Surabaya, 19 Oktober 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Berawal dari kendala membudidayakan lele, Yunus, peternak asal Desa Sedeng, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, mulai melirik peluang usaha peternakan terpadu. Ia tertarik mencoba teknik tumpangsari yang menggabungkan pemeliharaan bebek dan lele dalam satu lokasi agar lebih efisien dan memberikan hasil dari dua komoditas sekaligus.
“Saya tertarik mencoba gayatri atau ternak bebek juga karena sepertinya itu yang sedang tren saat ini,” ungkap Yunus saat mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) di Desa Sedeng, Sabtu (17/10/2026).
Berangkat dari Kendala Beternak
Sebelumnya, Yunus menjalankan usaha budidaya lele. Namun, keterbatasan air membuat pertumbuhan ikan terhambat sehingga hasil panen belum memuaskan. Ia terakhir kali memanen lele pada awal 2026 dan mengikuti pelatihan dengan harapan memperoleh pengetahuan mengenai pemberian pakan yang lebih sesuai.
Setelah mengetahui beragam potensi peternakan warga Desa Sedeng, Yunus mulai mempertimbangkan kombinasi budidaya bebek dan lele. Dalam konsep yang ia bayangkan, bebek dipelihara di bagian atas, sedangkan lele berada di bawah. Kotoran bebek harapannya dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi bagi ikan.
Perhatikan Efisiensi dan Kesehatan Ternak
Ketua pelaksana pengabdian masyarakat Prof Dr Sunaryo Hadi Warsito drh MP menilai gagasan tersebut menarik karena memungkinkan peternak mengembangkan dua komoditas dalam satu lokasi. Meski demikian, ia menyarankan penggunaan kandang baterai untuk bebek karena dinilai lebih sesuai dengan kondisi Desa Sedeng.
“Menurut saya teknik ini dapat dilakukan, namun peternak perlu memperhatikan kebersihan dan kesehatan yang sangat ketat agar kualitas masing-masing panen tetap terjaga,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa penerapan sistem terpadu perlu mempertimbangkan pengelolaan lingkungan dan kesehatan ternak. Untuk mendukung kualitas ternak, Prof Hadi juga menyebut premiks omega dan tepung cacing yang kaya omega sebagai alternatif bahan pendukung nutrisi. Melalui pendampingan tersebut, FKH UNAIR berharap peternak dapat mengembangkan usaha berdasarkan pengetahuan yang tepat sekaligus menyesuaikan inovasi dengan kondisi dan potensi lokal. (naf)
