More
    BerandaUncategorizedDinkes Lumajang Pantau Kasus Pneumonia Balita, Agustus Tercatat 192 Kasus

    Dinkes Lumajang Pantau Kasus Pneumonia Balita, Agustus Tercatat 192 Kasus

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Lumajang, 22 September 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Anak usia 0–5 tahun (balita) menjadi salah satu kelompok yang mendapat perhatian dalam pemantauan kasus pneumonia di Kabupaten Lumajang. Pneumonia merupakan salah kategori penyakit ISPA. Data Januari hingga Agustus 2026 menunjukkan, pada Agustus terdapat 192 kasus pneumonia pada kelompok usia tersebut dari total 435 kasus yang tercatat.

    Angka tersebut menjadi bagian dari pemantauan rutin Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Lumajang karena dapat digunakan untuk memantau perkembangan penyakit sekaligus memperkuat perhatian terhadap kelompok usia yang membutuhkan kewaspadaan lebih.

    Karena itu, angka 192 kasus pneumonia pada golongan anak di bulan Agustus perlu dipahami sebagai data pemantauan kesehatan pada periode tertentu, bukan alasan bagi masyarakat untuk panik. Justru, informasi tersebut dapat menjadi pengingat agar keluarga lebih peka terhadap kondisi kesehatan anak.

    Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Lumajang, dr. Marshall Trihandono, mengatakan pembacaan data temuan kasus pneumonia perlu memperhatikan karakteristik kelompok usia.

    “Untuk kasus ISPA, kelompok usia 19–59 tahun (usia dewasa) tercatat cukup tinggi. Sementara pada pneumonia, kelompok usia 0–5 tahun (balita) menjadi perhatian karena kasus pada kelompok ini tercatat cukup tinggi dalam pemantauan,” ujar Marshall, Selasa (21/9/2026).

    Hal terpenting bagi keluarga yang memiliki balita dengan pneumonia adalah mengenali perubahan kondisi anak dan mengetahui kapan anak membutuhkan pemeriksaan tenaga kesehatan.

    Marshall mengimbau agar orang tua tidak menunda pemeriksaan apabila anak menunjukkan tanda-tanda yang mengkhawatirkan, terutama gejala kesulitan bernafas pada balita yang beresiko menjadi tanda kondisi anak semakin memburuk.

    “Jika anak menunjukkan tanda-tanda kesulitan bernafas atau kondisinya semakin memburuk, jangan menunda untuk mendapatkan pemeriksaan. Segera manfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan agar kondisi anak dapat dinilai dan ditangani sesuai kebutuhannya,” katanya.

    Beberapa kondisi yang perlu menjadi perhatian orang tua antara lain napas cepat atau kesulitan bernapas, demam tinggi yang tidak kunjung membaik, anak tampak lemas, serta berkurangnya keinginan untuk makan atau minum.

    Tanda-tanda tersebut tidak serta merta menjadi dasar diagnosis mandiri. Namun, perubahan kondisi yang mengkhawatirkan dapat menjadi alasan bagi orang tua untuk segera membawa anak ke fasilitas pelayanan kesehatan agar mendapatkan pemeriksaan.

    Selain memperhatikan kondisi anak, keluarga juga memiliki peran dalam menjaga kesehatan sehari-hari. Perilaku hidup bersih dan sehat, kebersihan lingkungan, pemenuhan kebutuhan gizi, serta menghindarkan anak dari paparan asap rokok menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan saluran pernapasan.

    Dengan pemantauan yang berjalan dan keterlibatan keluarga, upaya menjaga kesehatan anak dapat dilakukan lebih dini. Pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan menjadi langkah penting ketika kondisi anak membutuhkan penilaian dan penanganan lebih lanjut. (Kominfo-lmj)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru