Surabaya, 25 Juli 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Setiap peristiwa sosial selalu menyisakan dua pilihan. Pilihan pertama adalah menjadikannya sekadar berita yang ramai dibicarakan, lalu perlahan dilupakan. Pilihan kedua adalah menjadikannya cermin untuk melihat diri sendiri. Saya memilih yang kedua.
Kasus HIV yang ramai diperbincangkan di Sidoarjo bukanlah sekadar persoalan angka. Boleh jadi data yang beredar telah diklarifikasi, boleh jadi terjadi perbedaan pemahaman mengenai definisi dan cakupan data. Namun, bagi saya, persoalan yang sesungguhnya bukanlah pada jumlahnya, melainkan pada kenyataan bahwa ada anak-anak dan remaja yang hidup dalam kondisi yang membuat mereka rentan terhadap HIV.
Di sinilah saya memulai apa yang saya sebut sebagai Metode Analisis Isa Ansori. Analisis tidak berhenti pada pertanyaan apa yang terjadi, tetapi bergerak kepada pertanyaan yang jauh lebih mendasar, mengapa itu bisa terjadi?
Bagi saya, setiap persoalan sosial harus dijawab dengan pertanyaan yang benar. Sebab, jawaban yang baik selalu lahir dari pertanyaan yang baik.
Mengapa anak-anak kita semakin rentan?
Mengapa rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru kehilangan ruang percakapan?
Mengapa anak lebih percaya kepada media sosial daripada kepada orang tuanya?
Mengapa sekolah begitu berhasil mencetak nilai akademik, tetapi belum tentu berhasil membangun ketahanan karakter?
Mengapa masyarakat lebih cepat menghakimi daripada mendampingi?
Dan mengapa pemerintah sering kali lebih sibuk mengobati akibat daripada mencegah penyebab?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak saya ajukan untuk mencari siapa yang harus disalahkan. Saya mengajukannya karena saya percaya bahwa tidak ada persoalan sosial yang lahir dalam ruang kosong. Selalu ada mata rantai yang saling berhubungan.
Kita sedang hidup di tengah perubahan sosial yang sangat cepat. Revolusi digital telah mengubah cara anak belajar, bergaul, membangun identitas, bahkan memahami dirinya sendiri. Dunia yang dahulu menjadi milik orang dewasa kini dapat diakses oleh anak-anak hanya melalui sebuah telepon genggam.
Teknologi adalah kemajuan. Namun, ketika kemajuan teknologi tidak diimbangi oleh kemajuan karakter, maka teknologi dapat berubah menjadi ruang yang memperbesar kerentanan.
Di sisi lain, keluarga juga sedang menghadapi tantangan baru. Banyak orang tua bekerja lebih keras demi memenuhi kebutuhan ekonomi. Itu adalah pengorbanan yang mulia. Namun, tanpa disadari, waktu bersama anak semakin sedikit. Percakapan digantikan oleh pesan singkat. Kehangatan digantikan oleh layar. Anak memiliki fasilitas yang lebih banyak, tetapi belum tentu memiliki tempat untuk bercerita.
Ketika rumah kehilangan dialog, anak akan mencari jawaban di luar rumah.
Sekolah pun menghadapi tantangan yang tidak ringan. Selama bertahun-tahun kita mengukur keberhasilan pendidikan melalui angka, nilai ujian, dan prestasi akademik. Semua itu penting. Namun, kehidupan tidak hanya menguji kemampuan berhitung atau menghafal. Kehidupan juga menguji kemampuan mengendalikan diri, mengambil keputusan yang benar, menghadapi tekanan teman sebaya, menghargai tubuh dan martabat diri, serta berani berkata “tidak” terhadap ajakan yang membahayakan.
Bukankah pendidikan sejatinya mempersiapkan manusia untuk hidup, bukan hanya untuk lulus ujian?
Lalu bagaimana dengan masyarakat?
Kita hidup dalam lingkungan yang semakin individual. Dulu, tetangga mengenal anak-anak di kampungnya. Hari ini, banyak orang bahkan tidak mengenal siapa yang tinggal di sebelah rumahnya. Pengawasan sosial yang dahulu menjadi kekuatan masyarakat perlahan memudar.
Akibatnya, anak-anak tumbuh dengan ruang kebebasan yang semakin luas, tetapi dengan pendampingan yang semakin sempit.
Karena itu, saya berpendapat bahwa persoalan HIV pada remaja tidak cukup dipahami sebagai persoalan kesehatan. Ia adalah indikator tentang kualitas keluarga, kualitas pendidikan, kualitas lingkungan sosial, dan kualitas kebijakan publik.
Kalau demikian, apakah solusinya cukup dengan menambah rumah sakit? Tentu tidak.
Apakah cukup dengan memperbanyak penyuluhan? Belum tentu.
Yang kita perlukan adalah membangun kembali ekosistem perlindungan anak.
Rumah harus kembali menjadi tempat yang paling nyaman untuk berdialog.
Sekolah harus menjadi tempat yang membahagiakan, bukan sekadar tempat belajar.
Masyarakat harus kembali menjadi ruang kepedulian, bukan sekadar ruang tempat tinggal.
Pemerintah harus memimpin gerakan pencegahan yang melibatkan semua unsur masyarakat.
Tokoh agama harus menguatkan nilai-nilai moral tanpa menumbuhkan stigma.
Media harus menjadi mitra pendidikan publik, bukan sekadar pemburu sensasi.
Inilah yang saya sebut sebagai gerakan bersama. Sebab, persoalan yang lahir dari banyak sebab tidak mungkin diselesaikan oleh satu lembaga saja.
Surabaya memiliki modal sosial yang sangat besar. Pemerintah kota yang aktif, sekolah yang banyak, perguruan tinggi yang kuat, organisasi masyarakat yang hidup, tokoh agama yang berpengaruh, serta budaya gotong royong yang masih terpelihara. Semua modal itu harus dipertemukan dalam satu visi, yaitu melindungi generasi muda.
Saya membayangkan sebuah gerakan besar: “Surabaya Melindungi Generasi.” Sebuah gerakan yang tidak dimulai ketika masalah sudah membesar, tetapi ketika gejala-gejala kecil mulai terlihat. Gerakan yang menghubungkan keluarga, sekolah, masyarakat, tenaga kesehatan, akademisi, media, organisasi kemasyarakatan, dan pemerintah dalam satu langkah yang sama.
Karena sesungguhnya, ukuran keberhasilan sebuah kota bukanlah seberapa banyak gedung yang dibangun atau seberapa tinggi pertumbuhan ekonominya. Ukuran keberhasilannya adalah apakah anak-anaknya tumbuh dengan sehat, memiliki harapan, merasa dicintai, dan memperoleh ruang yang aman untuk berkembang.
Peristiwa di Sidoarjo hendaknya tidak berhenti menjadi berita. Ia harus menjadi pelajaran. Bukan untuk menakut-nakuti masyarakat, melainkan untuk membangunkan kesadaran bahwa melindungi anak adalah tanggung jawab bersama.
Sebab pada akhirnya, setiap anak yang kehilangan arah bukan sedang meminta kita untuk menghakiminya. Mereka sedang meminta kita untuk lebih hadir dalam hidup mereka.
Dan sebuah peradaban akan dikenang bukan karena kemegahan kotanya, melainkan karena keberhasilannya menjaga generasi yang akan mewarisi masa depannya.
Surabaya, 25 Juli 2026
M. Isa Ansori
Kolumnis dan pengajar psikologi komunikasi, pegiat transaksional analisis, DPP Koalisi Pegiat Pendidikan Ramah Anak Indonesia, Dewan Penasehat LHKP PD Muhammadiyah Surabaya dan Wakil Ketua ICMI Jatim bidang pendidikan, kesehatan dan limgkungan
