Lumajang, 3 September 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Pengembangan pisang Cavendish di Kabupaten Lumajang tidak hanya diarahkan melalui penambahan lahan, tetapi juga penguatan kemitraan antara petani dan perusahaan. Pola ini menjadi salah satu jalan untuk membantu petani mengembangkan budidaya dengan standar produksi yang lebih terarah.
Ketua DPC Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Lumajang, Jamaluddin, mengatakan kemitraan menjadi bagian penting dalam pengembangan Cavendish karena petani dapat memperoleh pendampingan sekaligus mengikuti standar operasional prosedur (SOP) yang diterapkan perusahaan.
“Pengembangannya dilakukan melalui kemitraan petani dengan perusahaan, sehingga budidaya bisa mengikuti SOP yang sudah ditetapkan,” ujar Jamaluddin, Rabu (2/9/2026).
Melalui pola tersebut, petani tidak berjalan sendiri dalam mengembangkan komoditas Cavendish. Standar budidaya menjadi acuan sejak proses penanaman hingga pemeliharaan tanaman, sehingga kualitas produksi dapat lebih terarah.
Kemitraan juga membuka ruang bagi terjadinya transfer pengetahuan dan pengalaman antara pelaku usaha dengan petani. Bagi petani, penerapan standar budidaya yang lebih terukur dapat menjadi bekal untuk meningkatkan kemampuan mengelola usaha tani secara profesional.
Hal tersebut penting karena pengembangan komoditas hortikultura bernilai ekonomi membutuhkan konsistensi dalam proses produksi. Perbedaan cara budidaya dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman maupun mutu hasil panen. Dengan adanya SOP, petani memiliki pedoman yang lebih jelas dalam menjalankan kegiatan budidaya.
Pengembangan Cavendish melalui kemitraan juga dapat melibatkan petani dengan skala lahan yang relatif beragam. Lahan petani yang umumnya berada pada kisaran 2 hingga 3 hektare dapat menjadi bagian dari pengembangan komoditas secara lebih terorganisasi.
Sejumlah wilayah yang diarahkan untuk pengembangan Cavendish meliputi Kecamatan Jatiroto, Sukodono, Randuagung, Kunir, Rowokangkung, dan Tempeh. Keterlibatan petani dari berbagai wilayah dapat memperkuat basis produksi sekaligus membuka kesempatan ekonomi yang lebih luas di tingkat desa.
Bagi masyarakat, kemitraan yang berjalan baik dapat memberikan manfaat melalui terbentuknya ekosistem usaha pertanian yang lebih kuat. Tidak hanya petani, kegiatan tersebut juga berpotensi menggerakkan tenaga kerja serta usaha pendukung seperti pengangkutan, pengemasan dan distribusi hasil pertanian.
Namun, kemitraan tetap membutuhkan hubungan yang saling menguntungkan dan keterbukaan antara petani dan perusahaan. Petani perlu memahami standar yang harus dipenuhi, sementara pola kerja sama harus memberikan ruang yang jelas bagi petani untuk berkembang sebagai pelaku usaha.
Dengan demikian, kemitraan tidak sekadar menjadi pola produksi, tetapi dapat menjadi sarana memperkuat kapasitas petani. Pengetahuan budidaya, penerapan SOP, dan pengelolaan usaha yang lebih terarah menjadi modal penting agar pengembangan pisang Cavendish di Lumajang dapat memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat. (MC Diskominfo Kab. Lumajang)
