Banyuwangi 7 Juli 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Kementrian Koordinator Pangan menunjuk Kabupaten Banyuwangi untuk menjadi model monitoring pangan nasional. Banyuwangi diminta mengembangkan dashboard komoditi beras (dashboard rice journey) yang akan menjadi decision support system (DSS) bagi pengambil kebijakan.
Hal ini disampaikan Staf Ahli Menko Bidang Ekonomi Maritim Kemenko Pangan Sugeng Santoso saat bertemu Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani dan Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono dalam rapat koordinasi (rakor) antara Kemenko Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Pemkab Banyuwangi, di Banyuwangi, Senin (6/7/2026).
Sugeng mengatakan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 salah satu target yang harus dicapai oleh Kemenko Pangan adalah meningkatkan Indeks Ketahanan Pangan nasional dari 73 (2025) menjadi 82 (2029). Karenanya Kemenko Pangan melakukan sejumlah strategi dan upaya untuk mewujudkan hal tersebut.
“Salah satunya pemerintah akan mengembangkan decision support system (DSS) berupa Dashboard Rice Journey. Dashboard ini akan memberikan masukan sebagai bahan pengambil kebijakan, khususnya beras secara cepat, tepat dan berbasis data,” kata Sugeng.
Suigeng menjelaskan tujuan dashboard nantinya adalah menyediakan data secara realtime yang akan menjawab pertanyaan bagi pengambilan keputusan (decision support system) melalui system thinking/system dynamics. Seperti apakah ada risiko produksi dan risiko (kenaikan) harga atau kelangkaan beras. Di wilayah mana risiko tersebut paling tinggi.
Lalu apa saja kemungkinan penyebab utamanya seperti produksi, stok, RMU, distribusi, BBM/logistik, cuaca, atau perilaku pasar. Seberapa kuat bukti dan kualitas datanya, serta Intervensi apa yang perlu diputuskan sekarang dan siapa aktor yang harus digerakkan.
“Dashboard tidak hanya mampu mendeteksi potensi gangguan secara dini, tetapi juga menjelaskan hubungan sebab-akibat, mengevaluasi kualitas bukti, mensimulasikan berbagai skenario kebijakan, serta menghasilkan rekomendasi intervensi yang tepat sasaran,” terangnya.
Banyuwangi sendiri dipilih untuk mengembangakan dashboard rice journey, karena memiliki ekosistem yang mendukung. Di antaranya Banyuwangi merupakan daerah supplier atau produsen beras di tingkat nasional dan aktif melakukan monitoring dan pengendalian dalam distribusi pangan serta inflasi daerah. Serta memiliki basis tata kelola permerintah berbasis teknologi informasi yang kuat.
“Program ini akan menjadi kolaborasi dan sinergi antara Kemenko Pangan dan Pemkab Banyuwangi dalam mewujudkan tata kelola pangan yang lebih baik,. Nantinya model yang dikembangkan di Banyuwangi akan menjadi model dashboard bagi daerah lainnya,” ujar Sugeng.
Sementara itu Bupati Ipuk menyampaikan Banyuwangi siap mendukung Program Pengembangan Dashboard Rice Journey bersama Kemenko Pangan.
“Terima kasih atas kepercayaan Kemenko Pangan pada Banyuwangi. Semoga kolaborasi ini akan menghasilkan kebijakan tata kelola pangan berbasis kondisi wilayah untuk memaksimalkan produksi pangan nasional.,” ujar Ipuk.(dik)
