More
    BerandaPendidikanHari Pertama Sekolah, Hari Memulai Peradaban Karakter

    Hari Pertama Sekolah, Hari Memulai Peradaban Karakter

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Surabaya 24 Juni 2026  | Draft Rakyat Newsroom – Ada satu perubahan penting dalam arah pendidikan Indonesia tahun 2026. Melalui Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 tentang Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), negara tidak lagi memandang MPLS sekadar sebagai kegiatan pengenalan lingkungan sekolah, ruang kelas, atau tata tertib. MPLS kini diposisikan sebagai ruang awal pembentukan karakter, penanaman nilai, dan penciptaan budaya sekolah yang aman, nyaman, dan membahagiakan.

    Perubahan ini bukan sekadar perubahan teknis kebijakan.

    Ia adalah perubahan cara pandang tentang manusia.

    Tentang anak.

    Tentang pendidikan.

    Dan tentang masa depan bangsa.

    Jika sebelumnya MPLS sering dipahami sebagai proses adaptasi siswa baru terhadap sekolah, maka kini pertanyaannya berubah secara mendasar:

    bukan lagi sekadar “di mana kamu belajar”, tetapi “menjadi manusia seperti apa kamu akan tumbuh di sekolah ini.”

    Dari perubahan inilah Surabaya membaca sebuah peluang sejarah: menghadirkan MPLS bukan hanya sebagai agenda tahunan pendidikan, tetapi sebagai gerakan kebudayaan dan gerakan peradaban karakter.

    “Dari MPLS Menuju Gerakan “Basuh Hati, Basuh Budi”

    Surabaya sebagai Kota Pahlawan memiliki warisan nilai yang tidak hanya tentang keberanian, tetapi juga tentang pengorbanan, gotong royong, dan penghormatan terhadap kemanusiaan.

    Namun tantangan zaman hari ini berbeda.

    Kita hidup di era ketika anak-anak semakin terhubung secara digital, tetapi sering kali terputus secara emosional.

    Mereka cepat mengenal dunia luar, tetapi perlahan menjauh dari rumahnya sendiri.

    Mereka mahir mengakses informasi, tetapi belum tentu mampu mengelola hati.

    Mereka cerdas secara akademik, tetapi tidak selalu kuat dalam budi pekerti.

    Di titik inilah pendidikan harus kembali menyentuh akar terdalamnya: hati dan budi.

    Maka lahirlah sebuah gerakan khas Surabaya:

    Basuh Hati, Basuh Budi Arek-Arek Suroboyo

    Sebuah gerakan MPLS yang tidak hanya memperkenalkan sekolah, tetapi mengembalikan anak kepada kesadaran paling dasarnya: bahwa hidupnya tidak dimulai dari sekolah, tetapi dari rumah; dari orang tua; dari doa yang tidak pernah putus.

    Basuh Hati: Mengembalikan Kesadaran Kemanusiaan

    Basuh hati adalah simbol pembersihan batin.

    Ia mengajak anak-anak untuk menundukkan ego, merendahkan kesombongan, dan membuka kesadaran bahwa tidak ada keberhasilan yang lahir tanpa pengorbanan orang lain.

    Dalam gerakan ini, hari pertama sekolah tidak dimulai dengan ketegangan atau formalitas semata, tetapi dengan pertemuan paling manusiawi: anak dan orang tua.

    Dalam sebuah prosesi yang penuh makna, anak membasuh kaki ayah dan ibunya.

    Bukan sebagai ritual kosong, tetapi sebagai simbol kesadaran mendalam.

    Bahwa kaki itu telah melangkah jauh demi kehidupan mereka.

    Bahwa tangan itu telah bekerja keras demi masa depan mereka.

    Bahwa wajah itu telah menyembunyikan lelah demi senyum anak-anaknya.

    Dan di hadapan semua itu, seorang anak belajar satu hal yang tidak diajarkan oleh buku mana pun:

    kerendahan hati.

    Basuh Budi: Menghidupkan Kembali Adab dalam Pendidikan

    Jika hati adalah pusat kesadaran, maka budi adalah wajah dari karakter.

