Lumajang, 3 September 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Dari desa, pesan tentang kesehatan berhasil menembus panggung nasional. Dua Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) Kabupaten Lumajang meraih penghargaan dalam ajang Genbest 2026 yang mengusung tema “Masyarakat Sehat, Indonesia Kuat”.
KIM Desa Tukum Mandiri meraih Juara 2 Nasional Lomba Artikel Kategori Komunitas melalui karya “TBC Tak Terlihat, Kepedulian Harus Terlihat”. Sementara KIM Desa Kertosari meraih Juara Favorit Nasional Lomba Video Kreatif Kesehatan Kategori Komunitas.
Penghargaan tersebut diserahkan dalam Awarding Genbest 2026 di Lume Coffee & Lounge, Jakarta Selatan, Rabu kemarin (2/9/2026).
Capaian dua KIM tersebut menjadi menarik karena karya yang berangkat dari lingkungan desa mampu bersaing dalam kompetisi berskala nasional. Tidak hanya mengandalkan kreativitas, karya yang dilombakan juga membawa isu kesehatan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.
Kompetisinya pun memiliki skala yang cukup besar. Sekitar 1.600 karya masuk dalam kategori artikel dan sekitar 800 karya pada kategori video. Peserta berasal dari berbagai daerah di Indonesia, baik kategori perorangan maupun komunitas.
Pada kategori komunitas, peserta terdiri atas KIM, PKK dan Posyandu, serta Karang Taruna.
KIM Desa Tukum Mandiri memilih tuberkulosis sebagai isu yang diangkat dalam karya artikelnya. Judul “TBC Tak Terlihat, Kepedulian Harus Terlihat” menyoroti pentingnya kepedulian dan informasi yang benar dalam memahami persoalan TBC di tengah masyarakat.
Dalam keterangannya, Ketua KIM Desa Tukum Mandiri, Muhammad Luqman, mengatakan pemilihan tema tersebut berangkat dari keinginan untuk membuat isu kesehatan terasa lebih dekat dengan masyarakat.
“Kami ingin informasi tentang TBC tidak berhenti sebagai informasi, tetapi bisa membuat orang lebih peduli,” ujar Luqman.
Menurutnya, informasi kesehatan perlu disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami agar masyarakat semakin memiliki kepedulian dan tidak ragu mencari informasi yang tepat maupun berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
“Kalau informasinya dekat dengan kehidupan sehari-hari, masyarakat akan lebih mudah memahami dan meresponsnya,” katanya.
Berbeda dengan Tukum Mandiri yang mengandalkan artikel, KIM Desa Kertosari menyampaikan pesan kesehatan melalui karya video kreatif. Format audiovisual dimanfaatkan untuk membuat pesan lebih komunikatif dan mudah diterima.
Ketua KIM Desa Kertosari, Kofan Muklis, mengatakan penghargaan tersebut menjadi motivasi bagi KIM Kertosari untuk terus membuat konten yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki pesan edukasi.
“Kami ingin membuat konten yang enak dilihat, tetapi pesannya tetap sampai,” kata Kofan.
Menurutnya, pendekatan kreatif memberi ruang bagi informasi kesehatan untuk disampaikan dengan cara yang lebih dekat dengan kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi informasi digital.
“Yang penting bukan hanya videonya menarik, tetapi setelah melihat, masyarakat mendapat sesuatu yang bermanfaat,” ujarnya.
Kualitas karya dalam kompetisi tersebut juga diuji melalui proses penjurian yang melibatkan unsur kesehatan, media, komunikasi, dan industri kreatif.
Kategori artikel dinilai oleh Winne Widiantini, SKM, MKM dari Kementerian Kesehatan, AN Uyung Pramudiarja dari detikHealth, serta dr. Ugiadam Farhan Firmansyah, dokter sekaligus influencer kesehatan.
Sementara kategori video dinilai oleh Satryo Utomo, A.Md. Perfilman dari Kementerian Kesehatan, Mauluddin Anwar sebagai praktisi komunikasi dan media, serta Ajazil Hawaris, digital creative influencer.
Bagi Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Lumajang, Mustaqim, capaian tersebut menunjukkan bahwa masyarakat di tingkat desa memiliki ruang untuk ikut membangun komunikasi publik melalui karya yang kreatif dan relevan dengan kebutuhan warga.
“Ini menunjukkan bahwa dari desa pun bisa lahir karya yang punya pesan kuat dan mampu bersaing di tingkat nasional,” ujar Mustaqim, Kamis (3/9/2026).
Menurutnya, isu kesehatan membutuhkan informasi yang tidak hanya benar, tetapi juga dapat dipahami dan menjangkau masyarakat.
“Pesan yang baik adalah pesan yang sampai kepada masyarakat dan bisa memberi manfaat,” katanya.
Nilai penting dari dua penghargaan tersebut akhirnya tidak berhenti pada posisi juara. Karya yang dihasilkan membawa pesan yang dapat kembali dimanfaatkan masyarakat.
Artikel tentang TBC, misalnya, mengangkat pentingnya kepedulian dan informasi yang tepat. Sementara video kreatif KIM Kertosari menunjukkan bahwa pesan kesehatan dapat dikemas melalui pendekatan visual agar lebih mudah diterima oleh masyarakat.
Capaian tersebut juga menunjukkan bahwa produksi informasi dari desa memiliki peluang untuk berkembang ketika persoalan lokal diolah menjadi konten yang memiliki nilai publik.
Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan menyampaikan pesan kesehatan secara sederhana dan menarik menjadi penting. Masyarakat tidak hanya membutuhkan banyak informasi, tetapi juga membutuhkan informasi yang dapat dipercaya, mudah dipahami, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Genbest 2026 menjadi ruang bagi KIM Desa Tukum Mandiri dan KIM Desa Kertosari untuk membuktikan hal tersebut.
Dari Tukum dan Kertosari, isu kesehatan yang dekat dengan masyarakat diolah menjadi karya yang mampu bersaing di tingkat nasional. Pada akhirnya, penghargaan tersebut bukan hanya menjadi kebanggaan bagi dua komunitas, tetapi juga menunjukkan bahwa desa mampu menjadi sumber informasi publik yang edukatif dan berkualitas. (MC Diskominfo Kab. Lumajang)
