Surabaya 4 Juni 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (RI)berkolaborasi dengan Universitas Airlangga (UNAIR) menyelenggarakan Preliminary Discussion D-8 Youth Dialogue bertajuk Navigating Uncertainty, Building Resilience. Kegiatan itu berlangsung pada Rabu (3/6/2026) di Majapahit Hall, Lantai 5 ASEEC Tower, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR.
Pembahasan pada kegiatan tersebut meliputi ketahanan energi dan ketahanan pangan di tengah dinamika global. Acara tersebut dihadiri oleh HE Mr Heru Hartanto Subolo selaku Direktur Direktorat Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri serta HE Mr Mohammad K Koba selaku Deputi Koordinasi Kebijakan Luar Negeri Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan.
Tantangan Generasi Muda
Dalam sambutannya, Mohammad Koba menyoroti berbagai tantangan global yang saat ini dihadapi generasi muda. “Tema kegiatan ini bukan sekadar tema diskusi semata, melainkan tantangan nyata yang dihadapi generasi muda. Tantangan seperti perkembangan teknologi, ketidakstabilan geopolitik, dan isu ketahanan energi serta pangan menghadirkan tantangan yang semakin kompleks bagi generasi muda,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa ketidakpastian tidak selalu menjadi hambatan, melainkan peluang bagi generasi muda untuk menunjukkan jiwa kepemimpinan. “Pertanyaannya bukan tentang ketidakpastian akan datang atau tidak. Ketidakpastian pasti akan datang. Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita siap meresponsnya dengan keberanian, kejelasan arah, dan semangat kerja sama,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menilai Surabaya sebagai tempat yang tepat untuk membahas isu tersebut. Ia mengaitkan semangat perjuangan pemuda Surabaya pada 1945 dengan tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini.
“Para pemuda Surabaya pada masa itu tidak menunggu kondisi yang sempurna. Mereka memiliki tujuan, solidaritas, dan keberanian untuk bertindak. Semangat itulah yang perlu kita hadirkan dalam menghadapi ketidakpastian saat ini,” ungkapnya.
Peran Pemuda dalam Solusi Global
Sementara itu, Heru Hartanto menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam membangun jejaring internasional dan memperkuat kerja sama antarnegara. “Diplomasi tidak hanya berlangsung di ruang perundingan, tetapi juga dapat dibangun melalui kolaborasi, pertukaran gagasan, serta inovasi yang lahir dari kalangan muda,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa D-8 Youth Dialogue memiliki peran penting dalam memperkuat keterlibatan pemuda dalam kerja sama internasional. “Forum ini memberi ruang bagi anak muda untuk ikut terlibat dalam percakapan global dan menghadirkan solusi nyata bagi berbagai persoalan. Ide tidak boleh berhenti diatas kertas, tetapi harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan memberikan dampak nyata,” pungkasnya.(rin)
