More
    BerandaUncategorizedOPINI, Skill Fest: Ketika Bursa Kerja Tidak Lagi Sekadar Mempertemukan, Tetapi Menyelaraskan

    OPINI, Skill Fest: Ketika Bursa Kerja Tidak Lagi Sekadar Mempertemukan, Tetapi Menyelaraskan

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Jember, 4 Agustus 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Selama bertahun-tahun, bursa kerja di Indonesia identik dengan satu gambaran sederhana: ratusan pencari kerja mengantre membawa map cokelat, berharap CV-nya dilirik perusahaan yang membuka lowongan. Formatnya nyaris seragam dari tahun ke tahun, mempertemukan sebanyak mungkin pelamar dengan sebanyak mungkin lowongan, tanpa banyak menyoal apakah kompetensi yang dibawa pencari kerja benar-benar sesuai dengan kebutuhan industri. Karena itu, rencana langkah Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Timur mengubah wajah Job Fair 2026 di Grand City Surabaya nanti menjadi konsep Skill Fest patut dibaca sebagai lebih dari sekadar pergantian nama kegiatan.

    Kalimat KunciSkill Fest adalah pergeseran cara pandang, dari sekadar mempertemukan pencari kerja dan lowongan menjadi menyelaraskan kompetensi dengan kebutuhan dunia industri.

    Pertanyaannya, apakah pergeseran ini benar-benar mampu menjawab persoalan mendasar ketenagakerjaan kita: kesenjangan kompetensi antara apa yang dimiliki lulusan vokasi dan apa yang dibutuhkan dunia usaha dan dunia industri?

    SKILL FEST, TITIK TEMU REKRUTMEN DAN PENYELARASAN KOMPETENSI

    Konsep Skill Fest yang disampaikan Kabid. Penempatan dan Peluasan Kerja Disnakertrans Jatim -Purwanti Utami, SSos. MSi akan digelar pada akhir Oktober 2026 itu dirancang bukan sekadar mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan, melainkan menghasilkan kecocokan yang lebih berkualitas berdasarkan kompetensi dan keterampilan yang benar-benar dibutuhkan dunia kerja. Perusahaan peserta pun tidak dibiarkan mendaftar begitu saja, melainkan melalui kurasi bertahap yang memastikan kepatuhan terhadap kewajiban ketenagakerjaan, termasuk kepesertaan jaminan sosial dan pelaporan hasil penempatan tenaga kerja. Ini juga menjadi bukti intelegent market dapat dijalankan dan dimanfaatkan untuk meningkatkan matching dengan kualifikasi pencari kerja.

    Pendekatan ini sejalan dengan semangat yang tengah dibangun di berbagai daerah, termasuk melalui forum Tim Koordinasi Daerah Vokasi (TKDV) di 38 Kab/Kota se Jatim yang belum lama ini menggelar rapat koordinasi penyusunan strategi daerah di wilayah kerja Bakorwil V Jember, diikuti tujuh kabupaten/kota yakni Probolinggo, Kota Probolinggo, Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi. Forum tersebut menegaskan bahwa TKDV telah bergerak dari sekadar tahap sosialisasi menuju evaluasi dan penyusunan strategi yang lebih terukur, dengan melibatkan Bappeda, Kamar Dagang dan Industri (Kadin), serta Dinas Pendidikan dalam satu meja pembahasan.

    Jika Skill Fest adalah etalase di hilir berfungsinya sistem informasi kerja yang mempertemukan talenta dengan lowongan, TKDV adalah mesin di hulu yang menyiapkan kompetensinya sejak awal. Keduanya baru bermakna penuh bila benar-benar terhubung sebagai satu rangkaian, bukan berjalan sebagai dua inisiatif yang kebetulan sejalan (skill-match-grow).

    LIMA KPI SEBAGAI ALAT UKUR, BUKAN SEKADAR SLOGAN

    Yang membedakan pendekatan ini dari forum-forum koordinasi sebelumnya adalah adanya lima indikator kinerja utama (KPI) yang disepakati sebagai tolok ukur capaian TKDV ke depan: serapan lulusan sesuai bidang kerja, penurunan mismatch tenaga kerja, sistem pasar kerja yang efektif dan berbasis data, jalur pengembangan dan perbaikan kompetensi sesuai potensi daerah, serta peningkatan produktivitas sektor unggulan. Lima KPI ini penting karena menggeser ukuran keberhasilan dari sekadar jumlah forum yang terbentuk atau seremoni yang digelar, menjadi dampak nyata yang bisa dihitung.

    Skill Fest sesungguhnya adalah salah satu ruang di mana kelima KPI yang sedang diuji di lapangan. Proses kurasi perusahaan berdasarkan kepatuhan ketenagakerjaan berkontribusi pada indikator sistem pasar kerja yang lebih tertib dan efektif. Pendekatan rekrutmen berbasis kompetensi, bukan sekadar jumlah pelamar yang hadir, secara langsung menyasar indikator penurunan mismatch. Sementara perluasan layanan bagi penyandang disabilitas dan penguatan basis data pencari kerja inklusif menunjukkan bahwa jalur pengembangan kompetensi mulai dirancang lebih adaptif terhadap keragaman potensi daerah.

    Kalimat KunciKeberhasilan revitalisasi vokasi tidak diukur dari serapan seremoni forum dan job fair belaka melainkan dari lima KPI: serapan lulusan, penurunan mismatch, sistem pasar kerja efektif, jalur kompetensi jelas, dan produktivitas sektor unggulan.

    Namun, satu forum kerja atau satu bursa kerja tidak akan cukup. Kelima KPI itu perlu dipantau berkelanjutan lintas kabupaten/kota, lintas OPD, dan lintas siklus perencanaan daerah, agar tidak berhenti sebagai daftar indikator di atas kertas rapat koordinasi.

    PENUTUP

    Skill Fest dan TKDV pada dasarnya sedang mencoba menjawab pertanyaan yang sama dari dua arah berbeda: bagaimana memastikan talenta yang dihasilkan sistem pendidikan dan pelatihan vokasi benar-benar relevan dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah. Semangat “more than one, grow together” yang digaungkan dalam forum TKDV  di Bakorwil V Jember kemarin mengingatkan kembali bahwa penyelarasan kompetensi bukan pekerjaan satu pihak (one man show). Ia membutuhkan kerja bersama pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dunia pendidikan, dan dunia usaha secara konsisten dan berkelanjutan.

    Keberhasilan sesungguhnya bukan diukur dari seberapa meriah Skill Fest digelar atau seberapa sering rapat koordinasi TKDV berlangsung atau seremoni pembukaan job fair, melainkan dari lima KPI yang telah disepakati bersama. Jika kelima indikator itu terus dipantau dan dievaluasi secara jujur, Skill Fest bukan hanya menjadi bursa kerja dengan nama baru, melainkan bukti nyata bahwa revitalisasi vokasi mulai bergerak dari forum koordinasi menuju hasil yang dirasakan langsung oleh pencari kerja dan dunia industri di Jawa Timur. Semoga.

    Penulis : Budi Raharjo Kepala Bakorwil V Jember

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru