More
    BerandaUncategorizedProfesor ITS Gagas Integrasi Keselamatan Sistem Navigasi Kapal Indonesia

    Profesor ITS Gagas Integrasi Keselamatan Sistem Navigasi Kapal Indonesia

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Surabaya 1 Juli 2026  | Draft Rakyat Newsroom – Tingginya risiko kecelakaan kapal masih menjadi tantangan besar bagi Indonesia sebagai negara maritim. Menjawab permasalahan tersebut, Guru Besar ke-244 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Dr Eng Muhammad Badrus Zaman ST MT menggagas integrasi sistem navigasi kapal dan faktor manusia sebagai upaya untuk meningkatkan keselamatan pelayaran nasional.

    Guru Besar bidang Sistem Keselamatan Navigasi Kapal itu menjelaskan bahwa kecelakaan kapal dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari kondisi kapal, lingkungan, permesinan dan kelistrikan, faktor manusia, hingga manajemen. Ia menyoroti faktor manusia sebagai penyebab dominan dalam kecelakaan kapal. “Penguatan keselamatan navigasi tidak hanya dilakukan melalui perangkat teknologi, tetapi juga mempertimbangkan kemampuan dan pengambilan keputusan kru kapal,” terangnya.

    Berangkat dari hal tersebut, Badrus menggagas sistem keselamatan navigasi kapal yang mengintegrasikan teknologi navigasi dengan faktor manusia. Integrasi ini dirancang agar perangkat navigasi tidak hanya berfungsi sebagai alat pemantau posisi kapal, tetapi juga mendukung kru membaca risiko pelayaran secara lebih akurat. Ia menambahkan, integrasi sistem membuat proses pengambilan keputusan di atas kapal lebih terukur terhadap kondisi operasional di lapangan.

    Dalam orasi ilmiahnya bertajuk Sistem Keselamatan Navigasi Kapal sebagai Pilar untuk Memperkuat Poros Maritim Nasional dan Global, Badrus memanfaatkan Automatic Identification System (AIS) untuk menganalisis kepadatan lalu lintas kapal secara real-time. Data AIS tersebut kemudian dipadukan dengan model M-SHEL, sebuah kerangka analisis yang meninjau interaksi antara manusia dengan lima komponen sistem, yakni manajemen, perangkat lunak, perangkat keras, lingkungan, serta awak kapal.

    Guru Besar Departemen Teknik Sistem Perkapalan (Siskal) ITS itu melanjutkan, integrasi sistem AIS dan model M-SHEL menghasilkan penilaian risiko tabrakan yang terbagi dalam tiga tingkatan, yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Selain itu, sistem juga menghasilkan rekomendasi tindakan keselamatan yang dapat langsung diterapkan oleh nakoda di lapangan. “Rekayasa sistem ini memberikan panduan berbasis data kepada kru dalam merespons situasi pelayaran,” jelas lelaki asal Banyuwangi itu.

    Peneliti yang tergabung dalam Science Techno Park (STP) Maritim ITS itu menuturkan bahwa riset ini telah dikembangkan melalui kolaborasi dengan sejumlah institusi. Ia menjabarkan, kerja sama telah terjalin dengan Kobe University Jepang, Universiti Teknologi Malaysia, dan Wismar University of Applied Sciences Jerman. Di dalam negeri, Badrus aktif bekerja sama dengan Kementerian Perhubungan RI dan Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Penelitian Badrus tersebut selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta poin ke-14 tentang Ekosistem Lautan. Ke depannya, ia berharap terjadi penguatan kolaborasi antardisiplin ilmu serta kemitraan dengan industri dan pemerintah. “Kolaborasi yang berkelanjutan diperlukan agar riset keselamatan navigasi ini dapat diimplementasikan secara nyata untuk kemajuan maritim Indonesia,” tegasnya. (naf)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru