Surabaya 8 Juni 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Di tengah ancaman perubahan iklim, peringatanHari Laut Sedunia menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keberlanjutan laut sebagai sumber kehidupan. Muhammad Hanif Azhar SPi MSi PhD, Dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK), Universitas Airlangga (UNAIR), menjelaskan pengelolaan sumber daya laut serta penguatan sektor akuakultur sebagai solusi ketahanan pangan.
Dampak Perubahan Iklim
Hanif menilai bahwa sektor perikanan tangkap saat ini menghadapi tekanan yang semakin besar akibat perubahan iklim dan kondisi lingkungan. “Tantangan yang dihadapi oleh sektor perikanan tangkap di tengah perubahan iklim yakni terganggunya ekosistem yang menyebabkan produktivitas sumber daya perikanan mengalami penurunan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa dampak tersebut dirasakan oleh masyarakat pesisir, terutama nelayan tradisional. Para nelayan harus melaut lebih jauh untuk memperoleh hasil tangkapan yang memadai. Jarak melaut yang lebih jauh berdampak pada biaya operasional yang lebih mahal.
Selain itu, perubahan iklim juga menyebabkan pemutihan terumbu karang dan pengasaman air laut. Kondisi tersebut mengakibatkan berkurangnya jumlah spesies karena hanya spesies tertentu saja yang mampu beradaptasi, sedangkan spesies lain mengalami penurunan populasi akibat kematian.
“Kerusakan ekosistem pesisir dapat mengurangi produktivitas perikanan. Maka dari itu, upaya perbaikan lingkungan seperti rehabilitasi mangrove dan kawasan pesisir menjadi sangat penting,” jelasnya.
Menurut Hanif, kondisi tersebut berpotensi mengancam ketahanan pangan dalam jangka panjang. Hal itu berdampak pada ketersediaan pangan dan perekonomian masyarakat pesisir.
Akuakultur sebagai Solusi Ketahanan Pangan
Menanggapi hal tersebut, ia menilai akuakultur menjadi salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Budidaya dapat dilakukan dengan pengelolaan kualitas lingkungan, kesehatan ikan, serta produktivitas yang stabil melalui sistem yang lebih terkontrol dibandingkan perikanan tangkap.
“Akuakultur menjadi salah satu solusi terbaik karena kualitas lingkungan budidaya dapat dipantau dan dikelola dengan baik sehingga produksi lebih terukur dan berkelanjutan,” ucapnya.
Ia juga menambahkan bahwa terdapat sejumlah komoditas budidaya yang memiliki potensi untuk dikembangkan, diantaranya budidaya air laut berupa rumput laut Dan kerang. Budidaya air payau berupa bandeng, kakap, dan udang vannamei. Budidaya air tawar berupa lele, gurame, dan nila.
Meskipun begitu, pengembangan akuakultur masih menghadapi berbagai tantangan dari aspek teknis, sosial, serta ekonomi. Oleh sebab itu, perlu kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat melalui pendekatan quadruple helix untuk mewujudkan sektor akuakultur yang produktif dan berkelanjutan. Hanif berpesan kepada para generasi muda untuk lebih bijaksana dalam memanfaatkan sumber daya alam, terutama sektor kelautan. “Manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi. Oleh karena itu, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana tanpa melakukan eksploitasi berlebihan,” pungkasnya.(naf)
