Sidoarjo, 2 September 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Sidoarjo turun langsung membantu penanganan dugaan keracunan massal yang dialami ratusan santri dan santriwati Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.
Hingga Rabu (2/9/2026) sore, sebanyak 516 pasien tercatat telah mendapatkan pelayanan medis di sembilan fasilitas kesehatan.
Koordinator Tagana Kabupaten Sidoarjo, Indri, membenarkan perkembangan data tersebut,
“Tagana terus melakukan pemantauan dan koordinasi bersama unsur terkait. Data pasien masih bersifat sementara dan terus diperbarui sesuai perkembangan di lapangan,” kata Indri.
Dari total 516 pasien, sebanyak 88 orang masih menjalani rawat inap, 427 pasien telah diperbolehkan keluar rumah sakit, sementara satu pasien masih dalam observasi.
Pasien terbanyak tercatat mendapatkan penanganan di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo dengan jumlah 339 orang. Selanjutnya RS Siti Hajar 75 pasien, RSU Aisyiyah Siti Fatimah 47 pasien, RS Delta Surya 20 pasien, RS Pusura 17 pasien, RS Pusdik Bhayangkara 8 pasien, RS Anwar Medika 6 pasien, RS Arafah Anwar Medika 3 pasien, dan RS Assakinah Medika satu pasien.
Tagana Bantu Evakuasi dan Pendataan
Dugaan keracunan mulai diketahui pada Selasa (1/9/2026) sekitar pukul 16.20 WIB. Sejumlah santri dilaporkan mengalami keluhan seperti mual, muntah, sakit perut, dan diare.
Para santri kemudian dievakuasi secara bertahap ke sejumlah fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan perawatan medis. Dalam penanganan tersebut, Tagana Kabupaten Sidoarjo mengerahkan personelnya untuk membantu koordinasi di lapangan.
Personel Tagana melakukan pemantauan dan pendataan awal terhadap korban, membantu proses evakuasi bersama unsur terkait, serta melakukan koordinasi mengenai distribusi dan penanganan pasien di sejumlah rumah sakit.
Tagana juga menyiapkan velbed sebagai sarana pendukung bagi korban yang membutuhkan tempat istirahat maupun observasi sementara.
“Kami membantu sesuai kebutuhan di lapangan dan terus berkoordinasi dengan pengurus pesantren, tenaga medis, pemerintah daerah serta unsur lainnya,” ujar Indri.
Penanganan melibatkan berbagai unsur, di antaranya Dinas Sosial Kabupaten Sidoarjo, pemerintah daerah, TNI/Polri, tenaga kesehatan, pengurus Pondok Pesantren Mambaul Hikam, relawan, serta Tagana Kabupaten Sidoarjo.
Sementara itu, dugaan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikonsumsi para santri disebut berkaitan dengan munculnya keluhan kesehatan. Namun, penyebab pasti kejadian masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Tagana Kabupaten Sidoarjo hingga kini masih melakukan pemantauan perkembangan kondisi para korban dan pembaruan data pasien bersama pihak terkait.(ful)
