Surabaya 11 Juni 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Dony Husin, alumnus Universitas Airlangga (UNAIR), Program Studi Budidaya Perikanan, angkatan 2014, Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) menjadi salah satu ujung tombak kebijakan perikanan tangkap nasional di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia. Kini ia menjabat sebagai petugas Pengelola Produksi Perikanan Tangkap Pertama di Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, KKP, berkedudukan di Semarang. Ia bertugas menyusun rekomendasi teknis perikanan, merancang kebijakan perikanan tangkap, hingga membimbing teknis penggunaan alat tangkap ikan di lapangan.
Inovasi NAFAS Nelayan Kecil
Puncak dari perjalanan Dony adalah sebuah inovasi yang dirancang untuk kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (IPP) tahun 2025: program bernama Natural Fish Attractor (NAFAS Nelayan Kecil). Program ini bukanlah sekadar proyek biasa. NAFAS Nelayan Kecil adalah sebuah habitat buatan bawah laut yang dirancang dengan tiga tujuan sekaligus yaitu untuk mencegah penggunaan alat tangkap ilegal yang merusak ekosistem laut, meningkatkan pendapatan nelayan kecil melalui wisata bahari berbasis konservasi, dan menjadi lokasi budidaya kerang hijau sebagai sumber protein dan penghasilan tambahan.
Inovasi ini menjawab persoalan riil yang dihadapi nelayan kecil Indonesia. Antara lain keterbatasan hasil tangkap akibat ekosistem yang rusak dan tekanan ekonomi yang memaksa menggunakan alat tangkap berbahaya. Berkat dampaknya yang signifikan, program NAFAS Nelayan Kecil kini sedang diajukan untuk penghargaan Satya Lencana pada tahun 2026, salah satu penghargaan tertinggi dari negara untuk pengabdian luar biasa.
Tiga Misi Besar untuk Negeri
Kontribusi Dony tidak berhenti pada inovasi semata. Sepanjang kariernya di KKP, ia telah mengemban beberapa misi strategis nasional. Pertama, ia bertugas sebagai petugas verifikasi kelayakan nelayan dalam konteks penggunaan alat tangkap. Tugas ini memastikan nelayan di lapangan beroperasi secara legal dan berkelanjutan. Kedua, sebagai petugas verifikasi pajak sektor perikanan oleh Direktorat Jenderal Pajak, memperluas peran lintas kementerian. Ketiga, menggagas dan mengembangkan inovasi NAFAS Nelayan Kecil yang kini melambung ke pentas nasional
Kampus Bukan Hanya Soal Teori
Menurut Dony, perjalanan yang ia tempuh hingga pada titik ini tidak terlepas dari peran kampus. Organisasi, pengalaman sebagai asisten dosen, tanggung jawab, dan kemampuan problem-solving menjadi nilai penting yang membentuknya seperti sosok saat ini.
“Yang saya bawa dari kampus bukan hanya teknis perikanan. Justru yang lebih berharga adalah cara berpikir, kemampuan analisis, dan komunikasi,” tegasnya. Sebuah refleksi yang selaras dengan realita dunia kerja menyatakan bahwa soft skill yang diasah di kampus sering kali lebih menentukan arah karier daripada ilmu teknis semata. Sebagai alumnus FPK yang merasakan betapa banyaknya pengalaman yang ia dapat di kampus, Dony memberikan pesan pada para Ksatria Airlangga yang masih berjuang. “Di mana pun ketika lulus, di bidang apa pun yang harus dilakukan adalah berproses. Kita pasti bisa. Karena yang dipelajari bukan hanya teori dan praktik sesuai program studi, tetapi kita juga dibekali soft skill,” pungkasnya.(rin)
