More
    BerandaUncategorizedIndonesia Emas yang Kehilangan Ayah: Catatan tentang Fatherless Generation dan Masa Depan...

    Indonesia Emas yang Kehilangan Ayah: Catatan tentang Fatherless Generation dan Masa Depan Indonesia

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Surabaya 19 Mei 2026  | Draft Rakyat Newsroom – Indonesia sedang bermimpi menjadi bangsa besar pada tahun 2045. Kita bicara tentang bonus demografi, kecerdasan buatan, ekonomi digital, hilirisasi industri, dan generasi unggul masa depan. Tetapi di tengah mimpi besar itu, ada ruang sunyi yang jarang dibicarakan: jutaan anak Indonesia tumbuh tanpa kehadiran ayah.

    Bukan hanya ayah yang meninggal. Bukan hanya ayah yang bercerai. Tetapi juga ayah yang hadir secara fisik namun hilang secara emosional.

    Ayah yang terlalu sibuk bekerja. Ayah yang pulang hanya membawa lelah. Ayah yang lebih akrab dengan telepon genggam daripada percakapan dengan anaknya sendiri.

    Data Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN menyebutkan bahwa 20,9 persen anak Indonesia tumbuh tanpa peran ayah atau mengalami fatherless. Kondisi ini berdampak pada perkembangan emosi, sosial, dan kognitif anak.

    Di baliknya ada anak-anak yang tumbuh dengan pertanyaan yang tak pernah selesai: “Apakah aku cukup penting untuk diperhatikan?” “Mengapa rumah terasa begitu sepi?” “Mengapa aku harus belajar kuat sendirian?”

    Sebagian anak tumbuh menjadi pendiam. Sebagian menjadi mudah marah. Sebagian lagi mencari pelarian di luar rumah, di jalanan, di media sosial, atau dalam lingkaran pertemanan yang salah.

    Karena anak yang kehilangan figur ayah sering kali bukan kehilangan uang, tetapi kehilangan arah. Dan ironisnya, bangsa ini sering kali lebih sibuk mempersiapkan anak menjadi pekerja daripada manusia utuh.

    Sekolah dipenuhi target akademik, tetapi miskin ruang empati. Anak dipaksa menjadi juara kelas, tetapi tidak diajarkan cara mengelola kesepian.

    Padahal Indonesia Emas tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi IQ generasinya, tetapi juga oleh seberapa sehat jiwa mereka.

    Jika hari ini jutaan anak tumbuh tanpa rasa aman, tanpa percakapan hangat, tanpa teladan emosional dari ayahnya, maka sesungguhnya bangsa ini sedang menyimpan bom waktu sosial.

    Kita mungkin akan melahirkan generasi yang pintar menggunakan teknologi, tetapi mudah kehilangan makna hidup.
    Generasi yang aktif di media sosial, tetapi kesulitan membangun hubungan yang sehat. Generasi yang mampu bersaing, tetapi rapuh menghadapi tekanan.

    Bahkan data BPS menunjukkan hanya sekitar 37,17 persen anak usia 0–5 tahun yang mendapatkan pengasuhan lengkap dari kedua orang tua.

    Di sinilah sekolah seharusnya hadir bukan hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi ruang pengasuhan sosial.

    Guru tidak harus menggantikan ayah. Tetapi sekolah harus mampu menghadirkan lingkungan yang membuat anak merasa dilihat, didengar, dan dihargai.

    Karena mungkin: anak yang paling ribut di kelas sebenarnya sedang meminta perhatian, anak yang paling malas sebenarnya sedang kehilangan semangat hidup, dan anak yang paling pendiam mungkin sedang menanggung luka yang tak pernah ia ceritakan.

    Sekolah terlalu lama sibuk mengejar angka kelulusan, tetapi lupa membaca luka batin muridnya. Padahal kadang masa depan seorang anak bisa berubah hanya karena satu guru berkata: “Kamu hebat.” “Saya percaya kamu bisa.” “Atau terima kasih sudah bertahan sampai hari ini.”

    Indonesia Emas sesungguhnya tidak dimulai dari gedung pencakar langit atau investasi triliunan rupiah. Ia dimulai dari rumah-rumah yang hangat. Dari ayah yang mau mendengar cerita anaknya. Dari sekolah yang tidak memperlakukan murid hanya sebagai nomor absen.

    Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang berhasil membangun kota-kota modern,
    tetapi bangsa yang tidak yang sempurna. Mereka hanya membutuhkan ayah yang hadir.

    M. Isa Ansori

    DPP Koalisi Pegiat Pendidikan Ramah Anak Indonesia, Pengurus Lembaga Perlindungan Anak ( LPA ) Jatim, Wakil Ketua ICMI Jatim, Pengajar Psikologi Komunikasi dan Praktisi Transaksional Analisis

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru