Surabaya, 5 Agustus 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Mahasiswa Program Studi S-1 Pendidikan Sendratasik Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mendapat kesempatan mempelajari langsung metode penciptaan tari kontemporer dan teater fisik yang berkembang di Eropa melalui Master Class hasil kolaborasi Unesa bersama Artistique Theatre, Institut Français, dan Pusat Unggulan IPTEK Seni Budaya Majapahitan (PUI-PT SBM).
Kegiatan yang berlangsung pada 3–4 Agustus 2026 di Aula T11.03 Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unesa, Kampus II Lidah Wetah Surabaya itu menjadi ruang belajar lintas budaya yang mempertemukan tradisi seni Indonesia dengan praktik pertunjukan kontemporer dunia.
Lokakarya ini mengajak mahasiswa memahami proses kreatif sebelum sebuah karya lahir. Peserta diajak mengeksplorasi tubuh, ruang, waktu, improvisasi, hingga kerja kolaboratif, pendekatan yang selama ini menjadi fondasi penciptaan karya di berbagai panggung seni internasional.
Master class menghadirkan tiga praktisi Artistique Theatre asal Prancis, yakni penari dan koreografer Indonesia yang telah berkarier hampir dua dekade di Paris, Kadek Puspasari, bersama Lucile Cocito dan Shaula Cambazzu. Ketiganya memperkenalkan pendekatan Artistique Theatre yang memadukan teater, tari, musik, dan audiovisual melalui eksplorasi tubuh serta kolaborasi lintas disiplin.
Kadek Puspasari menjelaskan bahwa proses kreatif dalam tari kontemporer tidak dimulai dari menghafal gerakan, melainkan dari kemampuan membaca tubuh, ruang, dan waktu. Karena itu, mahasiswa didorong membangun keberanian bereksplorasi sebelum menyusun struktur koreografi.
“Lokakarya ini berfokus pada tahapan krusial sebelum sebuah karya tari dan teater dibentuk menjadi struktur koreografi yang utuh. Setiap individu memiliki pendekatan yang berbeda terhadap ruang dan waktu, sehingga kami ingin memperkenalkan metode eksplorasi yang selama ini digunakan para seniman dalam membangun sebuah pertunjukan,” ujarnya.
Selama lokakarya, peserta juga diajak membiarkan tubuh merespons secara alami tanpa dibatasi rasa takut melakukan kesalahan. Melalui eksplorasi bertema “jantung” sebagai denyut fisik dan ritme tubuh, mahasiswa dilatih menemukan bahasa geraknya sendiri sekaligus membangun kepekaan terhadap proses kreatif secara kolektif.
Koordinator Program Studi Pendidikan Sendratasik Unesa, Welly Suryandoko menilai kolaborasi tersebut membuka kesempatan mahasiswa memperluas perspektif berkarya dengan memadukan teknik tari dan teater kontemporer dari Prancis bersama kekayaan tradisi Indonesia.
“Kami berharap mahasiswa mampu mengembangkan praktik artistik secara mandiri dengan menyinergikan teknik tari dan teater khas Prancis bersama kekayaan tradisi Indonesia. Pengalaman seperti ini penting agar mereka siap berkarya sekaligus berdialog dengan ekosistem seni internasional,” katanya.
Senada dengan itu, Kepala Pusat Unggulan IPTEK Seni Budaya Majapahitan (PUI-PT SBM), Trisakti, menilai pertukaran praktik artistik menjadi cara efektif memperkaya kompetensi mahasiswa tanpa meninggalkan identitas budaya lokal. Menurutnya, keterlibatan seniman internasional menghadirkan perspektif baru yang dapat memperkuat kualitas pembelajaran sekaligus memperluas jejaring akademik di bidang seni pertunjukan.
Kolaborasi tersebut sekaligus ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Fakultas Bahasa dan Seni Unesa dan Artistique Theatre. Kerja sama itu membuka peluang pengembangan master class, pertukaran seniman dan akademisi, kolaborasi produksi pertunjukan, serta berbagai program internasional lain yang mendukung peningkatan kompetensi mahasiswa dan internasionalisasi pendidikan seni di Unesa. (her)
