Surabaya, 23 Juli 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Setiap anak lahir membawa cahaya. Cahaya harapan, cahaya mimpi, dan cahaya masa depan. Tugas kita bukan menciptakan cahaya itu, melainkan menjaganya agar tetap menyala. Cahaya itu pertama kali dinyalakan dari rumah, tumbuh di sekolah, dikuatkan oleh lingkungan, dan kelak akan menerangi masa depan Surabaya ketika seluruh masyarakat ikut menjaganya.
Itulah makna terdalam Hari Anak Nasional. Bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan momentum untuk bertanya kepada diri kita sendiri: sudahkah setiap anak di Surabaya benar-benar tumbuh dalam lingkungan yang aman, dicintai, dihargai, dan diberi kesempatan yang sama untuk mengembangkan seluruh potensi dirinya?
Tema Hari Anak Nasional Kota Surabaya tahun ini, “Sayangi Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan Anak Surabaya Hebat,” mengingatkan kita bahwa masa depan sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh megahnya infrastruktur, tingginya investasi, atau pesatnya pembangunan ekonomi. Masa depan Surabaya sesungguhnya ditentukan oleh bagaimana kota ini memperlakukan anak-anaknya hari ini. Tema tersebut menjadi semangat utama dalam Puncak Peringatan Hari Anak Nasional Tingkat Kota Surabaya Tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah Kota Surabaya terus menunjukkan komitmennya membangun ekosistem kota yang semakin ramah anak. Salah satu ikhtiar yang patut diapresiasi adalah penyelenggaraan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) yang terus disempurnakan agar semakin adil, transparan, inklusif, dan memanusiakan anak. Pendidikan tidak lagi dipahami semata sebagai proses seleksi, tetapi sebagai upaya memastikan setiap anak memperoleh hak yang sama untuk belajar, bertumbuh, dan mengembangkan potensi terbaiknya.
Komitmen itu juga tampak dalam penguatan layanan perlindungan anak, penyediaan ruang bermain yang aman, pengembangan sekolah ramah anak, keterlibatan psikolog, lembaga perlindungan anak, komunitas, dunia usaha, hingga berbagai organisasi masyarakat yang bersama-sama membangun ekosistem perlindungan anak di Surabaya. Kolaborasi lintas sektor tersebut menunjukkan bahwa perlindungan anak adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas pemerintah semata.
Namun, kita juga harus jujur mengakui bahwa berbagai bentuk kekerasan terhadap anak, perundungan, eksploitasi, kekerasan seksual, hingga tekanan psikologis masih terjadi. Fakta ini bukan alasan untuk pesimis, melainkan pengingat bahwa kerja-kerja perlindungan anak memang tidak akan pernah selesai.
Perlindungan anak bukan pekerjaan yang memiliki garis akhir. Selama masih ada satu anak yang mengalami kekerasan, kehilangan haknya untuk belajar, atau tumbuh dalam rasa takut, maka perjuangan kita belum selesai. Sebaliknya, setiap keberhasilan menyelamatkan satu anak adalah harapan baru bagi masa depan bangsa.
Karena itu, perlindungan anak harus berkembang menjadi sebuah gerakan sosial yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Rumah adalah tempat pertama menyalakan cahaya kehidupan. Orang tua bukan hanya memenuhi kebutuhan materi anak, tetapi juga menghadirkan kasih sayang, rasa aman, keteladanan, dan ruang dialog yang membentuk karakter mereka.
Sekolah adalah tempat cahaya itu dipelihara. Guru bukan hanya mengajar, tetapi juga mendampingi, menginspirasi, mencegah perundungan, serta menciptakan ruang belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan membahagiakan.
Lingkungan masyarakat adalah ruang tempat anak belajar hidup bersama. Tetangga, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, media, perguruan tinggi, dunia usaha, dan komunitas memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan tidak ada anak yang tumbuh dalam kekerasan, diskriminasi, maupun pengabaian.
Sementara itu, Pemerintah Kota Surabaya harus terus menjadi penggerak utama melalui kebijakan yang berpihak pada kepentingan terbaik anak, memperkuat layanan perlindungan, pendidikan, kesehatan, ruang bermain, serta memastikan setiap pembangunan selalu dilihat dari perspektif hak-hak anak.
Puncak Peringatan Hari Anak Nasional Kota Surabaya tahun ini mengangkat operet berjudul “Pelita Anak Surabaya: Menyala dari Rumah, Terjaga oleh Semua.” Pesan ini menjadi simbol bahwa anak-anak yang hebat memang lahir dari keluarga yang penuh kasih, tetapi mereka akan tumbuh menjadi generasi yang tangguh apabila seluruh kota ikut menjaga dan membersarkan mereka.
Pada akhirnya, Surabaya Hebat bukan hanya diukur dari gedung-gedung yang menjulang, jalan yang semakin baik, atau pertumbuhan ekonominya. Surabaya Hebat diukur dari senyum anak-anaknya, dari rasa aman yang mereka rasakan, dari kesempatan yang mereka peroleh untuk bermimpi, serta dari keberanian seluruh masyarakat untuk berdiri bersama melindungi mereka.
Selamat Hari Anak Nasional ke-42.
Mari kita menyalakan cahaya masa depan anak dari rumah, menjaganya di sekolah, menguatkannya di lingkungan masyarakat, dan memastikan setiap kebijakan pemerintah selalu berpihak kepada kepentingan terbaik anak.
Sebab ketika seluruh kota bergerak menyayangi, melindungi, dan membangun masa depan anak, sesungguhnya kita sedang membangun masa depan Surabaya yang hebat.
Selamat merayakan hari anak nasional yang ke 42, semoga gerakan melindungi dan menyayangi anak terus menjadi obor bagi masa depan anak anak Surabaya hebat menyongsong Indonesia Emas 2045.
Surabaya, 23 Juli 2026
M. Isa Ansori adalah Penggagas “Puspar” ( Pusat Studi Perilaku Anak dan Remaja ) ICMI Jatim dan Wakil Ketua, Pengajar Psikologi Komunikasi dan Pegiat Komunikas Transaksional Analisis, Dewan Penasehat LHKP PD Muhammadiyah Surabaya, Pengurus Lembaga Perlindungan Anak ( LPA ) Jatim dan Ketua DPP Koalisi Pegiat Pendidikan Ramah Anak Indonesia.
