Surabaya 24 Juni 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Universitas Airlangga (UNAIR) melalui WUACD terus memperkuat perannya sebagai penggerak kolaborasi riset internasional melalui penyelenggaraan 15th Korea-ASEAN Joint Symposium (KAJS) on Biomass Utilization and Renewable Energy yang berlangsung di Bali pada Senin (22/6/2026). Forum tersebut mempertemukan akademisi dari Korea Selatan, Thailand, Indonesia, dan berbagai negara ASEAN untuk membahas inovasi biomassa, bioteknologi, serta energi terbarukan sebagai solusi menghadapi tantangan transisi energi global.
Satukan Pakar Korea–ASEAN Perkuat Ekosistem Riset Energi
Simposium menjadi ruang strategis bagi para peneliti lintas negara untuk berbagi temuan ilmiah sekaligus membangun jejaring kolaborasi jangka panjang. Melalui forum ini, UNAIR menegaskan komitmen dalam memperluas kerja sama internasional yang mampu mempercepat hilirisasi riset biomassa menjadi teknologi yang berdampak bagi masyarakat dan industri. Sejumlah riset yang disorot mencerminkan sebagian dari berbagai inovasi yang dipresentasikan selama simposium, sementara beragam temuan ilmiah lainnya turut memperkaya pertukaran pengetahuan antarpeneliti.
Mengawali rangkaian sesi ilmiah pada Minggu (21/6/2026), Prof Dr Sung Ok Han dari Korea University mempresentasikan riset bertajuk Sustainable Biosynthesis of Porphyrins and Their Derivatives in Corynebacterium glutamicum for Electrical, Photoactive, and Biochemical Applications. Ia menjelaskan bahwa pendekatan biosintesis berkelanjutan memungkinkan pengembangan porfirin dan turunannya sebagai material multifungsi yang dapat dimanfaatkan pada sektor elektronik, teknologi fotoaktif, serta biokimia. “Melalui biosintesis berkelanjutan, porfirin dan turunannya dapat dikembangkan menjadi material yang mendukung aplikasi listrik, fotoaktif, dan biokimia secara lebih ramah lingkungan,” ujarnya.
Inovasi Biomassa Jadi Fondasi Transisi Energi Berkelanjutan
Pembahasan kemudian berlanjut pada potensi biomassa melalui paparan Assoc Prof Dr Sehanat Prasongsuk dari Chulalongkorn University, Thailand. Ia menyoroti pemanfaatan jamur hitam Aureobasidium spp. sebagai sumber berbagai produk bernilai tambah, mulai dari biopolimer, enzim, pakan dan pangan, hingga agen antijamur.
Menurutnya, hasil penelitian menunjukkan berbagai strain Aureobasidium yang diperoleh dari beragam habitat di Thailand memiliki kemampuan menghasilkan enzim pendegradasi biomassa, seperti xilanase dan β-xylosidase, yang berpotensi mendukung konversi limbah pertanian menjadi produk bernilai ekonomi. “Bioteknologi tanaman dan jamur memberikan peluang besar untuk mengubah biomassa serta residu pertanian menjadi berbagai bioproduk yang mendukung ekonomi sirkular dan keberlanjutan energi,” jelasnya.
Riset Biodiversitas Tropis Perkuat Inovasi Biomolekul Indonesia
Dari Indonesia, dosen Universitas Airlangga Dr Rico Ramadhan memaparkan pemanfaatan Non-Timber Forest Products (NTFPs) atau hasil hutan bukan kayu sebagai sumber senyawa bioaktif bagi bidang kesehatan. Ia juga memperkenalkan Excelzyme, produk hasil konsorsium lokal yang dikembangkan di Teaching Industry Excelzyme di bawah Center of Excellence Research Center for Bio-Molecule Engineering (BIOME) Universitas Airlangga. Produk tersebut telah diproduksi dalam skala 10 liter, 50 liter, hingga 200 liter sebagai bentuk nyata hilirisasi riset biomolekul di lingkungan UNAIR.
Menurut Rico, integrasi ilmu kimia dengan biodiversitas hutan tropis menjadi langkah penting untuk menemukan senyawa baru yang bermanfaat bagi dunia kesehatan. Namun, upaya tersebut juga menghadapi tantangan berupa perubahan iklim, hilangnya habitat, serta eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya hayati.
Melalui rangkaian sesi ilmiah tersebut, UNAIR kembali menegaskan perannya sebagai penghubung kolaborasi riset antara Korea dan negara-negara ASEAN. Pertemuan para pakar ini diharapkan tidak hanya memperkuat jejaring penelitian internasional, tetapi juga melahirkan inovasi biomassa dan energi terbarukan yang mampu mendukung transisi energi berkelanjutan sekaligus meningkatkan daya saing riset Indonesia di tingkat global.(rin)
