Surabaya 19 Mei 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Tim gabungan dari berbagai unsur diterjunkan dalam kegiatan kesiapsiagaan pladu di kawasan Sungai Brantas, Senin (18/5/2026). Kegiatan tersebut melibatkan BPBD, PMI, RAPI, TNI, hingga relawan Rumah Zakat untuk memperkuat pemantauan dan koordinasi lapangan di wilayah aliran sungai.
Kegiatan pladu dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi kondisi darurat di kawasan Sungai Brantas sekaligus memastikan kesiapan personel dan sarana pendukung apabila sewaktu-waktu dibutuhkan penanganan cepat.
Dari unsur Palang Merah Indonesia (PMI), sebanyak 15 personel diterjunkan dalam kegiatan tersebut. Personel terdiri dari anggota Korps Sukarela (KSR) dan Tenaga Sukarela (TSR) yang disiagakan untuk mendukung operasi kemanusiaan dan respons kebencanaan.
Koordinasi lintas instansi menjadi fokus utama dalam pelaksanaan pladu kali ini. Selain melakukan pemantauan kondisi di sekitar aliran Sungai Brantas, tim gabungan juga memastikan sistem komunikasi berjalan optimal guna mempercepat respons apabila ditemukan potensi kerawanan di lapangan.
Kehadiran unsur Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) turut memperkuat dukungan komunikasi lapangan, sementara TNI membantu pengamanan serta kesiapan personel di area pemantauan. BPBD bersama relawan Rumah Zakat dan unsur kemanusiaan lainnya juga terlibat aktif dalam koordinasi kesiapsiagaan kebencanaan.
Kegiatan pembukaan posko pladu Sungai Brantas dibuka oleh Sekretaris Daerah Kota Kediri. Melalui kegiatan tersebut diharapkan kesiapsiagaan bersama semakin meningkat serta memperkuat sinergi antarinstansi dalam upaya mitigasi dan penanganan kondisi darurat di wilayah sungai. “Sinergi lintas unsur menjadi kunci utama dalam menjaga kesiapsiagaan, sehingga respons cepat dapat dilakukan apabila terjadi situasi darurat,” ujar salah satu petugas di lokasi.
Seperti diberitakan sebelumnya, Perum Jasa Tirta I (PJT I) mulai melakukan flushing atau penggelontoran sedimen di Bendungan Wlingi dan Bendung Lodoyo, Kabupaten Blitar, Senin (18/5/2026). Kegiatan rutin tahunan yang dikenal warga dengan istilah “pladu” itu ditargetkan menggelontorkan sekitar 600 ribu meter kubik sedimen hingga 22 Mei 2026.
Pembukaan pintu air dilakukan bertahap dimulai dari Bendung Lodoyo pada pukul 08.00 WIB, kemudian disusul Bendungan Wlingi sekitar pukul 10.00 WIB. Sirine peringatan dibunyikan sebelum proses dimulai untuk mengingatkan masyarakat agar menjauh dari bantaran Sungai Brantas.
Kepala Divisi Jasa ASA Wilayah Sungai Brantas PJT I, Agung Nugroho DP, mengatakan flushing dilakukan untuk memulihkan kapasitas tampungan waduk yang terus berkurang akibat sedimentasi. “Dengan kegiatan flushing ini sedimen yang sudah menumpuk selama satu tahun terakhir di area waduk akan digelontorkan ke area hilir sungai sehingga daya tampung waduk bendungan akan kembali meningkat,” ujar Agung di Bendungan Wlingi.
Ia menjelaskan, dari total target 600 ribu meter kubik sedimen, sebanyak 350 ribu meter kubik berasal dari Waduk Wlingi dan 250 ribu meter kubik dari Bendung Lodoyo. Berdasarkan hasil sounding terakhir, kapasitas efektif Waduk Wlingi kini tinggal sekitar 43 persen dari kapasitas awal 5,2 juta meter kubik atau tersisa sekitar 2,23 juta meter kubik. Sedangkan Bendung Lodoyo yang semula memiliki kapasitas 5 juta meter kubik kini tersisa sekitar 46 persen atau 2,3 juta meter kubik. (hjr)
