Surabaya 9 Juli 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Banyak calon orang tua menganggap pemeriksaan kehamilan baru penting dilakukan ketika usia kandungan telah memasuki trimester akhir. Padahal, sebagian besar skrining untuk mendeteksi kelainan bawaan justru berlangsung sejak trimester pertama, ketika organ-organ vital janin mulai terbentuk.
Pesan tersebut disampaikan dr Rozi Aditya Aryananda SpOG SubspKFm PhD dalam penyuluhan bertajuk “Skrining Detail Kehamilan: Kapan dan Mengapa?” pada rangkaian pengabdian masyarakat kolaboratif Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga bersama Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Vokasi (FV), Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), serta Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Selasa (7/7/2026).
Trimester Pertama Jadi Momentum Penting
Dr. Rozi menjelaskan bahwa perkembangan janin berlangsung sangat cepat sejak awal kehamilan. Bahkan pada usia kehamilan sekitar enam minggu, jantung janin mulai terbentuk. Memasuki minggu kedelapan, kantong kehamilan telah berkembang menjadi janin dengan pembentukan otak yang semakin jelas, sedangkan pada usia kehamilan 10 hingga 13 minggu berbagai risiko kelainan maupun sindrom mulai dapat teridentifikasi melalui skrining.
“Sebenarnya pada trimester pertama kita sudah bisa melihat apakah ada kelainan pada bayi. Karena itu, skrining tidak sebaiknya menunggu usia kehamilan sudah besar,” jelas dr Rozi.
Menurutnya, perkembangan teknologi juga memungkinkan deteksi dini melalui pemeriksaan laboratorium yang menganalisis darah ibu hamil untuk mengidentifikasi risiko kelainan kromosom pada janin. Hasil skrining tersebut menjadi dasar bagi dokter untuk menentukan pemantauan maupun penanganan lanjutan apabila ditemukan faktor risiko tertentu.
Setiap Trimester Memiliki Tujuan Berbeda
Dr. Rozi menegaskan bahwa pemeriksaan kehamilan memiliki fokus yang berbeda pada setiap trimester. Pada trimester kedua, perhatian utama mengarah pada pembentukan dan evaluasi organ-organ janin, terutama otak, jantung, serta saluran pencernaan.
Sementara itu, ketika memasuki trimester ketiga, fokus pemeriksaan bergeser pada pemantauan pertumbuhan janin, kesejahteraan bayi, serta persiapan menghadapi persalinan.
“Begitu masuk trimester ketiga, fokusnya bukan lagi pembentukan organ, tetapi bagaimana bayi tumbuh dan berkembang dengan baik serta bagaimana mempersiapkan persalinan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa asupan gizi ibu sangat mempengaruhi pertumbuhan janin pada trimester ketiga. Kekurangan nutrisi dapat menghambat pertumbuhan janin, sedangkan kelebihan asupan, terutama gula, dapat meningkatkan penumpukan lemak pada janin sehingga berisiko melahirkan bayi dengan berat badan berlebih.
Kebutuhan Gizi Berubah di Setiap Trimester
Selain waktu pemeriksaan, kebutuhan nutrisi ibu hamil juga berubah mengikuti perkembangan janin. Pada trimester pertama, asam folat berperan penting dalam pembentukan organ-organ tubuh bayi. Memasuki trimester kedua, kebutuhan energi, protein, dan kalsium meningkat untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan janin.
Sementara pada trimester ketiga, kebutuhan zat besi menjadi semakin penting. Hal tersebut karena volume darah ibu meningkat selama kehamilan sehingga risiko anemia juga bertambah. “Kebutuhan ibu hamil berbeda di setiap trimester. Karena itu, pemenuhan nutrisi dan pemeriksaan kehamilan harus disesuaikan dengan tahap perkembangan janin,” terang dr Rozi.
Melalui kegiatan ini, FKH UNAIR berharap masyarakat semakin memahami bahwa skrining kehamilan bukan sekadar pemeriksaan rutin, tetapi upaya deteksi dini yang perlu berlangsung pada waktu yang tepat. Dengan pemeriksaan dan pemenuhan gizi sesuai setiap tahap kehamilan, kesehatan ibu dan janin dapat dipantau secara optimal demi melahirkan generasi yang sehat dan berkualitas. (naf)
