Surabaya 11 Juni 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Di tengah derasnya arus informasi, sebuah foto sering kali mampu menyampaikan cerita yang tidak sepenuhnya terwakili oleh kata-kata. Bagi Adryan Yoga Paramadwya, alumnus Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR), foto jurnalistik tidak berhenti sebagai dokumentasi peristiwa semata. Di balik setiap jepretan, terdapat upaya menghadirkan realitas kepada publik. Terutama bagi mereka yang tidak dapat menyaksikan langsung suatu peristiwa.
Kini, Yoga berkarier sebagai photojournalist di Harian Kompas. Melalui lensa kameranya, ia berusaha menjadikan foto sebagai jembatan antara masyarakat dengan berbagai isu yang terjadi di berbagai penjuru Indonesia. “Saya ingin foto yang saya hasilkan tidak hanya merekam peristiwa, tetapi juga menghadirkan kesadaran tentang peristiwa itu,’’ ujarnya.
Foto sebagai Perpanjangan Mata Publik
Menurut Yoga, foto jurnalistik memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar menghasilkan gambar yang menarik secara visual. Foto menjadi sarana untuk menghadirkan fakta, membangun empati, sekaligus memperluas pemahaman masyarakat terhadap suatu persoalan.
“Jurnalisme foto merupakan perpanjangan mata publik. Tidak semua orang bisa datang langsung ke lokasi kejadian, sehingga foto membantu masyarakat melihat kondisi yang sebenarnya terjadi,” jelasnya.
Pemahaman tersebut semakin kuat ketika ia meliput bencana di Aceh. Saat itu, banyak wilayah mengalami pemadaman listrik dan gangguan jaringan komunikasi sehingga informasi dari lapangan sangat terbatas. Melalui foto-foto yang ia hasilkan, masyarakat di daerah lain akhirnya dapat melihat secara langsung situasi yang dihadapi para penyintas.
Salah satu momen yang paling membekas baginya adalah saat memotret seorang warga yang menyeberangi sungai sambil memeluk bayi menggunakan tong akibat terputusnya akses jalan. Ia juga mengabadikan warga yang berkumpul di sekitar api unggun untuk menghangatkan diri ketika persediaan kebutuhan pokok mulai menipis.
“Ketika media sosial tidak terlalu ramai membicarakan kondisi di sana, foto-foto tersebut membantu menunjukkan bahwa masyarakat Aceh masih menghadapi berbagai kesulitan,” ujarnya.
Membangun Kesadaran Melalui Jurnalisme Visual
Bagi Yoga, dampak terbesar dari sebuah foto muncul ketika foto tersebut mampu mendorong perhatian publik terhadap isu yang sebelumnya luput dari pembahasan. Ia menilai banyak peristiwa penting yang tidak selalu menjadi perbincangan di media sosial. Padahal peristiwa tersebut secara langsung memengaruhi kehidupan masyarakat.
Melalui jurnalisme visual, ia berupaya menghadirkan cerita-cerita tersebut ke ruang publik agar tidak tenggelam di tengah derasnya arus informasi digital. Menurutnya, kehadiran media yang kredibel semakin penting karena masyarakat membutuhkan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Pada akhir, Yoga mengajak mahasiswa untuk tetap peka terhadap berbagai fenomena sosial yang terjadi di sekitar mereka. Industri media akan selalu relevan karena kehidupan publik terus melahirkan peristiwa dan persoalan baru. “Selama masyarakat membutuhkan informasi yang kredibel, jurnalisme dan fotojurnalisme akan tetap memiliki peran penting sebagai perpanjangan tangan publik,” pungkasnya.(rin)
