Lumajang, 22 September 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Lumajang mengalami perubahan dari bulan ke bulan sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Setelah mencapai angka tertinggi pada April sebanyak 5.126 kasus, jumlah kasus pada bulan-bulan berikutnya tercatat berada di bawah angka tersebut.
Data Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Lumajang menunjukkan berturut turut jumlah kasus ISPA pada bulan Mei adalah 4.819 kasus, 4.681 kasus pada Juni, 4.821 kasus pada Juli, dan 4.533 kasus pada Agustus.
Perubahan tersebut menjadi bagian dari pemantauan rutin kesehatan masyarakat melalui sistem surveilans. Bagi Dinas Kesehatan, yang utama adalah bukan hanya angka jumlah kasus pada satu bulan, tetapi membaca kecenderungan kasus dari waktu ke waktu.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Lumajang, dr. Marshall Trihandono, mengatakan perubahan jumlah kasus perlu terus dipantau untuk memperoleh gambaran perkembangan penyakit di masyarakat.
“Kalau kita melihat datanya, kasus ISPA memang mengalami fluktuasi setiap bulan. Temuan kasus di April adalah puncaknya, angkanya temuan kasus ISPA di Bulan Mei hingga agustus masih di bawah angka 5.000. Namun, kami tetap melakukan pemantauan karena yang utama bukan hanya melihat angka temuan dalam satu bulan, tetapi bagaimana perkembangannya dari waktu ke waktu,” kata Marshall, Selasa (22/9/2026).
Menurutnya, pemantauan melalui surveilans penyakit menggambarkan pola persebaran penyakit yang terjadi di lapangan. Data yang dilaporkan secara rutin dari fasilitas pelayanan kesehatan menjadi bahan analisa untuk melihat perubahan yang perlu mendapat perhatian.
“Surveilans ini penting untuk melihat pola penyakit di lapangan. Dengan pelaporan rutin, kami bisa mengetahui apabila ada perubahan yang perlu menjadi perhatian dan kemudian melakukan respons sesuai kondisi yang ditemukan,” ujarnya.
Data Januari hingga Agustus 2026 juga menunjukkan bahwa angka kasus tidak terus bergerak dalam satu arah. Setelah mencapai 5.126 kasus pada April, jumlahnya turun pada Mei dan Juni, sempat meningkat kembali pada Juli, kemudian turun lagi pada Agustus.
Pola tersebut menjadi alasan pentingnya pemantauan yang dilakukan secara berkelanjutan. Ketika terjadi perubahan kasus, data yang terkumpul dapat menjadi bahan bagi tenaga kesehatan untuk menentukan langkah yang diperlukan sesuai perkembangan.
Di sisi masyarakat, upaya menjaga kesehatan tetap menjadi bagian penting dalam menghadapi penyakit saluran pernapasan. Dinas Kesehatan mengimbau warga untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menjaga kebersihan diri maupun lingkungan, serta menerapkan etika batuk dan bersin.
“Masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap menjaga kewaspadaan. Biasakan perilaku hidup bersih dan sehat, menjaga kebersihan lingkungan, serta menerapkan etika batuk dan bersin. Jika muncul keluhan yang menetap atau kondisi semakin berat, sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan,” pungkas Marshall.
Pemantauan kasus melalui surveilans dan kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan menjadi dua bagian yang saling melengkapi. Pemerintah membutuhkan data untuk membaca perkembangan penyakit, sementara masyarakat memiliki peran melalui kebiasaan hidup sehat dan kesadaran memanfaatkan layanan kesehatan ketika membutuhkan pemeriksaan.
Dengan pemantauan yang terus berjalan, perkembangan kasus ISPA di Lumajang dapat dibaca secara berkala sehingga langkah kesehatan masyarakat dapat disesuaikan dengan kondisi yang ditemukan di lapangan. (Kominfo-lmj)
