Lumajang 16 April 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Gunung Semeru tidak hanya berdiri sebagai lanskap geografis tertinggi di Pulau Jawa. Di bawah bayangannya, terbentuk sebuah ekosistem ekonomi yang bekerja secara alami diantaranya, tanah vulkanik yang subur, iklim pegunungan yang stabil, serta pengetahuan lokal yang diwariskan lintas generasi. Kombinasi inilah yang menjadikan Lumajang tumbuh sebagai salah satu ruang produksi komoditas berbasis identitas wilayah yang kini diakui secara hukum melalui skema Indikasi Geografis (IG).
Tiga produk unggulan daerah seperti Pisang Mas Kirana, Susu Kambing Senduro, dan Ubi Madu Pasrujambe resmi memperoleh Sertifikat Indikasi Geografis dari Kementerian Hukum RI. Pengakuan ini menempatkan ketiganya dalam sistem perlindungan kekayaan intelektual komunal, yang tidak hanya menjaga nama dan reputasi produk, tetapi juga memastikan keterkaitan mutlak antara kualitas dan wilayah asal.
Dalam kerangka kebijakan nasional, Indikasi Geografis merupakan instrumen strategis untuk mendorong hilirisasi sektor pertanian dan peternakan berbasis potensi lokal. Sistem ini memperkuat posisi petani dan produsen di hulu rantai nilai, sekaligus mengurangi risiko eksploitasi nilai tambah oleh pihak di luar wilayah produksi.
Semeru sebagai “mesin ekologis” pembentuk kualitas
Di sektor hortikultura, Pisang Mas Kirana menjadi representasi paling nyata dari interaksi antara alam dan manusia di lereng Semeru. Tanah vulkanik yang kaya mineral, curah hujan yang stabil, serta ketinggian wilayah menciptakan karakter buah yang manis, lembut, dan konsisten. Namun kualitas tersebut tidak berdiri sendiri, ia dijaga melalui praktik budidaya kolektif petani yang terus memperkuat standar mutu pascapanen.
Salah satu penggerak awal konsolidasi petani adalah Lili, yang berperan dalam penguatan kelembagaan petani Pisang Mas Kirana. Ia menjadi bagian dari fase awal perubahan cara pandang petani, dari sekadar produsen komoditas menjadi penjaga identitas produk berbasis wilayah.
Di sektor peternakan, Kecamatan Senduro memperlihatkan bagaimana ekosistem dataran tinggi Semeru membentuk kualitas Susu Kambing Senduro. Kondisi suhu yang sejuk, ketersediaan pakan hijauan alami, serta pola pemeliharaan tradisional menciptakan karakter susu yang stabil dan khas secara organoleptik. Dalam beberapa tahun terakhir, sektor ini juga mulai bergerak ke arah hilirisasi melalui produk olahan berbasis peternakan rakyat.
Transformasi tersebut turut diperkuat pelaku usaha lokal seperti Saiful Siam, pemilik Home Industri Goatzilla Farm and Caffe, yang mengembangkan produk turunan susu kambing. Dari skala rumah produksi, ia menjadi bagian dari penghubung antara peternak dan pasar yang lebih luas, sekaligus memperkuat struktur ekonomi berbasis komunitas.
Sementara itu, Ubi Madu Pasrujambe tumbuh dalam ekosistem tanah vulkanik yang kaya unsur hara. Karakter rasa manis alami tanpa tambahan pemanis merupakan hasil interaksi antara struktur tanah, iklim mikro, dan pola budidaya masyarakat yang masih mempertahankan pendekatan alami.
Di lapangan, Hariyanto, petani Ubi Madu Pasrujambe, menjadi bagian dari penggerak yang menjaga konsistensi mutu komoditas tersebut. Bersama petani lain, ia mempertahankan standar budidaya agar karakter khas Ubi Madu tetap terjaga sebagai identitas lokal yang tidak tergantikan oleh wilayah lain.
Indikasi Geografis sebagai instrumen ekonomi dan perlindungan negara
Secara nasional, Indikasi Geografis tidak hanya diposisikan sebagai label asal-usul, tetapi sebagai sistem perlindungan hukum terhadap reputasi produk berbasis wilayah. Skema ini memastikan bahwa nama, kualitas, dan nilai ekonomi suatu produk tidak dapat digunakan secara bebas di luar wilayah yang telah ditetapkan dalam dokumen IG.
Lebih jauh, IG menjadi bagian dari strategi negara dalam memperkuat ekonomi berbasis kekayaan intelektual komunal. Melalui mekanisme ini, negara tidak hanya melindungi produk, tetapi juga memperkuat struktur ekonomi hulu: petani, peternak, dan pelaku usaha lokal yang menjadi penentu kualitas utama.
Dalam konteks ini, IG juga berfungsi sebagai pengungkit nilai tambah. Produk yang sebelumnya dipasarkan sebagai komoditas mentah kini memiliki posisi tawar lebih kuat, standar mutu yang terdefinisi, serta peluang penetrasi pasar yang lebih luas, termasuk pasar ekspor.
Bupati: nilai ekonomi harus kembali ke hulu produksi
Bupati Lumajang, Indah Amperawati (Bunda Indah), menegaskan bahwa sertifikasi Indikasi Geografis harus dimaknai sebagai instrumen perlindungan sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Indikasi Geografis ini bukan hanya pengakuan administratif, tetapi perlindungan atas identitas, mutu, dan reputasi produk unggulan Lumajang,” ujarnya dalam penyerahan sertifikat di Ruang Mahameru Kantor Bupati Lumajang, Kamis (16/4/2026).
Ia menekankan bahwa orientasi utama dari penguatan IG adalah distribusi nilai ekonomi yang lebih adil.
“Yang terpenting adalah bagaimana nilai tambah itu kembali kepada petani dan peternak sebagai pelaku utama. Di situlah esensi pembangunan ekonomi berbasis wilayah,” tegasnya.
Dari komoditas menjadi identitas ekonomi Semeru
Keberhasilan tiga produk Lumajang meraih Indikasi Geografis menunjukkan pergeseran penting dalam struktur ekonomi daerah:,dari berbasis komoditas menuju berbasis identitas.
Semeru dalam konteks ini tidak lagi hanya menjadi latar geografis, tetapi menjadi sistem ekologi ekonomi yang membentuk kualitas, reputasi, dan nilai produk. Dari tanahnya lahir komoditas, dari komoditas lahir pengakuan negara, dan dari pengakuan itu lahir ruang baru bagi masyarakat untuk memperkuat posisi ekonomi mereka dalam rantai nilai yang lebih adil dan berkelanjutan.
Di Lumajang, ekonomi tidak hanya tumbuh mengikuti pasar. Ia tumbuh mengikuti tanah dan kini, tanah itu memiliki nama yang diakui negara. (MC Kab. Lumajang)
