Surabaya 03 Juni 2025 | Draft Rakyat Newsroom – Jurnal ilmiah bukan sekadar wadah publikasi akademik, melainkan etalase reputasi intelektual dan kredibilitas institusi di mata dunia. Tak mengherankan, Journal Orthopaedi and Traumatology Surabaya (JOINTS) telah resmi terindeks Scopus, prestasi ini menjadi tonggak penting dalam peta kontribusi akademik UNAIR.
“Keberhasilan ini cerminan kerja kolektif dari tim editorial, reviewer, hingga penulis. Kami sangat bersyukur, dan berharap JOINTS dapat menjadi platform kredibel untuk diseminasi keilmuan ortopedi dan traumatologi, baik nasional maupun internasional,” ungkap Dr Lukas Widhiyanto dr Sp OT(K), selaku Chief Editor JOINTS.
Dari Proofreading hingga Promosi Global
Kesuksesan JOINTS bukan dicapai secara instan. Tim editorial menerapkan strategi berlapis untuk menembus seleksi ketat Scopus. Di antaranya, memastikan keteraturan publikasi, memprioritaskan artikel original, memperbaiki standar bahasa Inggris melalui kolaborasi dengan penyedia proofreading profesional, hingga memanfaatkan media sosial dan email blast untuk promosi.
Tak kalah penting, tim juga melakukan benchmarking dengan jurnal serupa, mengadaptasi panduan penulisan sesuai standar, serta melakukan evaluasi pra-submisi melalui platform seperti Ready for Scopus. “Kami memilih dan menyiapkan sepuluh artikel terbaik untuk tahap submission, dengan mempertimbangkan sitasi, jumlah unduhan, hingga keberagaman afiliasi penulis,” paparnya.
Dukungan Institusi dan Kolaborasi UNAIR
Pencapaian ini tak lepas dari dukungan kuat UNAIR. Unit Konsorsium Jurnal dan Folia Medica Indonesiana (UKJF) Fakultas Kedokteran serta Lembaga Inovasi, Pengembangan Jurnal, Penerbitan dan Hak Kekayaan Intelektual (LIPJPHKI) memainkan peran strategis, mulai dari mentoring, workshop, hingga layanan proofreading profesional.
“Kunci utamanya adalah kolaborasi dan komitmen institusional. Tidak mungkin jurnal mencapai indeksasi tanpa ekosistem akademik yang mendorong kualitas dan keberlanjutan,” tambahnya.
Dari Revisi Lambat hingga Kendala Bahasa
Namun, jalan menuju Scopus tidaklah mulus. Tantangannya meliputi keterlambatan penulis dalam merevisi, kesulitan reviewer menilai manuskrip, hingga kendala bahasa Inggris yang belum optimal. Masalah kualitas artikel juga menjadi sorotan, seperti dominasi case report atau artikel ulasan yang kurang berdampak.
“Banyak manuskrip yang datang belum lengkap atau tidak sesuai scope. Itu sebabnya kami melakukan seleksi ketat dan mengedepankan keunikan scope, khususnya biomaterial dan rekayasa jaringan pada kasus ortopedi,” tegasnya.
Dengan tercapainya indeksasi Scopus oleh JOINTS, UNAIR semakin memperkuat komitmennya menjadi perguruan tinggi berbasis riset kelas dunia. Capaian ini diharapkan menjadi inspirasi bagi jurnal-jurnal UNAIR lainnya untuk terus memperbaiki kualitas, memperluas jejaring global, dan membangun sistem editorial yang adaptif terhadap tantangan akademik internasional. (far)
