Surabaya, 10 Agustus 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Khusus, Fakulats Ilmu Pendidikan (FIP), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Mochammad Fadillah Akbar meraih dua prestasi tingkat nasional sekaligus, yakni Juara 3 Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Nasional kategori Disabilitas dan Juara 1 Parade Busana Kebudayaan Indonesia di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Tangerang, pada 4–7 Agustus 2026 lalu.
Dua capaian tersebut tidak hanya menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam berkompetisi di tingkat nasional, tetapi juga memperlihatkan pentingnya ruang yang setara bagi mahasiswa penyandang disabilitas untuk mengembangkan potensi dan berprestasi. Dalam dua kompetisi tersebut, Akbar menunjukkan kemampuan yang berbeda, mulai dari pengembangan gagasan inovatif hingga kreativitas dalam mengangkat keberagaman budaya Indonesia.
Melalui bimbingan Acep Ovel Novari Beny dari PUI Disabilitas Unesa, pada Pilmapres, Akbar membawa gagasan INCO-HUB (Inclusive Coffee & Skill Hub) yang berfokus pada pemberdayaan ekonomi penyandang disabilitas rungu melalui pelatihan inklusif, praktik kerja nyata, hingga penempatan kerja dalam ekosistem UMKM kopi.
Selain mempresentasikan gagasan tersebut, mahasiswa penyandang disabilitas rungu itu juga menunjukkan 10 capaian unggulan serta kemampuan dalam public speaking, kepemimpinan, kewirausahaan, kompetisi, dan pengembangan inovasi yang berorientasi pada dampak sosial.
Sementara pada Parade Busana Kebudayaan Indonesia, Akbar bersama tim mengangkat keberagaman budaya Indonesia dengan memadukan sejumlah unsur busana adat Bali, Palembang, dan Jawa dengan tarian daerah. Penampilan tersebut menjadi media untuk menyampaikan pesan tentang keberagaman dan persatuan.
“Juara 1 Parade Busana mengajarkan saya bahwa keberagaman budaya dapat menjadi kekuatan untuk membangun persatuan,” tuturnya.
Bagi Akbar, kedua kompetisi tersebut memberikan pengalaman yang berbeda. Prestasi yang diraih bukan hanya tentang penghargaan, tetapi juga proses belajar, persiapan, dan keberanian untuk tampil serta memberikan kemampuan terbaik dalam kompetisi tingkat nasional.
Tantangan komunikasi sebagai mahasiswa penyandang disabilitas rungu juga menjadi bagian dari proses yang harus dikelolanya. Namun, kondisi tersebut tidak menghalanginya untuk mempersiapkan diri dan mengikuti kompetisi secara optimal.
“Saya menjadikannya sebagai motivasi untuk menunjukkan bahwa dengan persiapan, strategi, dan kepercayaan diri, saya tetap mampu berkompetisi dan memberikan yang terbaik di tingkat nasional,” katanya.
Kepala Seksi Minat, Bakat, Kompetensi, dan Penalaran Unesa, Noor Rohmah Mayasari, menilai capaian tersebut menjadi prestasi penting, terlebih kedua kompetisi tersebut baru pertama kali diselenggarakan tahun ini.
Menurutnya, capaian Akbar juga memperkuat posisi Unesa dalam pengembangan potensi mahasiswa, khususnya di bidang disabilitas dan seni. Karena itu, pembinaan mahasiswa berprestasi perlu dilakukan sejak awal perkuliahan melalui pemetaan potensi serta keterlibatan dalam berbagai kegiatan akademik dan nonakademik.
“Ke depan, Unesa berharap pembinaan yang dilakukan lebih dini dapat melahirkan lebih banyak mahasiswa berprestasi, baik dari kategori disabilitas maupun kategori diploma dan sarjana, untuk bersaing di tingkat nasional,” harapnya.
Bagi Akbar, kesempatan untuk berkompetisi perlu dimanfaatkan dengan mengenali potensi, berani mencoba, dan terus mengembangkan kemampuan. Ia berharap mahasiswa penyandang disabilitas tidak membatasi diri karena kondisi yang dimiliki, tetapi terus mengambil kesempatan untuk belajar dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Menurutnya, prestasi tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar, tetapi dari keberanian untuk memulai, konsisten mengembangkan diri, dan memberikan manfaat bagi orang lain.(her)
