Surabaya 7 Mei 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memperkuat transformasi digital melalui pengembangan Surabaya Intelligent Transport System (SITS) dan integrasi layanan publik berbasis teknologi. Langkah tersebut menjadi fondasi utama dalam mewujudkan Surabaya sebagai smart city yang mengedepankan pelayanan cepat, aman, nyaman, dan terintegrasi bagi masyarakat.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, mengatakan transformasi digital dilakukan untuk menjawab kebutuhan masyarakat perkotaan yang terus berkembang.
“Kalau dulu Surabaya dikenal sebagai Kota Pahlawan, hari ini Surabaya harus mampu menjadi smart city yang memberikan kenyamanan dan kemudahan bagi warganya,” kata Wali Kota Eri, Kamis (7/5/2026).
Salah satu inovasi utama yang kini menjadi fondasi smart city Surabaya adalah penerapan SITS. Sistem tersebut memungkinkan pemantauan lalu lintas secara real time melalui lebih dari 1.000 titik CCTV yang tersebar di berbagai ruas jalan. Teknologi itu membantu Pemkot Surabaya merespons kepadatan lalu lintas maupun insiden di jalan secara lebih cepat dan akurat.
Menurut Wali Kota Eri, penguatan sistem transportasi juga dilakukan melalui optimalisasi Terminal Intermoda Joyoboyo (TIJ) sebagai pusat mobilitas terpadu yang menghubungkan kendaraan pribadi dengan transportasi publik.
Dari TIJ, masyarakat dapat langsung terhubung ke berbagai moda transportasi, termasuk akses bawah tanah menuju Kebun Binatang Surabaya (KBS). Seluruh parkir kendaraan dipusatkan di terminal tersebut guna mengurangi kepadatan di kawasan wisata.
“Tak hanya menjadi simpul transportasi, kawasan ini juga dilengkapi taman lalu lintas sebagai ruang edukasi interaktif bagi anak-anak,” ujarnya.
Penerapan SITS tidak hanya membantu pengawasan lalu lintas secara real time, tetapi juga mendukung integrasi sistem transportasi publik di Surabaya. Melalui pemantauan arus kendaraan dan pengaturan mobilitas yang lebih efektif, layanan transportasi umum menjadi lebih terukur, aman, dan nyaman bagi masyarakat.
Dampaknya, minat warga menggunakan transportasi umum terus meningkat dalam tiga tahun terakhir. Data Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya mencatat jumlah penumpang transportasi umum pada 2023 mencapai 1,9 juta penumpang, kemudian meningkat menjadi 3,5 juta penumpang pada 2024, dan melonjak hingga 7 juta penumpang pada 2025.
Sementara hingga Maret 2026, jumlah pengguna transportasi umum telah mencapai 1,8 juta orang atau rata-rata sekitar 600 ribu penumpang per bulan. Secara kumulatif, total pengguna transportasi umum Surabaya sepanjang 2018 hingga 2025 tercatat lebih dari 17,3 juta penumpang.
Peningkatan tersebut juga didukung integrasi layanan antara Suroboyo Bus dan feeder Wira-Wiri, sistem pembayaran non-tunai, hingga aplikasi digital “Gobis” yang memudahkan masyarakat mengakses informasi transportasi secara real time. Kehadiran sistem transportasi yang terintegrasi dan nyaman itu perlahan mengubah kebiasaan masyarakat dari penggunaan kendaraan pribadi menuju transportasi umum.
“Kalau ingin masyarakat mau beralih ke transportasi umum, maka transportasi itu harus nyaman terlebih dahulu,” tuturnya.
Transformasi digital Surabaya juga tidak hanya berfokus pada sistem transportasi dan layanan publik, tetapi turut menyentuh penataan kawasan kota. Salah satunya melalui revitalisasi kawasan Kota Lama yang kini dikembangkan dengan konsep heritage modern berbasis kenyamanan dan integrasi kawasan.
“Pemkot Surabaya melakukan penataan menyeluruh, termasuk memindahkan kabel utilitas ke bawah tanah untuk menciptakan lanskap kota yang lebih rapi, aman, dan nyaman bagi masyarakat maupun wisatawan,” terangnya.
Ke depan, kawasan Kota Lama akan terhubung dengan kawasan Pecinan dan Kampung Arab untuk membentuk koridor wisata sejarah terintegrasi. Penataan tersebut menjadi bagian dari upaya Pemkot Surabaya menghadirkan kawasan perkotaan yang tidak hanya modern dan berbasis teknologi, tetapi juga tetap menjaga identitas sejarah dan budaya kota.
Atas berbagai inovasi tersebut, Surabaya meraih penghargaan National Governance Award 2026 dalam kategori pelayanan publik terintegrasi. Penghargaan itu memperkuat posisi Surabaya sebagai salah satu barometer tata kelola pemerintahan berbasis digital di Indonesia.
“Smart city bukan hanya soal teknologi, tetapi bagaimana menghadirkan pelayanan publik yang cepat dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” tegas dia.
Transformasi digital yang dibangun Pemkot Surabaya juga diperluas hingga ke tingkat pelayanan masyarakat. Tak hanya di sektor transportasi dan penataan kota, digitalisasi kini diterapkan langsung di lingkungan warga melalui program satu ASN satu RW.
“Melalui program tersebut, pelayanan publik dilakukan lebih dekat dengan masyarakat dengan dukungan sistem digital terintegrasi. Warga tidak lagi harus bergantung pada pelayanan administratif yang berjenjang karena berbagai kebutuhan kini dapat diproses lebih cepat, mudah, dan transparan hingga tingkat lingkungan terkecil,” jelasnya.
Ketua RT 2 Perak Barat, Boni Wikantono, mengatakan digitalisasi sangat membantu percepatan administrasi dan pelaporan di lingkungan warga melalui aplikasi Sayang Warga.
“Mulai dari kerja bakti, kegiatan warga, sampai administrasi dan pelaporan semua bisa dipantau melalui aplikasi Sayang Warga. Warga juga bisa langsung mengaksesnya, jadi koordinasi jauh lebih mudah dan cepat,” kata Boni.
Menurut dia, sistem digital juga mempermudah proses verifikasi berbagai kebutuhan administrasi warga tanpa harus dilakukan secara manual.
“Bagi warga yang punya kesibukan tinggi tentu sangat membantu. Verifikasi permohonan sekarang bisa dilakukan lebih praktis dan transparan,” ujarnya.
Terpisah, warga Surabaya, Ella, menilai penerapan konsep smart city di Surabaya mulai dirasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
“Program-programnya sangat terasa manfaatnya. Kota jadi lebih tertata, lebih bersih, dan pelayanan juga lebih cepat. Pemkot Surabaya sekarang bisa memantau kondisi kota secara langsung sehingga persoalan lebih cepat ditangani,” tandasnya.(bri)
