Jakarta, 2 September 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin, memaparkan inovasi Perisai Anak dalam Seminar Implementasi Proyek Perubahan di ASN Corporate University, LAN RI, Jakarta Pusat, Selasa (1/9/2026). Perisai Anak merupakan ekosistem pelindungan anak di ruang digital yang diinisiasi Pemprov Jatim dengan jargon “Tumbuh Aman di Ruang Digital.
Sherlita menjelaskan, implementasi Perisai Anak telah melibatkan 39 stakeholder, meningkat dari sebelumnya 26. Dalam dua bulan pelaksanaan, tercatat 21 kegiatan jangka pendek dan 4 kegiatan jangka menengah telah digelar, mencakup edukasi, kampanye publik, koordinasi, pengembangan layanan, hingga uji coba layanan digital. Program ini juga telah menjangkau 460 anak melalui komunikasi dengan anak dan orang tua.
Dari sisi keberlanjutan, Perisai Anak diarahkan masuk dalam Draft Rencana Aksi Daerah Penyelenggaraan Pelindungan Perempuan dan Anak (RAD PPA) Jawa Timur 2026–2030, dengan target integrasi di 38 kabupaten/kota pada 2030. Program tersebut mencakup penguatan Cerdas Digital, pengembangan dan diseminasi konten edukasi, serta pemanfaatan Perisai Anak di kabupaten/kota. Keberlanjutan juga diarahkan melalui penguatan regulasi berupa Perda Jatim dan RaperGub Jatim tentang Penyelenggaraan PPA. Implementasi program turut mendapat eksposur melalui 70 publikasi di 18 media nasional.
Pada aspek pengembangan kompetensi, sebanyak 20 anggota Tim Efektif yang terdiri dari perwakilan eselon 3, eselon 4 dan staf terlibat dalam pelaksanaan proyek dan memperoleh total 53 sertifikat pengembangan kompetensi.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Adhy Karyono, selaku mentor, menyampaikan bahwa pelindungan anak saat ini tidak cukup hanya mengandalkan undang-undang yang sudah ada. Menurutnya, pelindungan anak di ruang digital membutuhkan sistem keamanan siber yang kuat, mengingat anak menghadapi risiko seperti judi online, kecanduan game online hingga pornografi. “Pelindungan anak tidak cukup hanya dengan undang-undang. Di ruang digital, kita membutuhkan sistem keamanan siber yang kuat,” ujar Sekda Adhy.
Sekda menjelaskan, Pemprov Jatim mengambil inisiatif membangun ekosistem pelindungan anak melalui kolaborasi lintas sektor. Perisai Anak melibatkan Dinas Kominfo, Perangkat Daerah terkait, unsur perlindungan anak, UNICEF, serta institusi akademik seperti King’s College dan Sydney Western University. “Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengambil inisiatif membangun ekosistem pemerintahan digital terkait pelindungan anak. Ini kita bangun melalui kolaborasi lintas OPD dan lintas sektor,” jelasnya.
Sekda Adhy juga menyampaikan pentingnya dashboard atau aplikasi yang sederhana dan menarik agar dapat digunakan anak maupun orang tua, termasuk untuk membantu mendeteksi risiko atau kecanduan digital sejak dini. Program tersebut selanjutnya diarahkan terintegrasi dengan lingkungan sekolah melalui Dinas Pendidikan untuk jenjang SMA, SMK dan SLB, Kemenag Jatim untuk madrasah serta didorong untuk diterapkan kabupaten/kota pada jenjang SMP dan SD.
Sementara itu, Sestama LAN RI, Andi Taufik, selaku penguji, menyampaikan apresiasi terhadap inovasi Perisai Anak yang diinisiasi Kadis Sherlita. Ia menilai inovasi tersebut penting untuk dikembangkan lebih luas, tidak hanya di Jawa Timur, tetapi juga menjadi gerakan nasional. “Perisai Anak ini sangat krusial. Jangan hanya berhenti di Jawa Timur, tetapi harus bisa dikampanyekan menjadi gerakan nasional,” tuturnya.
Sestama LAN RI juga menekankan pentingnya menjaga sentuhan kemanusiaan di tengah transformasi digital. Menurutnya, perkembangan teknologi perlu tetap diimbangi dengan komunikasi langsung dan hubungan personal, khususnya antara orang tua dan anak. “Walaupun birokrasi sedang bertransformasi menuju otomatisasi digital, sentuhan kemanusiaan atau personal touch tidak boleh hilang,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa Perisai Anak memiliki peluang untuk direplikasi di kabupaten/kota dan dikembangkan ke tingkat nasional maupun internasional. “Perisai Anak memiliki potensi untuk direplikasi di kabupaten/kota dan memiliki peluang untuk diikutsertakan dalam penghargaan internasional seperti United Nations Public Service Awards,” ungkapnya.
Menutup paparannya, Kadis Sherlita menyampaikan, “Kita tidak bisa membendung teknologi, namun kita tidak bisa membiarkan anak-anak masuk belantara digital,” pungkasnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Bappeda Provinsi Jawa Timur, Iwan, yang juga mengemban tugas sebagai Plt. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur, turut memaparkan proyek perubahannya. Ia menghadirkan inovasi bertajuk Jatim Melesat, sebuah inovasi tata kelola perdagangan luar negeri yang dirancang khusus untuk membangun ekosistem ekspor Jawa Timur yang terintegrasi, inovatif, dan berdaya saing global. (ghf/hjr)s)
