More
    BerandaEkonomiSektor Nonmigas Bojonegoro Tunjukkan Pertumbuhan Positif pada Triwulan II 2026

    Sektor Nonmigas Bojonegoro Tunjukkan Pertumbuhan Positif pada Triwulan II 2026

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Bojonegoro, 8 September 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Perekonomian Kabupaten Bojonegoro tetap menunjukkan kinerja positif pada sejumlah sektor, terutama di luar sektor pertambangan minyak dan gas bumi (migas).

    Di tengah dinamika produksi migas, aktivitas ekonomi nonmigas Bojonegoro masih tumbuh sebesar 5,86 persen secara year on year (YoY) pada Triwulan II 2026.

    Kepala BPS Kabupaten Bojonegoro, Syawaluddin Siregar, menjelaskan bahwa struktur perekonomian Bojonegoro memiliki karakteristik yang berbeda dengan kabupaten/kota lainnya di Jawa Timur.

    Sektor pertambangan, khususnya migas, memberikan kontribusi sekitar 46 persen terhadap struktur perekonomian daerah.

    Besarnya kontribusi tersebut membuat perubahan kinerja migas memberikan pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

    Pada Triwulan II 2026, sektor pertambangan mengalami kontraksi sehingga turut memengaruhi angka pertumbuhan ekonomi Bojonegoro.

    “Kalau migas kita keluarkan, sebenarnya kita masih tumbuh 5,86 persen,” ucap Syawal.

    Secara kumulatif atau C-to-C, pertumbuhan ekonomi Bojonegoro dengan memperhitungkan sektor migas tercatat mengalami kontraksi sebesar 1,82 persen. Sementara secara YoY, pertumbuhan ekonomi pada Triwulan II 2026 mengalami kontraksi sebesar 3,66 persen.

    Kondisi tersebut terutama dipengaruhi penurunan pada sektor pertambangan akibat penurunan lifting, sementara sektor-sektor nonmigas lainnya secara umum masih menunjukkan pertumbuhan positif.

    Menurut Syawaluddin, kondisi tersebut perlu dilihat berdasarkan struktur ekonomi daerah. Dengan kontribusi migas yang mencapai sekitar 46 persen, perubahan produksi dan lifting migas dapat memberikan dampak cukup besar terhadap angka pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

    “Migas di Bojonegoro sekitar 46 persen. Jadi ketika pertumbuhan migas turun, dampaknya terhadap pertumbuhan total juga cukup besar,” imbuhnya.

    Selain migas, sektor pertanian turut memengaruhi pertumbuhan ekonomi apabila dilihat secara quarter on quarter (QoQ), yaitu perbandingan Triwulan II 2026 dengan Triwulan I 2026.

    Syawal menerangkan, sektor pertanian memiliki pola musiman. Panen raya di Bojonegoro tahun 2026 ini umumnya terjadi pada Triwulan I, sehingga produksi pertanian cenderung menurun ketika memasuki Triwulan II setelah periode panen raya berakhir.

    “Pertanian itu ada pola musimannya. Panen raya biasanya di Triwulan I, sehingga ketika masuk Triwulan II memang mengalami kontraksi,” terangnya.

    Di sisi lain, sejumlah lapangan usaha nonmigas tetap menunjukkan pertumbuhan positif. Perdagangan menjadi salah satu sektor yang masih tumbuh dan turut menopang aktivitas ekonomi daerah.

    Walaupun pertumbuhan ekonomi pada Triwulan II secara YoY mengalami kontraksi sebesar 3,66 persen, Bojonegoro tetap menjadi salah satu dari 10 besar kabupaten/kota sebagai penggerak perekonomian Provinsi Jawa Timur, dengan kontribusi sebesar 3,22 persen.

    Syawal menegaskan, angka pertumbuhan ekonomi perlu dilihat secara utuh dengan memperhatikan struktur dan perkembangan masing-masing lapangan usaha.

    Kontraksi pertumbuhan ekonomi secara total tidak serta-merta berarti seluruh sektor perekonomian mengalami penurunan.

    Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya penguatan sektor-sektor nonmigas untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Bojonegoro. Dengan potensi pada sektor pertanian, perdagangan, industri pengolahan, dan jasa kesehatan, perekonomian daerah memiliki sumber pertumbuhan lain di luar sektor migas.(exo)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru