Surabaya 24 Juni 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Universitas Airlangga (UNAIR) kembali ambil peran dalam forum internasional Global Sustainable Development Congress (GSDC) pada Senin-Kamis (22-25/6/2026). Ketua Badan Perencanaan dan Pengembangan (BPP) UNAIR, Prof Dr Dian Ekowati SE MSi MAppCom(OrgCh) PhD hadir sebagai pembicara dalam forum yang diselenggarakan Times Higher Education (THE) tersebut. Ia menyoroti bagaimana implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) di perguruan tinggi dapat berdampak pada masyarakat global.
“Di Indonesia, kami selaku perguruan tinggi mendapatkan mandat untuk berfokus menjadikan SDGs sebagai salah satu agenda kami. Akan tetapi, setiap universitas memiliki prioritas pada SDGs tertentu,” tutur guru besar yang akrab disapa Didin itu.
Strategi UNAIR
Untuk menjalankan mandat tersebut, UNAIR telah menyusun berbagai strategi khusus dalam menanamkan SDGs di kampus. Terbukti, pada tahun 2025, strategi dan tersebut berhasil mengantarkan UNAIR pada posisi pertama di Indonesia serta nomor 9 di dunia dalam pemeringkatan THE Impact.
Salah satu strategi yang UNAIR lakukan adalah melalui riset yang terintegrasi dengan agenda SDGs. “Dalam seluruh riset, kami mencoba menanamkan spirit SDGs. Dengan demikian, setiap peneliti akan menemukan semuanya yang berhubungan dengan SDGs dalam riset kami,” ucapnya di Garuda Hall, ICE BSD City Tangerang.
Prof Didin menambahkan, UNAIR tidak hanya mengimplementasikan SDGs tetapi juga melakukan monitoring agar setiap nilai keberlanjutan dapat menghasilkan dampak dan luaran nyata serta didukung dengan kebijakan dan sistem. Ia mencontohkan implementasi SDG 6: Clean Water and Sanitation, di mana UNAIR melalui Fakultas Sains dan Teknologi membangun akses sanitasi bersih di Gili Iyang; menyediakan akses air minum untuk civitas; yang didukung dengan kebijakan sistem pengelolaan air berkelanjutan di universitas. “Intinya Ini adalah pendekatan multi level,” ucapnya.
Dalam perkembangannya, UNAIR juga mengintegrasikan teknologi dengan implementasi SDGs. “Kami memiliki Sustainability Dashboard yang dikembangkan oleh BPP dan UNAIR Satu Data. Kami mengembangkannya dengan tujuan tidak hanya untuk mendukung dan memonitor implementasi SDGs, tetapi juga memudahkan untuk menarik dan mendorong engagement dan knowledge exchange tidak hanya dari expert internal tetapi juga eksternal,” terangnya.
Aksi Kolaboratif
Lebih lanjut, Prof Didin mengungkapkan bahwa UNAIR terus meningkatkan aksi kolaboratif dalam mewujudkan dampak global. “Kami berupaya menggencarkan kolaborasi. Kolaborasi di berbagai level, baik nasional maupun global akan mendorong mobilisasi ilmu pengetahuan. Dan kami percaya bahwa itu akan signifying impacts. Itulah alasan kami berada di sini,” katanya.
Prof Didin menekankan bahwa kolaborasi harus didesain secara detail dan fit model to purpose. “Identifikasi kebutuhan menjadi penting untuk model kolaborasi apa yang fit dan mampu menghasilkan output dan dampak yang besar bagi masyarakat,” tuturnya.
Selain itu, pembentukan unit-unit penggerak seperti World University Association for Community Development (WUACD), Airlangga Institute of Learning and Growth (AILG), akan mampu mendorong kerja sama multidisipliner dan memperbesar dampak tersebut, sehingga tidak berhenti pada dialog tetapi sampai pada aksi nyata.(naf)
