Surabaya 3 April 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Prestasi membanggakan kembali datang dari lingkungan Universitas Airlangga. Direktorat Kemahasiswaan resmi menobatkan Kenzo Yuswan, mahasiswa program studi S1 Ilmu Hukum sebagai Juara 1 Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Universitas Airlangga (UNAIR) tahun 2026 untuk kategori jalur disabilitas. Kemenangan ini bukan sekadar gelar, melainkan sebuah manifestasi dari semangat intelektualitas dan advokasi kemanusiaan.
Gagasan Kreatif: Evaluasi Pendidikan Inklusif
Dalam ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) tingkat universitas tersebut, Kenzo mengangkat gagasan kreatif yang sangat relevan dengan realitas sosial saat ini. Ia menyoroti pentingnya akses pendidikan dasar bagi penyandang disabilitas sensorik, khususnya tuna netra.
Kenzo mengusulkan revisi terhadap Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2020 tentang Akomodasi yang Layak bagi Peserta Didik Penyandang Disabilitas dan Permendikbudristek Nomor 48 Tahun 2023. Kenzo mengusulkan revisi bahwa diperlukan sosialisasi tidak hanya sebatas mengenai sistem pembelajaran, tetapi juga program-program pemerintah dalam mendukung pendidikan inklusif itu sendiri.
“Saya mengusulkan perlunya mekanisme evaluasi yang lebih jelas terhadap pendidikan inklusif. Pemerintah daerah seharusnya memberikan reward bagi sekolah yang berhasil menyelenggarakan pendidikan inklusif dengan baik, namun sebaliknya, memberikan sanksi administratif bagi sekolah yang sudah difasilitasi namun tidak memberikan pengakuan setara bagi siswa disabilitas,” ujar Kenzo.
Rekam Jejak Prestasi Internasional
Keberhasilan Kenzo tidak datang secara tiba-tiba. Mahasiswa yang memiliki ketertarikan mendalam pada isu Hak Asasi Manusia (HAM) ini memiliki portofolio yang impresif. Pada tahun 2025, ia menjadi pembicara dalam konferensi internasional HAM. Di sana, ia memaparkan materi mengenai tanggung jawab negara dalam memenuhi akses pendidikan dasar bagi disabilitas sensorik.
Tidak hanya itu, Kenzo juga tercatat pernah menjalani program magang penelitian di Mahkamah Konstitusi (MK) pada tahun 2025. Di lembaga tinggi negara tersebut, ia mendalami penelitian mengenai aksesibilitas bagi penyandang disabilitas dalam proses peradilan di MK.
“Pengalaman di MK sangat berkesan karena saya bisa bertemu langsung dengan para hakim dan pakar hukum, serta mengamati jalannya persidangan secara langsung,” tambahnya.
Proses menuju juara tentu tidak mudah. Kenzo harus melewati serangkaian seleksi, mulai dari pengumpulan berkas capaian unggulan, pembuatan video perkenalan dalam bahasa Inggris, hingga sesi presentasi gagasan kreatif di hadapan juri.
Terkait sesi tanya jawab menggunakan bahasa Inggris yang dihubungkan dengan Asta Cita, Kenzo mengaku menjadikannya sebagai sarana belajar. “Bagi saya, ini adalah kesempatan untuk mengasah kemampuan argumentasi, berpikir kritis, dan komunikasi. Meski perlu waktu sedikit untuk berpikir saat menghubungkan gagasan dengan asta cita, Puji Tuhan semuanya bisa saya sampaikan dengan baik,” ungkap Kenzo.
Harapan dan Kontribusi Masa Depan
Bagi Kenzo, gelar Juara 1 Mawapres UNAIR adalah sebuah amanah. Ia berharap prestasi ini menjadi jembatan baginya untuk lebih berkontribusi nyata di masyarakat. Fokus utamanya tetap konsisten, yaitu memperjuangkan hak-hak penyandang tuna netra agar benar-benar terakomodasi secara implementatif.
“Aturan hukumnya sudah ada, namun tinggal bagaimana implementasinya di lapangan. Saya ingin memastikan bahwa kontribusi saya nanti dapat membantu rekan-rekan difabel mendapatkan hak-hak mereka secara adil, terutama di sektor pendidikan,” tutupnya. (far)