    Basuh budi berarti menghidupkan kembali nilai-nilai luhur dalam pendidikan: adab, sopan santun, hormat kepada orang tua, menghargai guru, serta peduli kepada sesama.

    Surabaya tidak ingin melahirkan generasi yang hanya pintar berbicara, tetapi lupa bagaimana bersikap.

    Tidak ingin melahirkan generasi yang unggul secara teknologi, tetapi lemah dalam empati.

    Tidak ingin melahirkan generasi yang cepat berpendapat, tetapi lambat dalam menghormati.

    Karena itu, MPLS bukan hanya pengenalan lingkungan sekolah, tetapi pengenalan nilai kehidupan.

    Nilai bahwa:

    • ilmu harus berjalan bersama adab,
    • kecerdasan harus dibarengi empati,
    • dan prestasi harus dilandasi penghormatan.

    Arek-Arek Suroboyo: Karakter yang Tumbuh dari Kota Pahlawan

    Gerakan ini tidak berdiri di ruang kosong.

    Ia lahir dari identitas Surabaya sebagai Kota Pahlawan.

    Namun kepahlawanan hari ini tidak lagi hanya di medan perang.

    Kepahlawanan hari ini adalah keberanian untuk menjadi manusia yang baik di tengah dunia yang sering kali mendorong sebaliknya.

    Maka Arek Suroboyo yang ingin dilahirkan melalui gerakan ini adalah:

    • berani karena benar,
    • tegas dalam kebaikan,
    • tangguh menghadapi tantangan,
    • peduli pada sesama,
    • menolak perundungan,
    • menghormati orang tua dan guru,
    • serta bijak dalam kehidupan digital.

    Inilah karakter baru kepahlawanan: kepahlawanan dalam budi pekerti.

    Sekolah Bahagia: Tujuan Akhir Pendidikan yang Sesungguhnya

    Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 menegaskan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan membahagiakan.

    Surabaya menerjemahkan ini lebih jauh: menjadi Gerakan Sekolah Bahagia.

    Sekolah bahagia bukan sekadar sekolah yang memiliki fasilitas lengkap.

    Tetapi sekolah yang:

    • membuat anak merasa diterima,
    • membuat guru merasa dihargai,
    • membuat orang tua merasa dilibatkan,
    • dan membuat proses belajar menjadi pengalaman yang manusiawi.

    Karena anak yang bahagia akan lebih mudah belajar.

    Anak yang dicintai akan lebih mudah tumbuh.

    Dan anak yang dihormati akan lebih mudah menghormati orang lain.

    Dari Surabaya untuk Indonesia

    Surabaya pernah menjadi simbol keberanian bangsa.

    Kini Surabaya ingin menjadi simbol kebijaksanaan pendidikan.

    Jika dahulu Surabaya mengajarkan bagaimana melawan penjajahan, maka hari ini Surabaya ingin mengajarkan bagaimana melawan kemiskinan karakter, krisis empati, dan pudarnya adab dalam kehidupan.

    Karena bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh kecerdasan otak.

    Tetapi oleh kejernihan hati dan kemuliaan budi.

    Maka dari Kota Pahlawan ini, kita memulai langkah baru.

    Sebuah langkah kecil di hari pertama sekolah, tetapi memiliki makna besar bagi masa depan bangsa.

    Basuh Hati. Basuh Budi. Arek-Arek Suroboyo.

    Menuju Sekolah Bahagia. Menuju Indonesia yang lebih manusiawi.

    Gerakan MPLS Surabaya 2026 Menuju Sekolah Bahagia

    M. Isa Ansori

    Kolumnis , Dosen , DPP Koalisi Pegiat Pendidikan Ramah Anak Indonesia, Wakil Ketua ICMI Bidang Pendidikan, Kesehatan dan Lingkungan, Dewan Penasehat LHKP PD Muhammadiyah Surabaya dan Pengurus Lembaga Perlindungan Anak ( LPA ) Jatim

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru