Surabaya 15 April 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Laju pembangunan gedung tinggi di Indonesia masih dibayangi tingginya kecelakaan kerja akibat penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang belum optimal. Menanggapi kondisi tersebut, lulusan program doktoral Departemen Teknik Sistem dan Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr Ryan Pramanda Isni ST MT mengembangkan model ergo-safety untuk proyek gedung bertingkat tinggi.
Ryan mengungkapkan, sistem keselamatan kerja saat ini masih cenderung berfokus pada aspek manajemen secara umum. Akibatnya, faktor penting seperti kondisi fisik dan mental pekerja seringkali terabaikan dalam praktik K3 di lapangan. “Selama ini, pendekatan keselamatan lebih banyak dilihat dari sisi sistem, padahal faktor manusia juga sangat menentukan,” ujarnya mengingatkan.
Lebih lanjut, Ryan menuturkan perlu adanya model yang mampu mengintegrasikan aspek manusia dan sistem kerja secara tepat. Untuk mewujudkan hal tersebut, dosen Universitas Samudra, Aceh ini menggunakan paradigma Human Interface System (HIS) dan Human Factor Analysis Classification System (HFACS). “Hal tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi pola penyebab kecelakaan melalui interaksi antara manusia dan sistem kerja,” paparnya.
Dari kedua paradigma tersebut, Ryan melibatkan 28 pakar konstruksi untuk melakukan penilaian mendalam terhadap kondisi 277 pekerja di lapangan. Hasil dari penilaian ini kemudian menjadi dataset utama dari model ergo-safetynya. “Data ini dapat memberikan landasan probabilitas yang kuat agar model simulasi risiko ini menjadi lebih akurat,” jelasnya.
Selanjutnya, data tersebut diolah menggunakan metode Bayesian Belief Network (BBN) dengan Rstudio. Lelaki asal Langsa, Aceh tersebut menerangrkan bahwa melalui BBN hubungan antarfaktor data dapat dipetakan secara sistematis. Dengan demikian, faktor-faktor seperti kondisi pekerja, lingkungan kerja, hingga sistem organisasi dianalisis untuk melihat keterkaitannya.
Dari penerapan model ergo-safety tersebut, Ryan menemukan bahwa kondisi fisik dan mental pekerja menjadi faktor paling berpengaruh terhadap tingkat keselamatan kerja. Kelelahan serta tekanan psikologis terbukti meningkatkan risiko kecelakaan, terutama pada pekerjaan konstruksi. “Dari hasil analisis ini, perusahaan dapat merencanakan K3 yang lebih terencana dan efektif,” tegasnya.
Selain itu, Ryan juga menyoroti bahwa prosedur keselamatan yang terlalu kompleks justru dapat menghambat implementasi K3 yang efektif. Menurutnya, sistem yang efektif harus mudah dipahami dan diterapkan oleh pekerja konstruksi. “Peralatan canggih tidak akan efektif jika tidak didukung kemudahan penggunaan,” tambahnya. Penelitian ini turut mendukung tercapainya komitmen Sustainable Development Goals (SDGs) pada poin ke-3, yakni Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Ryan berharap model ergonomi yang dikembangkannya dapat menjadi masukan dalam meningkatkan standar keselamatan kerja di sektor konstruksi. “Harapannya, model ini dapat mendukung tercapainya target zero accident secara berkelanjutan,” tandasnya optimistis.(naf)
