Surabaya 22 April 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Langkah strategis dalam memperkuat ekosistem perikanan berkelanjutan kembali ditunjukkan oleh Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR). Bekerja sama dengan Institut Akuakultur University of Stirling dan Politeknik AUP Jakarta, FPK sukses menghelat lokakarya internasional bertajuk Asian Fish Welfare Network Project-Improving Farmed Fish Welfare in Asia pada Selasa (21/4/2026) di Gedung FPK, Kampus MERR-C.
Mengangkat esensi Fish Welfare for Farmer Welfare, acara ini menghadirkan dua pembicara dari University of Stirling, Prof Dave Little dan Dr Simao Zacarias. Keduanya mengajak para peneliti dan pemangku kepentingan akuakultur di Indonesia untuk berkolaborasi.
Pendekatan One Welfare
Sesi pemaparan materi diawali dengan diskusi interaktif menggunakan platform Mentimeter untuk memantik pandangan peserta terkait apakah ikan bisa merasakan penderitaan. Menjawab hal tersebut, Dr Simao Zacarias menegaskan bahwa kesejahteraan hewan pada dasarnya adalah sebuah sains. “Terdapat publikasi riset yang mendemonstrasikan bahwa ikan memiliki kapasitas sentience. Sehingga mereka dapat merasakan sakit dan penderitaan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Simao memaparkan bahwa penilaian kesejahteraan ikan didasarkan pada empat domain utama. Meliputi nutrisi, lingkungan, kesehatan, dan perilaku. Kesejahteraan ini tidak berdiri sendiri, melainkan terikat dalam pendekatan One Welfare. “Pendekatan One Welfare melihat interkoneksi antara kesejahteraan hewan, kesejahteraan manusia seperti staf peternak, dan lingkungan hidup,” tambahnya.
Dukungan Penuh Riset Internasional
Sementara itu, Prof. Dave Little menyoroti tantangan terbesar dalam mempromosikan isu kesejahteraan ikan yaitu bias persepsi manusia terhadap hewan akuatik. “Kita terbiasa melihat rasa sakit pada hewan berdarah panas yang matanya besar seperti anjing, kucing, atau sapi. Namun, untuk hewan akuatik, banyak orang menganggap mereka adalah bentuk kehidupan lebih rendah yang tidak merasakan sakit,” papar Prof Dave. Karena itulah para peserta juga sepakat menggunakan istilah yang lebih tepat yaitu ‘kesejahteraan’ atau welfare.
Mengupas sejarah proyek yang didukung oleh organisasi dari Amerika Serikat ini, Prof Dave menjelaskan bahwa fase pertama telah sukses berjalan di Thailand dan Vietnam sejak 2022. Memasuki fase kedua, proyek ini memperluas jaringannya ke Indonesia. “Kami hadir di sini karena populasi ikan budidaya di Indonesia jauh lebih besar dibandingkan Thailand dan Vietnam. Secara statistik, Indonesia adalah produsen akuakultur terbesar kedua di dunia setelah China,” tegasnya.
Proyek fase kedua ini rencananya akan berjalan hingga Juli 2028. Fokus utama proyek tidak hanya membidik perbaikan kesejahteraan di tahap pemeliharaan, tetapi mencakup seluruh rantai nilai. Mulai dari fasilitas, hingga ke pasar yang kerap menampung ikan hidup.
“Kami akan mendanai proyek-proyek riset inovatif. Untuk kolaborasi internasional, tersedia skema pendanaan antara 6 hingga 12 bulan dengan nilai mencapai £75.000,” ungkapnya. Tidak hanya pendanaan riset, proyek ini juga menyediakan beasiswa jenjang Master (MSc) di Institute of Aquaculture, University of Stirling secara penuh.
Pertemuan tersebut harapannya bisa menjadi batu loncatan penting bagi sektor perikanan budidaya di Indonesia. Sehingga tidak hanya mengejar target produksi, namun juga menaruh perhatian besar pada keberlanjutan dan standar animal welfare bertaraf global. (rin)
