Surabaya 8 Juli 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Menghadapi pasar mainan koleksi di Indonesia yang saat ini dibanjiri blind box art toys impor, mahasiswa Departemen Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memperkenalkan produk bernama Gantari. Produk ini tampil sebagai pionir blind box lokal yang mengangkat kebudayaan Nusantara sekaligus menawarkan alternatif inovatif bagi generasi muda.
Di balik inovasi tersebut, I Nyoman Panji Wiradinata dan Teuku Ariq Musyaffa merancang Gantari menggunakan maskot kucing bernama Taka dan Tara. Melalui tren mainan modern ini, keduanya menyelipkan misi edukasi interaktif untuk mengenalkan beragam busana adat Indonesia kepada generasi muda. “Kami ingin memperkenalkan budaya lokal dengan cara terkini,” ujar Panji, sapaan I Nyoman Panji Wiradinata.
Untuk merealisasikan misi itu, mahasiswa DKV ITS angkatan 2023 tersebut mengusung sistem Cultural Blind Box pertama di Indonesia dengan memadukan pakaian adat dan tren budaya populer. Keunikan tersebut diperkuat lewat sistem kelangkaan koleksi barang seperti Common, Rare dan Secret guna memicu daya tarik psikologis bagi para kolektor mainan. “Gantari hadir mengisi kekosongan pasar mainan koleksi berbasis budaya lokal,” ungkap Teuku Ariq Musyaffa yang biasa dipanggil Ariq ini menambahkan.
Sebagai langkah awal, seri perdana Gantari langsung menampilkan enam pakaian adat dari Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, DKI Jakarta, Sulawesi Selatan, Bali, dan Kalimantan Barat. Prototipe figur setinggi 13,5 sentimeter ini dicetak menggunakan material resin solid dengan detail pakaian yang digarap manual. “Pewarnaan menggunakan cat akrilik dan airbrush, sedangkang detail pakaian adat menggunakan kuas mikro berukuran 0,1 milimeter,” sebut Ariq.
Tidak hanya visual yang menarik, nilai edukasi mainan juga diperkuat oleh kedua mahasiswa semester 6 ini melalui sisipan kartu cerita mini dan kartu berisi gambar figur di setiap kemasan. Kartu tersebut memuat cerita rakyat serta informasi busana daerah agar kolektor mendapat pengalaman belajar kebudayaan secara kasual. “Kami percaya budaya bisa hidup di kalangan generasi muda lewat cara yang menyenangkan,” ujar Ariq. Melangkah ke tahap berikutnya, tim ITS ini memproyeksikan harga Gantari senilai Rp 159 ribu per unit dengan material PVC untuk produksi skala besar. Rencana pengembangan juga mencakup seri kedua bertema mitologi Indonesia yang menghadirkan tokoh-tokoh legendaris nusantara. Lebih dari sekadar karya mahasiswa, Gantari hadir sebagai inovasi unggul yang mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-8 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggungjawab.(naf)
