More
    BerandaUncategorizedGaluh Pramusinta, Alumni FPK yang Berkontribusi pada Ketahanan Perikanan Kota Surabaya

    Galuh Pramusinta, Alumni FPK yang Berkontribusi pada Ketahanan Perikanan Kota Surabaya

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Surabaya 5 Juni 2026  | Draft Rakyat Newsroom – Penguatan program budidaya ikan skala rumah tangga di berbagai sudut Kota Surabaya berasal dari peran penting seorang anak muda sekaligus alumni Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR), Galuh Pramusinta. Sebagai staf perikanan budidaya di Dinas Ketahanan Pangan Kota Surabaya, Galuh tidak hanya menjalankan tugas administratif, tetapi juga menjadi penggerak berbagai program yang secara langsung mendorong peningkatan produksi perikanan rakyat dan ketahanan pangan keluarga di Kota Surabaya yang besar ini.

    Galuh Pramusinta merupakan lulusan Program Studi Budidaya Perairan, angkatan 2008, yang tercatat sebagai bagian dari angkatan pertama lulusan FPK yang dulunya berada di bawah Fakultas Kedokteran Hewan. Setelah menyelesaikan studi dan lulus pada 2012, ia langsung terjun ke dunia kerja, dimulai dengan pengalaman di tambak di kawasan Banyuwangi yang semakin mengasah pemahamannya terhadap budidaya perikanan di lapangan. Pengalaman awal ini menjadi bekal penting sebelum ia kemudian, sejak 2017, bergabung dengan Dinas Ketahanan Pangan Kota Surabaya sebagai staf perikanan budidaya dengan wilayah kerja yang mencakup seluruh Kota Surabaya.

    Dalam kapasitasnya sebagai staf perikanan budidaya, Galuh memegang peran strategis dalam merancang, melaksanakan, serta memantau berbagai program budidaya ikan yang ditujukan bagi masyarakat. Melalui peran ini, ia menjadi penghubung antara kebijakan pemerintah kota dan kebutuhan nyata masyarakat, sehingga program budidaya yang dijalankan tidak sekadar seremonial, melainkan benar-benar meningkatkan produksi perikanan serta kesejahteraan keluarga.

    Sejalan dengan itu, Galuh menilai bahwa bidang pekerjaannya saat ini memiliki tingkat kesesuaian yang sangat tinggi dengan latar belakang pendidikannya di Program Studi Budidaya Perairan. Pemahaman mengenai dasar-dasar budidaya, manajemen kualitas air, serta konsep produksi perikanan yang diperoleh di bangku kuliah menjadi rujukan penting ketika ia menyusun konsep kegiatan, mengawal program, maupun memberikan rekomendasi teknis kepada masyarakat. Dengan demikian, setiap program yang digagas tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi semata, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan serta kemampuan kelompok sasaran untuk mengelola budidaya secara mandiri.

    Salah satu wujud nyata kontribusi Galuh terhadap peningkatan produksi perikanan rakyat terlihat dari keterlibatannya dalam tim teknis budidaya. Bersama tim, ia memberikan pelayanan kepada masyarakat yang mencakup edukasi, konsultasi teknis, pendampingan dalam desain budidaya, hingga contoh penerapan pakan alami bagi para pembudidaya.

    Peran Galuh semakin terlihat berdampak melalui keterlibatannya dalam program Pemerintah Kota Surabaya tahun 2026 yang menyasar kelompok Gen Z dan masyarakat berpenghasilan rendah untuk mendorong budidaya mandiri. Program ini dirancang untuk mengajak masyarakat memanfaatkan ruang terbatas di lingkungan tempat tinggal mereka melalui budidaya ikan lele dalam ember atau galon, serta budidaya kepiting dalam konsep “kepiting apartemen”.

    Target program tersebut adalah terbentuknya 40 kelompok pembudidaya ikan (pokdakan) yang tersebar di seluruh wilayah Surabaya dan mampu menghasilkan produk yang layak dipasarkan. Setiap kelompok beranggotakan sedikitnya sembilan orang, sehingga selain meningkatkan produksi perikanan, program ini juga mendorong penguatan kelembagaan dan kerja sama antarwarga. Di bawah pendampingan teknis yang salah satunya dilakukan oleh Galuh, kelompok-kelompok ini tidak hanya belajar cara memelihara ikan, tetapi juga mengelola siklus produksi dan pemasaran, sehingga nilai tambah ekonomi dapat langsung dinikmati oleh mereka.

    Perkembangan kelompok sasaran program menunjukkan hasil yang menggembirakan. Beberapa kelompok di kawasan Tenggilis, Rungkut, Karang Pilang, dan Ketintang tercatat telah mampu mengembangkan usaha budidaya dengan memanfaatkan fasilitas umum (fasum) sebagai lokasi kolam terpal. Total unit kolam terpal yang dikelola di wilayah-wilayah tersebut mencapai sekitar 25 unit, dan kelompok-kelompok ini bahkan sempat kewalahan memenuhi pesanan akibat tingginya permintaan pasar terhadap produk budidaya mereka.

    Lebih jauh, keberhasilan kelompok-kelompok tersebut tidak hanya diukur dari volume produksi, tetapi juga dari tingkat kemandirian yang telah dicapai. Kelompok pembudidaya yang didampingi telah mampu memproduksi benih sendiri, mengelola pakan secara mandiri, dan menanggung biaya operasional budidaya tanpa ketergantungan penuh pada bantuan pemerintah.(naf)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru