terhadap potensi bahaya.
Dwi Nurcahyo, salah satu petugas Tim SAR, menegaskan bahwa keberadaan SAR lokal sangat membantu dalam mempercepat pengambilan keputusan di lapangan.
“Dengan bantuan warga lokal, kami bisa lebih cepat menentukan titik rawan dan langsung bergerak kalau ada situasi darurat,” ungkapnya.
Meski turun langsung ke laut, standar keselamatan tetap menjadi prioritas. Setiap petugas dilengkapi dengan perlengkapan safety kit, memastikan bahwa mereka tetap terlindungi saat menjalankan tugas di area berisiko tinggi.
Selain pengawasan, pendekatan edukatif juga terus dilakukan. Petugas tak henti mengingatkan pengunjung untuk mematuhi rambu peringatan dan tidak berenang di zona berbahaya.
“Keselamatan menjadi prioritas. Kami terus mengingatkan pengunjung agar mengikuti arahan petugas di lapangan,” tegas Yudhi.
Pengamanan yang diperkuat ini mencerminkan komitmen pemerintah daerah dalam menghadirkan rasa aman tanpa mengurangi kenyamanan wisatawan. Bahwa di balik setiap momen liburan, ada upaya serius yang bekerja tanpa henti.
Di tengah padatnya aktivitas wisata, kesadaran pengunjung menjadi kunci yang tidak kalah penting. Kepatuhan terhadap imbauan menjadi bagian dari tanggung jawab bersama untuk menjaga keselamatan.
Dengan sinergi antara petugas dan masyarakat, aktivitas wisata di Pantai Mbah Drajid diharapkan tetap berlangsung tertib, aman, dan menyenangkan.
Lebih dari sekadar pengamanan, apa yang dilakukan SAR Lumajang menjadi cermin pendekatan yang adaptif dan berani. Mereka tidak hanya berdiri di garis aman, tetapi memilih hadir di titik paling rawan.
Di sanalah, di antara ombak yang tak pernah diam, mereka menjaga, bukan dari kejauhan, tetapi dari dalam. Sebuah cara sederhana, namun penuh makna, untuk memastikan bahwa setiap kebahagiaan yang datang ke pantai tetap pulang dengan selamat. (MC Kab. Lumajang)
