Surabaya, 25 Juli 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Di banyak sentra pertanian, daun nanas umumnya berakhir sebagai limbah setelah buah dipanen. Padahal, di balik serat-serat yang kerap terabaikan itu tersimpan potensi sebagai material berkelanjutan yang dapat dikembangkan untuk industri kreatif.
Cara pandang baru terhadap limbah pertanian inilah yang menjadi pijakan riset Inty Nahari, dosen Program Magister Industri Kreatif Fakultas Vokasi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), melalui karya tekstil Barik.
Karya tersebut lahir dari penelitian mengenai pemanfaatan serat daun nanas Kelud sebagai material tekstil berbasis serat alam.
Bagi Inty, riset itu bukan sekadar menghasilkan sebuah karya seni, tetapi juga menunjukkan bahwa material lokal Indonesia memiliki kemampuan untuk berbicara mengenai isu-isu global, mulai dari keberlanjutan lingkungan, pemanfaatan limbah pertanian, hingga pentingnya menjaga pengetahuan tradisional.
Gagasan tersebut mendapat perhatian dalam pameran seni internasional “Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma” yang berlangsung di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Bali.
Di antara 79 karya dari 50 seniman dan praktisi asal delapan negara, Barik hadir membawa cerita tentang bagaimana kekayaan material lokal Indonesia dapat dibaca kembali melalui pendekatan riset dan desain.
Nama Barik diambil dari bahasa Jawa yang berarti garis. Nama tersebut menggambarkan karakter utama karya yang tersusun dari garis-garis serat daun nanas. Namun, bagi Inty, garis itu bukan sekadar unsur visual. Setiap serat membawa jejak lingkungan tempat tanaman tumbuh, mulai dari kondisi tanah, intensitas cahaya matahari, curah hujan, hingga proses pengolahannya.
“Ketidakteraturan tersebut tidak saya pandang sebagai kekurangan, tetapi sebagai rekaman alami dari lingkungan tempat tanaman itu tumbuh,” ujarnya.
Pandangan itu membuatnya tidak berupaya menyeragamkan karakter serat sebagaimana material tekstil industri. Sebaliknya, ia mempertahankan keberagaman tekstur, warna, dan ketebalan setiap serat, lalu memadukannya dengan teknik tenun kluwung.
“Pertemuan antara pola tenun yang teratur dan karakter alami serat menghasilkan permukaan tekstil yang unik dan sulit direplikasi secara identik,” ucapnya.(her)
