Lumajang, 4 Oktober 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Layanan administrasi kependudukan tidak selalu harus menunggu warga datang ke kantor pelayanan. Di Lumajang, petugas justru mendatangi ruang-ruang tempat masyarakat beraktivitas, mulai dari sekolah hingga ruang publik, untuk mendekatkan layanan sekaligus memperluas aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD).
Pola jemput bola tersebut menjadi salah satu praktik pelayanan yang terus dilakukan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Lumajang sepanjang 2026.
Salah satunya berlangsung di area Car Free Day (CFD). Petugas membuka layanan administrasi kependudukan di tengah aktivitas warga yang sedang berolahraga dan bersantai. Lima layanan disediakan sekaligus, yakni penerbitan Kartu Keluarga, akta kelahiran, akta kematian, perekaman KTP elektronik, dan aktivasi IKD.
Dari layanan tersebut, aktivasi IKD menjadi layanan yang paling banyak dimanfaatkan. Sebanyak 67 warga berhasil melakukan aktivasi IKD dalam kegiatan tersebut.
Kehadiran layanan di ruang publik membuat proses administrasi kependudukan dapat dilakukan bersamaan dengan aktivitas warga.
Dari CFD Berlanjut ke Sekolah
Pendekatan yang sama juga diterapkan kepada kelompok masyarakat yang memiliki kebutuhan pelayanan spesifik, salah satunya pelajar yang mulai memasuki usia wajib KTP.
Pada 11 Agustus 2026, Tim Reaksi Cepat Pelayanan (RCP) Disdukcapil mendatangi SMAN Candipuro untuk melakukan perekaman KTP-el sekaligus aktivasi IKD bagi pelajar. Perangkat perekaman biometrik dan layanan aktivasi dibawa langsung ke lingkungan sekolah.
Salah seorang siswa, Irma Suryani yang mengikuti pelayanan tersebut merasakan langsung manfaat pola jemput bola.
“Enak banget sih, jadi nggak perlu izin lagi buat ke kantor Dukcapil. Sekalian aktivasi IKD juga, jadi KTP saya udah ada di HP.”
Bagi petugas, pendekatan tersebut bukan sekadar memindahkan lokasi pelayanan. Ada pula upaya mengenalkan layanan digital kepada generasi muda.
“Kami ingin generasi muda Lumajang sejak dini sudah terbiasa dengan layanan digital.”
Kegiatan di sekolah juga membuat proses perekaman KTP-el dan aktivasi IKD dapat dilakukan dalam satu rangkaian. Setelah perekaman, siswa yang KTP fisiknya sudah tersedia dapat langsung melanjutkan proses aktivasi IKD dengan pendampingan petugas.
Pola tersebut kembali dilakukan di sejumlah sekolah lain. Data layanan Disdukcapil mencatat jemput bola perekaman KTP-el dan aktivasi IKD juga dilakukan di SMK Negeri Tekung, SMK Negeri Klakah, dan SMKN Tempursari pada Agustus hingga September 2026.
Mendekatkan Layanan, Bukan Sekadar Mengejar Aktivasi
Dalam keterangannya, Minggu (4/10/2026), Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lumajang Arif Heri Kurniawan berada dalam penguatan pelayanan administrasi kependudukan di daerah, termasuk perluasan akses pelayanan melalui pola jemput bola.
Pendekatan tersebut tidak hanya menyasar pelajar. Disdukcapil juga membawa pelayanan langsung kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan kemudahan akses, termasuk warga lanjut usia dan penyandang disabilitas. Data publikasi Disdukcapil menunjukkan pelayanan RCP pada Agustus 2026 menyasar warga lansia di Pasrujambe serta warga penyandang disabilitas di sejumlah wilayah Kabupaten Lumajang.
Dalam konteks aktivasi IKD, pola seperti ini menjadi penting karena setiap kelompok masyarakat memiliki kondisi dan kebutuhan pelayanan yang berbeda. Ada warga yang mudah datang ke kantor pelayanan, tetapi ada pula yang membutuhkan petugas untuk datang lebih dekat.
Karena itu, ukuran keberhasilan jemput bola tidak hanya dilihat dari banyaknya layanan yang diselesaikan, tetapi juga dari seberapa mudah masyarakat memperoleh kesempatan untuk mengakses layanan administrasi kependudukan.
“Data per 23 September 2026 mencatat terdapat 44.975 pengguna IKD di Lumajang dari 864.599 rekam dinamis KTP, atau sekitar 5,20 persen,” terang dia.
Angka tersebut menunjukkan bahwa perluasan IKD masih menjadi proses yang terus berjalan. Di tengah proses itu, pelayanan langsung ke sekolah, ruang publik, maupun kelompok masyarakat menjadi salah satu cara untuk mendekatkan layanan kepada warga.
Membuat Layanan Digital Lebih Mudah Dikenal
Jemput bola juga memiliki fungsi edukasi. Ketika petugas datang langsung ke lingkungan masyarakat, warga tidak hanya mendapatkan layanan, tetapi juga dapat mengetahui bagaimana dokumen kependudukan digital digunakan.
Disdukcapil Lumajang menjelaskan bahwa IKD bukan sekadar menyimpan identitas dalam telepon seluler. IKD juga dapat mendukung sejumlah layanan administrasi kependudukan secara digital, sehingga masyarakat perlu memahami manfaat dan cara penggunaannya.
Dengan pola tersebut, aktivasi IKD ditempatkan sebagai bagian dari pelayanan yang lebih dekat dan mudah dipahami masyarakat.
Pada akhirnya, digitalisasi administrasi kependudukan membutuhkan dua hal sekaligus, yaitu sistem yang tersedia dan masyarakat yang dapat mengaksesnya.
Lumajang memilih salah satu cara untuk mempertemukan keduanya dengan mendatangi warga di ruang aktivitas mereka. Dari CFD hingga sekolah, layanan dibawa lebih dekat agar proses administrasi kependudukan tidak selalu menjadi urusan yang mengharuskan masyarakat datang ke kantor.
Bagi warga, mungkin perubahannya terlihat sederhana: petugas datang lebih dekat. Namun dari pelayanan seperti itulah masyarakat memiliki kesempatan lebih mudah untuk mengenal, mengaktifkan, dan mulai memanfaatkan identitas digital dalam layanan pemerintah yang tersedia. (MC Diskominfo Kab. Lumajang)
