More
    BerandaUncategorizedKetika Manusia Kehilangan Makna, Apakah Tuhan Membolehkan Semua?

    Ketika Manusia Kehilangan Makna, Apakah Tuhan Membolehkan Semua?

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Surabaya 24 April 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Pada perjalanan keheningan malam, Di suatu titik kesunyian dalam sejarah batin, ada satu pergulatan dalam pikiran yang menghadirkan satu pertanyaan , ini tidak lagi terdengar seperti pertanyaan yang berspekulasi, melainkan jeritan sunyi: jika hidup kehilangan makna, jika Tuhan terasa jauh atau bahkan “diam,” apakah segala sesuatu menjadi boleh?

    Pertanyaan ini menggemakan kegelisahan yang pernah digali secara mendalam oleh Fyodor Dostoevsky. Dalam dunia yang ia bangun melalui tokoh-tokohnya, manusia bukan sekadar berhadapan dengan realitas luar, tetapi dengan jurang dalam dirinya sendiri. Jurang itu bernama kebebasan tanpa arah—kebebasan yang tidak lagi ditopang oleh nilai, oleh iman, atau oleh makna.

    Ketika manusia kehilangan makna, ketika manusia kehilangan arti dalam hidupnya, ia tidak serta-merta menjadi bebas dalam arti yang sejati. Justru sebaliknya, ia menjadi terombang-ambing. Tanpa makna, pilihan kehilangan bobot moralnya. Tanpa Tuhan sebagai pusat orientasi, hidup berubah menjadi arena eksperimentasi tanpa kompas. Maka lahirlah pertanyaan itu: apakah semuanya menjadi boleh?

    Dalam sudut pandang iman, jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Tuhan tidak pernah “membolehkan semua” dalam arti membenarkan segala tindakan manusia. Namun Tuhan juga tidak mencabut kebebasan manusia, bahkan ketika kebebasan itu digunakan untuk tersesat. Di situlah paradoksnya: manusia diberi kebebasan yang begitu luas, tetapi kebebasan itu selalu mengandung konsekuensi.

    Dostoevsky seolah ingin mengatakan bahwa persoalannya bukan pada ada atau tidaknya larangan, melainkan pada hilangnya kesadaran akan makna. Ketika manusia tidak lagi percaya bahwa hidup memiliki tujuan yang lebih tinggi, maka larangan dan perintah kehilangan relevansinya. Moralitas bukan lagi panggilan jiwa, tetapi sekadar konstruksi sosial yang bisa dinegosiasikan.

    Dalam kondisi seperti ini, kejahatan tidak selalu hadir sebagai pemberontakan besar, tetapi seringkali sebagai kelelahan eksistensial. Manusia tidak lagi melanggar karena ingin menentang Tuhan, tetapi karena ia tidak lagi merasa bahwa hidupnya memiliki arti untuk dijaga. Ia jatuh bukan karena ia kuat dalam dosa, tetapi karena ia lemah dalam makna.

    Agama, dalam hal ini, hadir bukan sekadar sebagai sistem aturan, tetapi sebagai pengingat akan arah. Ia tidak hanya berkata “jangan,” tetapi juga menjawab “mengapa.” Mengapa hidup harus dijaga Mengapa kebaikan harus diperjuangkan? Mengapa manusia tidak boleh menyerah pada kehampaan?

    Dalam perspektif Islam, pertanyaan ini menemukan pijakan yang sangat konkret melalui teladan Muhammad. Dalam sebuah ajaran yang masyhur, Nabi menegaskan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Di sini, makna hidup tidak berhenti pada relasi vertikal dengan Tuhan, tetapi menjelma dalam relasi horizontal dengan sesama.

    Islam tidak memaknai hidup sebagai ruang kebebasan tanpa batas, melainkan sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Kehidupan bukan sekadar perjalanan individual, tetapi juga ruang pengabdian sosial. Seseorang tidak dinilai dari seberapa banyak ia memiliki, tetapi dari seberapa besar ia memberi arti bagi kehidupan orang lain.

    Dalam kerangka ini, kehilangan makna bukan hanya berarti menjauh dari Tuhan, tetapi juga menjauh dari kemanusiaan. Sebab manusia yang kehilangan makna cenderung kehilangan kepedulian. Ia hidup dalam dirinya sendiri, terasing dari penderitaan orang lain, dan pada akhirnya terputus dari nilai-nilai yang membuat hidup layak dijalani. Ia cenderung menempatkan dirinya sebagai kuasa, merasa tidak butuh orang lain dan menempatkan diri dalam kesombongan.

    Sebaliknya, ketika manusia kembali menemukan makna melalui memberi, melalui kebaikan, melalui kebermanfaatan, ia sesungguhnya sedang menemukan kembali dirinya. Ia tidak lagi bertanya apakah segala sesuatu boleh, karena ia telah memiliki kompas batin yang membimbingnya. Ia tahu bahwa kebebasan bukan untuk menghalalkan segalanya, tetapi untuk memilih yang paling bernilai. Di sinilah iman dan kemanusiaan bertemu.

    Dostoevsky mengingatkan tentang bahaya kehilangan Tuhan, sementara Islam melalui teladan Nabi menunjukkan jalan konkret untuk menemukan kembali makna: dengan menjadi rahmat bagi sesama.

    Maka kehilangan makna bukanlah akhir, melainkan titik balik. Ia adalah momen ketika manusia dipaksa untuk bertanya ulang tentang hidupnya—tentang apa yang benar-benar penting, tentang apa yang layak diperjuangkan.

    Hidup yang bermakna bukanlah hidup yang tanpa dosa, tetapi hidup yang terus kembali. Kembali kepada nilai, kepada nurani, kepada Tuhan, kepada kerendahan hati dan kepada sesama manusia. Dalam dunia yang seringkali terasa absurd dan tanpa arah, makna tidak ditemukan dalam kebebasan tanpa batas, tetapi dalam kesediaan untuk mengikat diri pada sesuatu yang lebih tinggi—dan mewujudkannya dalam kebaikan yang nyata.

    Dan di situlah jawabannya menjadi lebih jernih: bukan Tuhan yang membolehkan semua, tetapi manusialah yang seringkali, dalam kehilangan makna, merasa bahwa segala sesuatu menjadi boleh. Padahal, justru di saat itulah manusia paling membutuhkan makna—agar kebebasannya tidak berubah menjadi kehampaan, dan hidupnya tidak terjatuh menjadi sekadar keberadaan tanpa arah.

    Surabaya, 23 April 2026

    M. Isa Ansori

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru