Lumajang, 22 Juli 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Upaya memperkuat ketahanan pangan dapat dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten. Hal itu ditunjukkan Sekretaris Desa (Sekdes) Pundungsari, Kecamatan Tempursari, Abdul Rohman, yang berhasil mengubah lahan kurang terawat menjadi kebun cabai produktif sekaligus menjadi sarana edukasi bagi masyarakat.
Di tengah kesibukannya memberikan pelayanan kepada masyarakat, Abdul Rohman tetap meluangkan waktu merawat kebun setiap pagi sebelum berangkat ke balai desa, kemudian melanjutkan perawatan sepulang kerja hingga sore hari serta pada akhir pekan. Baginya, menjadi aparatur desa juga berarti memberikan teladan melalui aksi nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Motivasi awalnya adalah untuk mencari penghasilan tambahan sekaligus memanfaatkan lahan kebun yang dulunya kurang terawat. Alhamdulillah, sekarang juga bisa menjadi tempat belajar bagi warga,” ujarnya, Rabu (22/7/2026).
Kebun yang berada di Dusun Sukosari, jalur Danglo, memiliki luas sekitar 3.000 meter persegi. Dari luasan tersebut, sekitar 1.200 meter persegi dimanfaatkan untuk membudidayakan 750 batang cabai rawit hijau varietas Rajo. Budidaya dilakukan secara intensif menggunakan mulsa plastik, pemupukan berimbang, serta perawatan rutin melalui penyemprotan insektisida dan fungisida. Sementara kebutuhan air dipenuhi dengan sistem pengairan manual menggunakan metode kocor.
Saat memasuki masa panen, kebun tersebut mampu menghasilkan sekitar 30 kilogram cabai rawit hijau setiap pekan. Hasil panen dipasarkan ke sejumlah warung makan di sekitar Desa Pundungsari sehingga turut mendukung ketersediaan pasokan cabai segar bagi pelaku usaha kuliner lokal.
Prospek usaha budidaya cabai juga dinilai masih menjanjikan. Berdasarkan data Harga Komoditas Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Lumajang per 22 Juli 2026, harga cabai rawit hijau di tingkat petani mencapai Rp26.000 per kilogram, sedangkan harga di tingkat pasar sebesar Rp37.000 per kilogram. Kondisi tersebut menunjukkan komoditas cabai masih memiliki peluang ekonomi yang baik apabila dikelola secara optimal.
Tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, kebun cabai milik Abdul Rohman kini berkembang menjadi ruang belajar bagi masyarakat. Sejumlah warga, termasuk Bonari, rutin datang untuk mempelajari teknik budidaya mulai dari pengolahan lahan, pemupukan, hingga perawatan tanaman. Bahkan, beberapa warga telah mulai mengembangkan budidaya cabai di lahan masing-masing sebagai langkah awal memperkuat kemandirian pangan keluarga.
“Saya berharap semakin banyak warga yang berani mencoba menanam cabai. Kalau ilmunya sudah dipahami bersama, saya optimistis budidaya cabai bisa berkembang dan menjadi salah satu penguat ketahanan pangan di Desa Pundungsari,” katanya.
Menurut Abdul Rohman, pengalaman tersebut dapat menjadi fondasi bagi pengembangan program ketahanan pangan berbasis hortikultura di tingkat desa. Melalui peningkatan kapasitas masyarakat dalam budidaya cabai, diharapkan Desa Pundungsari mampu memperkuat kemandirian pangan sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan warga.
Keteladanan yang ditunjukkan Abdul Rohman menjadi bukti bahwa pembangunan desa tidak hanya diwujudkan melalui kebijakan, tetapi juga melalui aksi nyata yang mampu menginspirasi dan menggerakkan masyarakat. Dari sebuah kebun cabai sederhana tumbuh semangat belajar, peluang ekonomi, serta harapan baru untuk mewujudkan ketahanan pangan Desa Pundungsari yang berkelanjutan. (MC Diskominfo Kab. Lumajang)
