Surabaya 22 Mei 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Di tengah upaya dunia mencari solusi atas krisis energi bersih, pakar dari Universitas Airlangga (UNAIR) mengembangkan terobosan teknologi yang mampu mengubah efisiensi pemanenan cahaya matahari. Melalui rekayasa materi pada skala nano, Tahta Amrillah SSi MSc PhD, dosen Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga (UNAIR), berhasil menciptakan inovasi yang berpotensi merevolusi penggunaan panel surya di masa depan. Konsistensi riset inilah yang membawa namanya masuk ke dalam jajaran nominasi global untuk ajang bergengsi 75th Lindau Nobel Laureate Meetings 2026 di Jerman.
Inovasi Nanomaterial, Kunci Efisiensi Energi Masa Depan
Fokus utama risetnya adalah pengembangan nanomaterial yang dirancang khusus untuk memaksimalkan konversi cahaya matahari menjadi energi listrik secara signifikan. Melalui manipulasi konsep fisika pada material skala nano, inovasi itu mampu menjawab kelemahan panel surya konvensional yang selama ini memiliki tingkat efisiensi rendah dalam menyerap energi. Sel surya dikembangkan juga memiliki tingkat ketransparanan tinggi, sehingga dapat digunakan dan diintegrasikan pada kaca jendela bangunan sebagai teknologi Building Integrated Photovoltaic.
“Penemuan material baru ini sangat krusial agar teknologi energi terbarukan (renewable energy) menjadi lebih aplikatif dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat luas,” ungkapnya. Baginya, peningkatan efisiensi melalui rekayasa material adalah langkah fundamental untuk mengurangi ketergantungan global terhadap energi fosil secara permanen.
Memaksimalkan Potensi Lokal untuk Kedaulatan Energi
Sebagai peneliti di negara tropis, ia membawa misi besar untuk mengubah paradigma pengelolaan sumber daya alam Indonesia. Ia menyoroti melimpahnya elemen material lokal seperti tembaga, zinc, dan sulfur yang selama ini masih sering diekspor dalam bentuk mentah. Menurutnya, bahan-bahan tersebut memiliki nilai strategis untuk diolah di dalam negeri sebagai penyokong industri sel surya nasional, terlebih Indonesia memiliki intensitas cahaya matahari sepanjang tahun yang jauh melampaui negara-negara di Eropa, Amerika, dan Asia yang lain.
“Indonesia punya segalanya, mulai dari bahan baku hingga sumber energinya. Saya berharap melalui nominasi internasional ini, diskusi di kancah global nanti dapat membuka jalan bagi hilirisasi material domestik agar memiliki nilai tambah tinggi,” tuturnya. Disisi lain, ia juga berpesan kepada para peneliti muda agar tidak memandang riset sebagai beban administrasi, melainkan sebagai kebutuhan fundamental untuk mendorong kemajuan bangsa di level dunia. Melalui capaian nominasi ini, ia berharap dapat memperkuat jejaring strategis yang mampu mengeksplorasi implementasi teknologi energi terbarukan di tanah air, sekaligus memperkokoh posisi UNAIR sebagai pusat riset unggulan bertaraf internasional.(rin)
