Surabaya, 22 September 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Nama Ipda Purnomo atau yang akrab disapa Pak Pur sudah tidak asing bagi publik. Polisi asal Lamongan yang dikenal luas sebagai “Polisi Baik” atas dedikasinya merawat orang dengan gangguan jiwa atau ODGJ dan kelompok rentan ini, kini resmi menempuh studi Magister Psikologi di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Langkah tersebut ia tempuh sebagai ikhtiar untuk memperkuat kapasitas diri dan legitimasi keilmuan dalam memberikan pendampingan psikologis bagi ratusan penerima manfaat di tempat tinggalnya.
Aktivitas akademiknya di Unesa kini berjalan beriringan dengan tugas kepolisian serta tanggung jawabnya mengelola Yayasan Berkas Bersinar Abadi di Desa Nguwok, Kecamatan Modo, Lamongan. Yayasan ini menjadi perlindungan aman bagi ODGJ, lansia terlantar, anak jalanan, hingga penyintas penyalahgunaan narkoba.
Di sela-sela aktivitas studinya pada Senin, 21 September 2026, Pak Pur menceritakan di balik semangat studinya tersebut. Selain karena menuntut ilmu dan terus belajar itu wajib, juga karena tuntutan di lapangan.
Selama hampir satu dekade, ia telah merawat hampir 500 ODGJ. Sebagian besar pendekatan kemanusiaan yang ia terapkan selama ini diperoleh secara otodidak dan pengalaman intuitif.
“Manusia itu wajib menuntut ilmu sampai kapan pun. Setiap hari saya bertemu dengan orang-orang yang membutuhkan tempat curhat dan konseling.
Selama ini saya mendapatkan ilmu secara otodidak, sehingga saya merasa harus memiliki dasar ilmu Psikologi yang kuat dan teruji,” ujar polisi yang juga aktif mengedukasi masyarakat melalui kanal YouTube berkeanggotaan 2,7 juta subscriber tersebut.
Ia menambahkan, ada empat klaster layanan di yayasannya, yaitu klaster ODGJ, lansia, anak terlantar, serta rehabilitasi narkoba yang membutuhkan penanganan yang semakin profesional dan berbasis keilmuan psikologi modern.
“Harapan saya, setelah mendapatkan ilmu di sini semakin bermanfaat dampak pengabdian kami bagi masyarakat. Ilmu ini nantinya wajib saya tularkan kepada tim pendamping dan masyarakat,” tegasnya.
Meski harus membagi waktu antara tugas sebagai anggota kepolisian, pengelola yayasan, dan mahasiswa, Pak Pur mengaku telah mengantongi izin dari pimpinan serta dukungan penuh dari timnya.
Bahkan, demi meningkatkan standar pelayanan sosial di daerahnya, ia juga mengajak sang istri berkuliah di Unesa dan berencana mendorong 30 anggota tim yayasannya untuk turut mempelajari ilmu Psikologi. Bagi Ipda Purnomo, pendidikan bukanlah soal gelar, melainkan investasi kemanusiaan agar proses merawat dan memanusiakan kelompok rentan dapat dilakukan secara lebih bermakna dan profesional.(her)
