Surabaya 10 Juli 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengintensifkan edukasi kepada orang tua dan anak sebagai langkah mencegah paparan ideologi kekerasan ekstrem di ruang digital. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan literasi digital di sekolah, pendampingan keluarga, serta kolaborasi dengan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror (AT) Polri.
Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Febrina Kusumawati mengatakan, sekolah memiliki peran penting dalam membekali siswa agar mampu mengenali dan menghindari konten berbahaya saat mengakses media digital.
Menurutnya, kebijakan pembatasan penggunaan telepon genggam selama kegiatan belajar mengajar juga dimanfaatkan sebagai ruang edukasi mengenai penggunaan media sosial yang sehat dan aman.
“Di sekolah itu kita beri pembekalan. Termasuk ketika di rumah (main) media sosial, segala macam (informasi) ini loh yang harus dihindari. Kalau ada situs-situs mengajak begini (negatif), harus hindari dan segala macam,” ujar Febri, Jumat (10/7/2026).
Meski demikian, Febri menegaskan pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan sekolah. Menurutnya, keluarga menjadi benteng utama karena anak-anak lebih banyak menggunakan perangkat digital saat berada di rumah. “Kalau sudah di rumah yang menjaga kan lingkungan dan para orang tua. Jadi, para orang tua juga saya minta tolong semuanya. Ini zaman sudah begini (berubah), begitu gampang dan begitu masifnya informasi masuk semua ke anak-anak,” katanya.
Ia mengingatkan rasa ingin tahu yang awalnya hanya sebatas mencoba dapat berkembang menjadi ketertarikan terhadap paham yang membahayakan apabila tidak diawasi sejak dini. “Nah, coba-coba kan ya, gak enak keluar. Tapi kalau sudah coba-coba, ternyata dia tertarik untuk melakukan pendalaman, wah gawat itu,” tuturnya.
Febri mengungkapkan, Densus 88 pada tahun 2025 pernah menyampaikan adanya sejumlah kasus anak di luar Surabaya yang telah terpapar ideologi ekstrem hingga berada pada tahap mengkhawatirkan.
“Nanti takutnya juga seperti yang disampaikan Densus, ternyata ada beberapa anak bukan di sini (Surabaya) itu yang sudah siap melakukan eksekusi atas timnya itu tadi,” ungkap dia.
Karena itu, Dispendik Surabaya juga memperkuat pendidikan karakter dan pendidikan agama sebagai fondasi untuk membangun daya tahan anak terhadap berbagai pengaruh negatif.
“Kebetulan kemarin saya juga sudah ngomong (berbicara) sama para guru agama. Jadi fondasi dasar anak-anak itu agama harus kuat, baik itu di sekolah reguler maupun sekolah agamis,” terangnya.
Selain memperkuat pendidikan karakter, Febri menyebut bahwa Pemkot Surabaya juga menggandeng Densus 88, Badan Narkotika Nasional (BNN), hingga Polisi Siber untuk memberikan edukasi secara berkala kepada para pelajar mengenai ancaman ideologi ekstrem di ruang digital.
“Kalau fondasi agama sudah kuat, tinggal anak itu diberi pembekalan tadi secara periodisasi. Menggandeng Densus 88, BNN, maupun Polisi Siber yang mengerti. Itu insyaallah secara rutin akan kita gelar,” paparnya.
Febri kembali mengingatkan pentingnya pendampingan orang tua terhadap penggunaan gawai anak di rumah. Menurutnya, pembatasan penggunaan telepon genggam harus dibarengi dengan komunikasi yang hangat dalam keluarga.
“Tapi lagi-lagi bahwa orang tua tetap harus wajib membatasi, mendampingi penggunaan handphone anak-anaknya pada saat di rumah. Ada quality time di situ. Nah, kalau sudah kayak gitu, sama-sama komit handphone bisa disingkirkan dulu,” jelasnya.
Ia juga meminta orang tua lebih peka terhadap perubahan perilaku anak dan segera berkoordinasi dengan pihak sekolah apabila menemukan hal yang tidak biasa. Menurutnya, komunikasi antara keluarga dan guru menjadi kunci untuk mendeteksi persoalan sejak dini.
“Nah itu monggo (silakan) nanti bisa sharing juga dengan para guru di sekolah. Artinya kita mencocokkan informasi. Maka guru sama orang tua nanti bisa menyimpulkan bahwa anak ini sebetulnya kenapa,” jelas dia.
Febri menambahkan, apabila gejala tersebut diketahui lebih awal, sekolah dapat memberikan pendampingan melalui psikolog maupun bentuk terapi lainnya sebelum permasalahan berkembang lebih jauh.
“Kalau sudah, oh anak ini ternyata begini, ya sudah kita cari terapinya. Kita hadirkan psikolog, kita ajak terapi-terapi yang lain seperti itu. Lebih baik kita bisa tahu dini untuk proses itu daripada wis kasep (sudah terlanjur),” tuturnya.
Ia memastikan kolaborasi antara Pemkot Surabaya dan Densus 88 AT Polri akan terus berlanjut melalui kegiatan edukasi yang digelar secara berkala sebagai bagian dari upaya melindungi pelajar dari paparan ideologi ekstrem di ruang digital. “Kita lakukan pertemuan secara periodisasi,” tutupnya. (nis)
