More
    BerandaUncategorizedMata Air Panas Banyu Kuning, Objek Wisata Alam Bojonegoro di Kawasan Hutan...

    Mata Air Panas Banyu Kuning, Objek Wisata Alam Bojonegoro di Kawasan Hutan Jati

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Bojonegoro, 6 Agustus 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Mata Air Panas Banyu Kuning terletak di Desa Krondonan, Kecamatan Gondang, Kabupaten Bojonegoro. Objek wisata ini bagai laboratorium alam untuk mempelajari sistem panas bumi (geotermal), proses hidrotermal, serta interaksi antara air tanah dan batuan vulkanik. Banyu Kuning menjadi penanda keberadaan sumber daya panas bumi di bawah permukaan

    Mata air ini memiliki air yang jernih meski batu-batu di bawahnya berwarna kuning. Objek wisata ini tercipta dari oksida besi (Fe₂O₃), lalu mengendap dan melapisi bebatuan di dasar sungai menjadi kuning.

    Guna mencapai Banyu Kuning, dari wilayah Kota Bojonegoro memerlukan menempuh jarak kurang lebih 50 km. Melewati hutan kawasan Temayang, jalanan berkelok dan jalanan setapak untuk turun ke bawah. Area ini juga terbilang masih asri dan cocok untuk berswafoto.

    Secara harfiah ‘Banyu’ dalam bahasa Jawa artinya Air. Banyu Kuning berada di kompleks perbukitan vulkanik Gunung Pandan. Suhu air panas di lokasi ini berkisar antara 40°C hingga 60°C, sehingga cukup hangat untuk dimanfaatkan sebagai wisata air panas alami. Air dari Banyu Kuning juga memiliki kandungan belerang (sulfur) sebagai salah satu penanda aktivitas hidrotermal.

    Dilansir dari situs Geopark Bojonegoro, secara geologis, kawasan ini tersusun atas batuan andesit hasil aktivitas vulkanik Gunung Pandan purba. Andesit berwarna abu-abu, bertekstur hipokristalin, didominasi oleh fenokris hornblenda dan plagioklas yang tertanam dalam massa dasar gelas vulkanik. Batuan ini bersifat masif namun memiliki rekahan-rekahan yang menjadi jalur sirkulasi air tanah. Litologi di lokasi ini didominasi oleh penggalan-penggalan lava andesit dan breksi vulkanik dari kompleks Gunung Pandan yang berumur Pleistosen.

    Mata air panas Banyu Kuning terbentuk ketika air tanah (akuifer) bersirkulasi ke kedalaman dan bersentuhan dengan batuan andesit yang masih menyimpan sisa panas dari aktivitas magmatisme di bawah permukaan. Air yang terpanaskan ini kemudian naik kembali ke permukaan melalui rekahan-rekahan batuan. Selama perjalanannya, air panas ini melarutkan mineral-mineral, terutama oksida besi (Fe₂O₃) dari batuan yang dilaluinya. Ketika air panas keluar ke permukaan, terjadi perubahan suhu dan tekanan yang menyebabkan oksida besi terlarut tersebut mengendap (presipitasi) di permukaan batuan, membentuk lapisan berwarna kuning hingga kemerahan.

    Di sekitar mata air, terbentuk mineral sekunder berwarna merah yang mengindikasikan kandungan zat besi (Fe) yang cukup signifikan dalam air, hasil dari pelarutan fluida kaya besi yang keluar bersama air panas.(exo)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru