More
    BerandaUncategorizedKadin Jatim Buka Peluang Kerja bagi Penyandang Disabilitas Melalui Pelatihan Pelayanan Prima

    Kadin Jatim Buka Peluang Kerja bagi Penyandang Disabilitas Melalui Pelatihan Pelayanan Prima

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Surabaya, 10 Agustus 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Pelatihan pelayanan prima yang digelar Kadin Institute bersama Kadin Jawa Timur dan Plan International menjadi salah satu upaya membuka peluang kerja bagi penyandang disabilitas. Tak hanya membekali peserta dengan keterampilan pelayanan, program ini juga diarahkan pada pemagangan hingga peluang terserap di dunia industri.

    Pelatihan berlangsung selama empat hari, Senin (3/8/2026) hingga Kamis (6/8/2026), di Kadin Institute. Dari sekitar 280 peserta yang menjadi sasaran program, sebanyak 20 peserta merupakan penyandang disabilitas, khususnya tuna netra.

    Direktur Kadin Institute, Nurul Indah Susanti, mengatakan program tersebut tidak berhenti pada pelatihan. Peserta nantinya akan mendapatkan kesempatan magang agar kompetensi yang diperoleh dapat diterapkan secara langsung di dunia kerja.

    “Kami memberikan beberapa pelatihan, mulai dari digital marketing, service excellence atau pelayanan prima, administrasi retail, administrasi dasar, hingga literasi finansial. Peserta ini merupakan anak-anak yang belum mendapatkan pekerjaan. Setelah pelatihan, mereka akan dimagangkan dan harapannya bisa diserap oleh industri sesuai dengan kompetensinya,” kata Nurul saat dikonfirmasi, Senin (10/8/2026).

    Menurutnya, pengalaman selama empat hari pelatihan menunjukkan bahwa penyandang disabilitas memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. Salah satu kemampuan yang terlihat menonjol adalah komunikasi dan kemampuan berbicara
    .
    “Alhamdulillah, selama empat hari kita latih, anak-anak bisa menyerap materi dengan baik. Ternyata kalau kita melatih anak yang memiliki kebutuhan khusus, kelebihannya ada di bicaranya. Bagus bicaranya. Komunikasinya cukup bagus dan mereka sangat antusias menerima materi,” ujarnya.

    Melihat potensi tersebut, Kadin Institute berencana memberikan pendalaman materi public speaking bagi para peserta disabilitas. Pelatihan lanjutan tersebut diharapkan semakin memperkuat kemampuan komunikasi mereka sebelum memasuki dunia kerja.

    “Kita akan berikan lagi pendalaman terkait public speaking dalam waktu dekat. Kita kuatkan lagi dua hari public speaking. Tadi kan pelayanan prima, ternyata mereka punya kelebihan. Itu yang akan kita latih,” jelas Nurul.

    Tak berhenti pada pelatihan, Kadin Institute juga tengah membuka akses pemagangan bagi 20 peserta penyandang disabilitas tersebut di sejumlah stasiun radio. Nurul menyebut pihaknya telah berkomunikasi dengan Ketua Persatuan Radio di Surabaya untuk membuka kesempatan magang bagi peserta.

    “Kami sudah menghubungi Pak Ismet selaku Ketua Persatuan Radio di Surabaya dan beliau bersedia menerima 20 anak ini untuk magang di radio. Setelah itu, bagaimana penyerapannya, kami kembalikan kepada industri,” katanya.

    Nurul menilai kemampuan peserta disabilitas selama pelatihan menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik tidak selalu menjadi hambatan untuk berkembang dan berkontribusi.

    “Saya melihat dari hasil hari ini, anak-anak luar biasa. Allah memberikan sesuatu itu ada kekurangan, tetapi di balik kekurangannya ternyata ada kelebihan. Suara dan gaya bicaranya sungguh luar biasa. Mereka sangat antusias ketika diberikan materi pelayanan prima,” tuturnya.

    Sementara itu, Ketua Umum Kadin Jawa Timur Adik Dwi Putranto mengatakan program tersebut diharapkan dapat mendorong penyandang disabilitas memperoleh kesempatan kerja yang setara dengan masyarakat lainnya.

    “Harapannya anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus ini bisa diterima oleh industri dan terserap, bisa bekerja seperti layaknya orang lain. Mendapatkan fasilitas yang sama seperti orang lain dan tentunya sesuai dengan kompetensi yang dimiliki,” ujar Adik.

    Menurut Adik, penguatan kompetensi juga akan diarahkan pada sertifikasi. Kadin Institute, kata dia, memiliki kerja sama dengan LSP Public Relations Nusantara sehingga kompetensi peserta dapat dikembangkan dan disertifikasi sesuai kebutuhan.

    “Perangkat instrumennya disesuaikan dengan kebutuhan asesi. Kebetulan di Kadin Institute juga bekerja sama dengan LSP Public Relations Nusantara yang memungkinkan untuk melatih dan men-sertifikasi hasil pelatihan Kadin Institute sesuai dengan kebutuhan asesinya,” katanya.

    Bagi peserta, pelatihan tersebut bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun kepercayaan diri menghadapi dunia kerja.

    Salah satunya dirasakan Fadlakal Jamal Aswar, 29 tahun, penyandang disabilitas tuna netra asal Surabaya yang tergabung dalam Komunitas Mata Hati. Ia mengaku sebelumnya telah mengikuti sejumlah pelatihan, tetapi materi pelayanan prima memberikan pengetahuan baru yang lebih aplikatif.
    “Di pelayanan prima saya mendapatkan lumayan banyak pengetahuan tambahan, baik secara akademis maupun praktik,” kata Jamal.

    Menurut Jamal, materi yang diberikan sebenarnya berangkat dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Namun, hal tersebut menjadi penting ketika diterapkan dalam pelayanan kepada orang lain.

    “Kalau kita ingin melayani dengan baik, maka kita harus baik dulu dengan diri kita. Kita harus bahagia, kita harus selesai dengan diri kita. Kalau kita bahagia, kita juga bisa membuat orang lain bahagia,” ujarnya.

    Ia juga menilai kemampuan membaca ekspresi dan bahasa tubuh menjadi tantangan tersendiri bagi penyandang tuna netra. Karena itu, materi pelayanan prima menjadi penting untuk membantu mereka memahami cara berkomunikasi dengan orang lain.

    “Body language dan ekspresi itu kami tidak bisa mendapatkan input dari melihat. Itu menjadi pekerjaan rumah bagi kami. Kesulitan kami adalah bagaimana membaca ekspresi dan body language. Senyum adalah fondasi dari pelayanan prima,” katanya.

    Jamal yang merupakan musisi, baru-baru ini juga bekerja sebagai barista dan berperan sebagai koordinator website di Komunitas Mata Hati. Ia berharap pelatihan tersebut semakin memperkuat kapabilitas dirinya dan teman-teman penyandang disabilitas agar dapat berkontribusi lebih luas di masyarakat.

    “Harapannya, pelatihan ini bisa menjadikan kapabilitas saya dan teman-teman bertambah agar bisa berkontribusi di masyarakat. Jumlah penyandang disabilitas cukup besar. Sayang kalau hanya menjadi sekumpulan manusia. Kami harus bisa berkontribusi, mulai dari yang paling kecil di rumah, lingkungan, hingga negara,” tuturnya.

    Jamal juga menyampaikan pesan kepada penyandang disabilitas lainnya agar tidak berhenti pada kondisi sebagai penerima bantuan.
    “Jangan terus meminta untuk dikasihani, tetapi mulailah untuk berkontribusi,” tegasnya.

    Hal serupa dirasakan Lestari Daeng Baba, peserta asal Sidoarjo yang juga merupakan penyandang disabilitas tuna netra. Ia mengaku sempat merasa gugup sebelum mengikuti pelatihan. Namun, setelah mengikuti materi, ia justru mendapatkan pengalaman baru mengenai cara menghadapi berbagai karakter orang dalam memberikan pelayanan.

    “Awalnya takut karena sedikit gugupan. Tetapi dengan ikut ini ada banyak hal tentang bagaimana melayani orang dengan baik. Selama ini saya hanya tahu dari drama dan sebagainya. Dengan pelatihan ini saya jadi tahu bagaimana seharusnya melayani orang secara prima,” ujar Lestari.

    Sehari-hari, Lestari membantu orang tuanya menjalankan usaha katering sekaligus menjalani kuliah secara daring di Universitas Terbuka. Menurutnya, materi pelatihan sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari, terutama ketika harus menghadapi pelanggan dengan karakter yang berbeda-beda.

    “Kalau bekerja di tempat lain dan melayani banyak orang, sangat penting memahami bahwa sifat setiap orang berbeda. Saya sangat terkesan dengan materi itu sehingga bisa memahami bagaimana melayani mereka dengan baik,” katanya.

    Salah satu pengetahuan yang menurutnya paling bermanfaat adalah cara menghadapi pelanggan yang menyampaikan keluhan. “Misalnya biasanya saya tidak tahu bagaimana ketika ada yang komplain. Dengan pelatihan ini saya jadi tahu,” ujarnya.

    Lestari menilai pelatihan tersebut juga memberikan pengalaman sosial yang positif. Bertemu dan belajar bersama peserta lain membuatnya semakin percaya diri. “Kesan saya sangat baik dan seru. Bisa belajar dengan teman-teman, jadi merasa lebih bahagia dan nyaman,” tuturnya.

    Program pelatihan tersebut rencananya tidak berhenti pada kegiatan Agustus. Kadin Institute menyebut program serupa akan kembali digelar setelah Oktober dan dilakukan secara berkelanjutan sesuai kebutuhan. Dengan kombinasi pelatihan, penguatan public speaking, pemagangan, dan sertifikasi, penyandang disabilitas diharapkan tidak hanya memperoleh keterampilan, tetapi juga memiliki akses yang lebih terbuka untuk masuk dan berkontribusi di dunia kerja.(boy)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru