Surabaya 18 Mei 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Keputusan Uni Emirat Arab (UEA) untuk meninggalkan keanggotaan Organisasi Negara-Negara Eksportir Minyak (OPEC) pada 2026 menarik perhatian banyak orang dan menimbulkan pertanyaan besar. Ditambah, UEA keluar ketika kondisi geopolitik kawasan Timur Tengah tidak stabil. Menanggapi hal tersebut, Dosen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Prof Rossanto Dwi Handoyo, SE, MSi, PhD menilai bahwa keputusan UEA bukanlah langkah tiba-tiba, melainkan hasil perencanaan panjang yang sudah bergulir sejak beberapa tahun lalu.
Konflik Geopolitik sebagai Pemicu
Prof Rossanto menjelaskan alasan keluarnya UEA dari keanggotan OPEC adalah ambisi meningkatkan kapasitas produksi minyak. Ketika menjadi anggota OPEC, UEA terikat peraturan kuota produksi minyak sekitar 3-3,5 juta barel per hari sesuai peraturan OPEC tetapi potensi produksi UEA jauh lebih besar.
Pemerintah UEA menargetkan kapasitas produksi pada angka 5-6 juta barel per hari. Pembatasan produksi dianggap merugikan kepentingan nasional UEA karena sebagai sumber penerimaan utama negara. “Mereka sudah lama berencana keluar dari OPEC. Sudah sejak dua tahun yang lalu ada wacana tersebut. Tapi waktu itu harga minyak masih sekitar 70 dolar per barel, sehingga belum menjadi pilihan yang menguntungkan,” jelas Prof Rossanto.
Guru besar bidang ilmu Ekonomi Internasional tersebut menegaskan bahwa konflik antara Iran dan Amerika Serikat hanya pemicu tambahan, bukan faktor utama keluarnya UEA. Situasi geopolitik yang tidak menguntungkan termasuk ancaman terhadap infrastruktur energi di kawasan dinilai menjadi momentum yang tepat bagi UEA untuk merealisasi rencana tersebut. Ditambah dengan perbedaan kepentingan antara UEA dan Arab Saudi turut mempengaruhi keputusan ini.
Arab Saudi sebagai pemimpin de facto OPEC cenderung mendukung pemerintah yang berkuasa di Yaman sedangkan UEA lebih berpihak kepada kelompok separatis di Yaman selatan. Perbedaan ini semakin menegaskan perbedaan kebijakan di internal OPEC.
Efek Domino dan Dampak ke Indonesia
Keluarnya UEA dari OPEC berpotensi memicu efek domino yang berkepanjangan. Apabila negara anggota OPEC mengikuti langkah serupa, mekanisme pengaturan produksi yang diatur OPEC selama ini akan goyah. Ditambah, OPEC hanya menguasai sekitar 40% pasokan minyak global sehingga negara non anggota OPEC bisa melakukan ekspor secara bebas dan berimplikasi pada harga minyak dunia.
“Kalau OPEC sampai bubar karena perbedaan kepentingan, masing-masing negara akan berlomba meningkatkan produksi. Ini justru akan membuat harga minyak jatuh, dan yang paling dirugikan adalah negara-negara produsen itu sendiri,” paparnya.
Bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak. Kondisi ini bisa menjadi blessing in disguise. Turunnya harga minyak dunia berpotensi mengurangi beban subsidi pemerintah. Namun, Prof Rossanto menilai hal ini juga momentum reformasi energi terbarukan.(rin)
