Mojokerto, 19 Agustus 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Bank Indonesia memperkuat kapasitas pengelola Desa Wisata Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, melalui pendampingan teknis, pengembangan produk lokal, peningkatan tata kelola, serta dukungan sarana dan prasarana.
Advisor Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Donni Fajar Anugrah, mengatakan peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam pengembangan desa wisata agar pengelola mampu menjalankan kegiatan wisata secara profesional sekaligus mempertahankan karakter lokal.
Hal itu disampaikan Donni kepada Tim Jelajah UMKM dan Pondok Pesantren Jawa Timur 2026, Selasa (18/8/2026).
Donni menjelaskan, pada 2024 Bank Indonesia bersinergi dengan STIEPAR YAPARI Bandung untuk melakukan asesmen terhadap Desa Wisata Ketapanrame. Dari asesmen tersebut terdapat sejumlah aspek yang masih dapat dioptimalkan, meliputi pengembangan paket wisata, peningkatan jumlah pengunjung, serta optimalisasi UMKM lokal.
“Pendampingan teknis dilakukan melalui peningkatan kapasitas kepada Pokdarwis dan sapta pesona, pengelolaan homestay dan kepemanduan wisata, pengembangan produk khas desa, serta penguatan kelembagaan dan inovasi desa wisata,” jelasnya.
Selain pendampingan teknis, Bank Indonesia juga memberikan dukungan sarana dan prasarana. Bantuan tersebut antara lain berupa signage, kursi kerja, kursi futura, AC 1 PK, mesin kasir, atraksi kamar mandi, gazebo, dan playground.
Menurut Donni, penguatan desa wisata tidak hanya dilakukan melalui pembangunan fisik. Pengelola juga perlu memiliki kemampuan dalam mengelola usaha, meningkatkan kualitas pelayanan, mengembangkan produk, serta memanfaatkan teknologi digital.
Pokdarwis dan BUMDes didorong memiliki tata kelola usaha yang transparan, akuntabel, dan mampu mengembangkan usaha secara berkelanjutan.
Pada sisi UMKM, produk lokal diarahkan tidak sekadar menjadi komoditas yang dijual kepada wisatawan. Produk tersebut dikembangkan menjadi bagian dari pengalaman wisata melalui kemasan, standardisasi kualitas, sertifikasi legalitas dan halal, serta paket edukasi.
“Potensi lokal seperti kopi, produk pertanian dan kerajinan dikemas menjadi wisata edukasi, dibarengi standardisasi kualitas, sertifikasi halal dan kemasan yang siap bersaing di pasar nasional,” ujarnya.
Digitalisasi juga menjadi bagian dari penguatan ekosistem desa wisata. Pemanfaatan QRIS dilakukan untuk mendukung transaksi non-tunai, sementara pelaku UMKM dan pemuda desa didorong memanfaatkan digital untuk pemasaran dan promosi.
Pada komoditas kopi, digitalisasi juga diterapkan melalui pencatatan produksi menggunakan SIAPIK, onboarding UMKM ke platform e-commerce, hingga penggunaan QRIS pada kedai kopi di Ketapanrame.
Bank Indonesia juga memanfaatkan Java Coffee & Flavors Festival sebagai salah satu etalase promosi komoditas kopi. Kegiatan yang berlangsung pada 17–19 Juli 2026 di Alun-Alun Kota Surabaya tersebut mencatat transaksi business matching perdagangan sebesar Rp65 miliar dan penjualan showcase sebesar Rp1,6 miliar.
“Melalui pendekatan ini, desa wisata dapat meningkatkan standar ekonomi dan layanan, sementara nilai budaya, kelestarian lingkungan dan kepemilikan aset tetap berada di tangan masyarakat lokal,” kata Donni. (jal)
