More
    BerandaPendidikanRefleksi Dialog Imajiner : Antara Ngada, Nusa Tenggara Timur dan Batunya, Tabanan,...

    Refleksi Dialog Imajiner : Antara Ngada, Nusa Tenggara Timur dan Batunya, Tabanan, Bali

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Surabaya, 30 Juli 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Dua Jiwa Gugur karena Sebuah Harapan Bernama Sekolah

    “Kadang-kadang, yang paling berat dari sebuah keluarga miskin bukanlah kemiskinannya. Melainkan ketika cinta harus berhadapan dengan kenyataan bahwa harapan anak-anaknya tidak selalu dapat dipenuhi.”

    Jumat, 24 Juli 2026.

    Sudah tiga hari berlalu sejak aku menyampaikan kepada ayah bahwa sekolah mengingatkanku untuk segera melunasi SPP.

    “Ayah… tadi Bu Guru mengingatkan lagi. SPP-ku belum lunas.”

    Ayah menghentikan suapan nasinya. Ia memandangku dengan senyum yang selalu membuatku merasa aman.

    “Tenang ya, Nak. Besok akan Ayah usahakan.”

    Tangannya mengusap kepalaku. Pelukannya begitu hangat.

    Malam itu aku tidur dengan tenang. Dalam benakku hanya ada satu keyakinan, ayah pasti menemukan jalan.

    Keesokan paginya, sebelum berangkat bekerja, ayah mencium keningku.

    “Ibu… Nak… Ayah berangkat dulu. Doakan semoga hari ini Allah memberi rezeki agar kebutuhan keluarga kita tercukupi dan SPP anak-anak bisa segera lunas.”

    Aku mengangguk sambil melambaikan tangan.

    Hari pertama aku menunggu.

    Ayah belum pulang.

    Hari kedua aku kembali menunggu.

    Ibu mulai sering memandang ke arah jalan.

    Aku ikut menunggu di depan rumah.

    Kami sama-sama berharap, ayah pulang membawa senyum dan kabar baik.

    Namun hari ketiga yang datang bukanlah ayah yang membawa rezeki.

    Yang datang adalah kabar bahwa ayah telah meninggal dunia.

    Ia diduga mencuri seekor ayam.

    Kesalahannya seharusnya diproses oleh hukum.

    Namun amarah massa lebih dahulu menghakiminya.

    Ayah pulang dalam keadaan terbujur kaku.

    Di hadapan jenazah ayah, aku hanya mampu berbisik lirih.

    “Ayah… seandainya malam itu aku tidak menyampaikan tagihan SPP itu, mungkin aku masih bisa bercanda dengan Ayah. Mungkin aku masih bisa merasakan pelukan Ayah lebih lama.”

    Sejak hari itu aku mengerti, betapa besar kasih seorang ayah.

    Ia rela memikul beban seorang diri agar masa depan anaknya tetap menyala.


    Enam bulan sebelumnya.

    Jumat, 30 Januari 2026.

    Di Naruwolo, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, seorang anak pulang sekolah dengan wajah ceria.

    Ia berlari memeluk ibunya.

    “Ibu… besok aku diminta membawa pensil dan buku gambar. Aku butuh uang Rp10.000.”

    Sang ibu tersenyum, meski di balik senyum itu tersimpan kegelisahan.

    “Sabar ya, Nak. Hari ini Ibu belum punya uang. Kalau ada rezeki, pasti Ibu belikan.”

    Anak itu mengangguk.

    Ia membalas pelukan ibunya.

    Tak ada rengekan.

    Tak ada amarah.

    Hanya ada keheningan yang menyimpan banyak pertanyaan.

    Apa yang sebenarnya berkecamuk di hati anak itu, hanya Allah yang Maha Mengetahui.

    Keesokan harinya, keluarga itu kehilangan anak yang mereka cintai.

    Dan sejak saat itu, uang Rp10.000 tidak lagi sekadar angka.

    Ia berubah menjadi luka yang akan dikenang sepanjang hayat.


    Dalam renunganku, aku membayangkan keduanya bertemu.

    Seorang ayah dari Batunya.

    Seorang anak dari Naruwolo.

    Ayah itu tersenyum lebih dulu.

    “Nak, kenapa kamu berada di sini? Bukankah seharusnya kamu sedang belajar di sekolah?”

    Anak itu menunduk.

    “Aku hanya tidak ingin Ibu bersedih karena belum bisa memenuhi kebutuhanku. Aku takut menjadi beban bagi Ibu.”

    Ayah itu memandangnya dengan mata yang teduh.

    “Kamu anak yang baik. Kamu begitu mencintai ibumu.”

    Anak itu balik bertanya.

    “Kalau Bapak?”

    Ayah itu tersenyum.

    “Aku juga sangat mencintai keluargaku. Aku ingin anak-anakku tetap sekolah. Aku ingin mereka memiliki masa depan yang lebih baik daripada ayahnya. Dalam himpitan hidup aku mengambil jalan yang salah. Aku berharap bisa pulang membawa rezeki. Tetapi aku justru pulang sebagai jenazah.”

    Keduanya terdiam.

    Lalu ayah itu berkata pelan.

    “Mungkin kita dipertemukan di sini karena sama-sama digerakkan oleh cinta.”

    Anak itu mengangguk.

    “Cinta kepada orang tua.”

    Ayah itu melanjutkan,

    “Cinta kepada anak.”

    Keduanya memandang bumi.

    Mereka melihat masih banyak anak berjalan ke sekolah dengan sepatu yang mulai rusak.

    Masih banyak orang tua yang menghitung sisa uang demi biaya pendidikan anak-anaknya.

    Masih banyak keluarga yang memendam kegelisahan yang tidak pernah diketahui siapa pun.

    Anak itu bertanya lirih.

    “Bapak… kepada siapa mereka berharap?”

    Ayah itu menarik napas panjang.

    “Kepada masyarakat yang mau peduli.”

    “Kepada sekolah yang mau memahami.”

    “Kepada negara yang hadir sebelum keluarga-keluarga kecil itu kehilangan harapan.”

    Kemudian ia menengadah ke langit.

    “Dan kepada Tuhan…”

    Anak itu ikut menengadah.

    Keduanya saling memandang.

    Lalu tersenyum.

    Karena mereka percaya, Tuhan Maha Tahu isi hati setiap ayah yang berjuang demi anaknya, setiap ibu yang menyembunyikan air matanya, dan setiap anak yang tetap bermimpi meski hidup dalam keterbatasan.

    Dari Batunya hingga Naruwolo, sesungguhnya yang gugur bukan hanya dua jiwa.

    Yang ikut gugur adalah rasa aman keluarga-keluarga kecil yang berjuang mempertahankan harapan bernama sekolah.

    Semoga tidak ada lagi seorang ayah yang harus mempertaruhkan nyawanya demi pendidikan anaknya.

    Semoga tidak ada lagi seorang anak yang memendam beban seorang diri karena takut menyusahkan orang tuanya.

    Karena pendidikan seharusnya menjadi jalan menuju masa depan.

    Bukan jalan yang mengantarkan keluarga pada kehilangan.

    Surabaya, 30 Juli 2026

    M. Isa Ansori
    Kolumnis, Dosen Psikologi Komunikasi, dan Pegiat Komunikasi Transaksional Analisis, Pengurus Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur, Wakil Ketua ICMI Jatim, Dewan Penasehat LHKP PD Muhammadiyah Surabaya dan Penggagas Gerakan Sekolah Bahagia DPP Koalisi Pegiat Pendidikan Ramah Anak Indonesia

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru