Surabaya 12 Mei 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Universitas Airlangga (UNAIR) sukses menggelar ajang pemberdayaan perempuan bertajuk Womenair 2026 pada Sabtu (9/5/2026), bertempat di Auditorium Candradimuka, Gedung Kuliah Bersama (GKB) Kampus MERR-C UNAIR, kegiatan ini menghadirkan dosen manajemen Dr Tri Siwi Agustina SE MSi yang membedah peran sentral perempuan sebagai motor penggerak ekonomi melalui sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Keunggulan Multitasking dan Storytelling Perempuan
Dosen Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR tersebut memaparkan bahwa berdasarkan data nasional, sekitar 64 persen pelaku UMKM di Indonesia adalah perempuan. Menurutnya, dominasi ini didukung oleh kemampuan alami perempuan dalam mengelola berbagai tanggung jawab sekaligus.
“Perempuan keren banget ya, artinykita itu multitasking. Apa pun bisa kita lakukan, dan kita merasa itu adalah kewajiban kita yang dilakukan setiap hari. Nah, jadi sebenarnya itu kelebihan-kelebihan yang kita miliki,” ujarnya di hadapan para peserta.
Selain itu, ia menyoroti bakat alami perempuan dalam bercerita (storytelling) yang sangat efektif untuk membangun kedekatan emosional dengan pelanggan. Namun, ia mengingatkan agar kemampuan ini digunakan secara profesional. “Kita punya bekal untuk menceritakan usaha itu, tetapi enggak boleh curcol berlebihan. Lama-lama orang tidak melihat kegigihan usaha kita, tetapi karena menjual kesedihan. Itu kalau storytelling-nya overdosis,” tegasnya.
Strategi Mindset Solutif di Era Kreatif
Lebih lanjut, Dr Siwi menekankan bahwa kemandirian ekonomi harus dimulai dengan pola pikir yang berorientasi pada solusi pasar. Ia melihat banyak pelaku usaha pemula yang terjebak hanya pada kemampuan produksi tanpa melihat kebutuhan konsumen yang sebenarnya.
“Kesalahan yang paling sering terjadi adalah memulai usaha berdasarkan apa yang kita bisa saja, tapi tidak didasarkan pada apa yang pasar inginkan. Jadi harus disesuaikan dulu siapa yang akan beli produk tersebut,” jelas pakar yang telah menulis 14 buku kewirausahaan ini. Ia juga mendorong peserta untuk mengoptimalkan pemasaran berbiaya rendah (low cost marketing) melalui media sosial agar jangkauan bisnis bisa meluas secara organik.
Perubahan dan Semangat Menghidupi Hidup
Melengkapi perspektif Dr Siwi, narasumber kedua, Tabitha Neema Christy SPsi, yang merupakan founder Wepose Indonesia, menyoroti pentingnya peran anak muda sebagai jembatan perubahan. Ia menekankan bahwa keberanian untuk bersuara dan berkarya adalah kunci utama pemberdayaan, terutama bagi generasi Z yang sering terjebak dalam rasa tidak percaya diri (insecurity).
“Pentingnya anak muda untuk masuk sebagai jembatan atau katalisator mempercepat terjadinya perubahan. Kadang kita merasa kurang karena melihat kekurangan saja, padahal kita punya banyak nilai plus. Jangan sampai masa lalu yang jelek menghalangi tujuan kita, karena kita lahir untuk sebuah tujuan (purpose),” ungkap Tabitha..
Tabitha juga membagikan pengalamannya membangun gerakan sosial yang kini telah menjangkau berbagai titik di Indonesia. Ia mengajak para perempuan untuk lebih mindful dalam menghadapi beban hidup dan berani menunjukkan karya melalui media sosial guna menginspirasi orang lain.
“Dimulai dari satu orang, itu bisa untuk diri sendiri, keluarga, komunitas, dan bangsa kita. Terus semangat menghidupi hidup, sederhana dalam sikap, kaya dalam karya,” pungkasnya yang disambut tepuk tangan meriah dari peserta.(rin)
