More
    BerandaEkonomiRupiah Tembus Rp17.600 per Dolar AS, Guru Besar UNAIR Singgung Dominasi Tekanan...

    Rupiah Tembus Rp17.600 per Dolar AS, Guru Besar UNAIR Singgung Dominasi Tekanan Global

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Surabaya 19 Mei 2026  | Draft Rakyat Newsroom – Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah menembus level Rp17.600 per dolar AS pada pertengahan Mei 2026. Pelemahan ini dinilai sebagai salah satu tekanan terdalam yang dialami rupiah daripada mata uang negara berkembang lain di kawasan Asia Tenggara. Situasi tersebut dipengaruhi kombinasi tekanan global dan domestik yang memicu meningkatnya ketidakpastian pasar.

    Guru Besar Ekonomi Moneter Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR) Prof Dr Rahma Gafmi SE MEc menjelaskan bahwa gejolak geopolitik di Timur Tengah hingga kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS) menjadi faktor dominan yang menekan rupiah. Menurutnya, kondisi tersebut membuat investor global cenderung menarik modal dari negara berkembang dan memindahkannya ke aset safe haven di AS.

    Tekanan Global Dominasi Pelemahan Rupiah

    Rahma menuturkan bahwa eskalasi konflik antara AS dan Iran yang mengganggu jalur perdagangan di Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dunia. Sebagai negara importir minyak, Indonesia harus mengeluarkan lebih banyak dolar AS untuk memenuhi kebutuhan energi domestik sehingga tekanan terhadap rupiah semakin besar.

    “Dalam dinamika nilai tukar saat ini, faktor global memiliki bobot pengaruh sekitar 70 hingga 80 persen terhadap tekanan rupiah. Faktor domestik lebih berperan sebagai amplifier di tengah badai eksternal,” ujarnya.

    Ia menambahkan bahwa tingginya inflasi Amerika Serikat serta ekspektasi suku bunga The Fed yang tetap tinggi membuat arus modal keluar dari pasar domestik semakin besar. Selain itu, pasar juga menyoroti pelebaran defisit APBN akibat subsidi energi dan tingginya kebutuhan dolar untuk pembayaran dividen maupun utang luar negeri pada triwulan II-2026.

    “Pasar membenci ketidakpastian. Ketika disiplin fiskal diragukan, tekanan terhadap rupiah akan berlipat ganda,” tambahnya.

    Intervensi BI Dinilai Krusial

    Rahma menilai intervensi yang dilakukan Bank Indonesia tetap penting untuk menjaga stabilitas pasar dan mencegah free fall seperti krisis 1998. Menurutnya, instrumen swap dan forward, termasuk Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), menjadi tulang punggung intervensi saat ini karena mampu meredam kepanikan pasar tanpa menguras cadangan devisa secara tunai.

    “Jika indikatornya menahan rupiah agar tidak melemah sama sekali, tentu belum efektif. Namun untuk menjaga orderly market dan mencegah kepanikan, intervensi BI sangat krusial,” jelasnya.

    Lebih lanjut, Rahma menegaskan bahwa stabilitas rupiah tidak cukup hanya mengandalkan intervensi pasar valas. Ia menilai penguatan sektor riil dan peningkatan investasi asing langsung (FDI) menjadi solusi jangka panjang agar fundamental ekonomi Indonesia semakin kuat.

    “Stabilitas nilai tukar yang kokoh lahir dari sektor riil yang produktif. Rupiah tidak akan kehilangan harga dirinya jika current account ditopang oleh produktivitas nyata,” pungkasnya.(rin)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru