Banyuwangi, 4 Agustus 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Pengembangan beras organik di Kabupaten Banyuwangi terus menunjukkan hasil positif melalui sinergi antara Bank Indonesia, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, dan pelaku usaha tani. Selama lebih dari satu dekade, pendampingan yang dilakukan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jember kepada Kelompok Tani Organik Sirtanio berhasil meningkatkan produksi, memperluas lahan organik, hingga meningkatkan kesejahteraan petani.
Kepala KPwBI Jember, Iqbal Reza Nugraha, mengatakan pendampingan kepada Kelompok Tani Organik Sirtanio telah dimulai sejak 2011 dengan pendekatan membangun ekosistem usaha secara terintegrasi dari hulu hingga hilir.
“Pendampingan tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga memperkuat kelembagaan, kapasitas petani, tata kelola usaha, digitalisasi, hingga memperluas akses pasar dan pembiayaan,” ujarnya saat ditemui dalam kegiatan Jelajah UMKM dan Pondok Pesantren Jawa Timur 2026 yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur di lahan Kelompok Tani Organik Sirtanio Kabupaten Banyuwangi, Selasa (4/8/2026).
Iqbal menjelaskan, pada tahap hulu, BI Jember memberikan pendampingan berupa penguatan kelembagaan kelompok tani, pelatihan Good Agricultural Practices (GAP) dan budidaya organik, serta pendampingan pencatatan keuangan menggunakan aplikasi SIAPIK agar pelaku usaha lebih mudah mengakses pembiayaan perbankan.
Sementara di sektor hilir, BI memfasilitasi pengembangan pasar melalui promosi, business matching dengan distributor, ritel modern, hotel, restoran hingga pasar ekspor. Pada 2019, Sirtanio difasilitasi melakukan ekspor bersama PT Javara Indonesia dengan volume 2,8 ton senilai Rp52,57 juta. Tahun 2026, BI juga memfasilitasi akses pembiayaan dari BPD Jatim senilai Rp1,2 miliar untuk mendukung pengembangan usaha.
Menurut Iqbal, Sirtanio dipilih sebagai mitra karena memiliki model bisnis yang tidak hanya berorientasi pada penjualan beras, tetapi juga memberdayakan petani melalui sistem kemitraan. Selain itu, kelompok tersebut dinilai memiliki kontinuitas produksi, benih unggulan hasil pengembangan sendiri, manajemen usaha yang matang, serta jaringan pemasaran yang telah menjangkau berbagai daerah.
Pendampingan tersebut memberikan dampak signifikan. Produksi beras organik meningkat dari 80 ton pada 2020 menjadi 344 ton pada 2025, atau tumbuh rata-rata 33,9 persen per tahun. Pendapatan usaha juga naik dari sekitar Rp1,40 miliar menjadi Rp7,10 miliar dalam periode yang sama, dengan rata-rata pertumbuhan 38,4 persen per tahun.
Dari sisi sosial, jumlah petani mitra meningkat dari 46 orang pada 2011 menjadi 349 orang pada 2025, sekaligus membuka lapangan kerja baru di sepanjang rantai pasok. Sementara dari aspek lingkungan, luas lahan pertanian organik berkembang dari 54 hektare menjadi 167 hektare, seiring meningkatnya penggunaan pupuk organik, berkurangnya penggunaan bahan kimia, serta terjaganya kesehatan tanah.
Meski demikian, Iqbal mengakui masih terdapat sejumlah tantangan, antara lain tingginya biaya distribusi karena lokasi petani yang tersebar, keterbatasan fasilitas pascapanen, serta belum meratanya pemahaman petani terhadap budidaya organik. Untuk mengatasi hal tersebut, BI Jember memberikan dukungan berupa kendaraan angkut, Rice Milling Unit (RMU), vacuum sealer, pembangunan gudang penyimpanan, serta pelaksanaan program capacity building bagi petani dan penyuluh.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Banyuwangi, Danang Hartanto, menyatakan pengembangan beras organik menjadi bagian dari strategi daerah dalam membangun pertanian berkelanjutan yang bernilai tambah tinggi.
Menurutnya, pengembangan dilakukan melalui pemetaan potensi lahan, uji kesuburan tanah, pendataan varietas lokal, hingga pendampingan sertifikasi sehingga produk beras organik memiliki daya saing yang semakin kuat di pasar.
Ia menyebutkan, hingga Semester I Tahun 2026, produksi pertanian organik Banyuwangi mencapai 765,15 ton. Capaian tersebut melengkapi kinerja sektor pangan Banyuwangi yang memproduksi 255.257 ton beras pada Januari–Juni 2026, jauh di atas kebutuhan konsumsi masyarakat sebesar 81.252 ton, sehingga mencatat surplus sekitar 174 ribu ton.
Danang berharap kolaborasi antara pemerintah, Bank Indonesia, pelaku usaha, perguruan tinggi, pesantren, dan masyarakat terus diperkuat agar pengembangan pertanian organik semakin meluas. Selain meningkatkan kesejahteraan petani, pengembangan beras organik juga diharapkan mampu memperluas akses pasar nasional maupun ekspor sekaligus menjadikan Banyuwangi sebagai salah satu pusat agribisnis organik yang berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan. (jal)
