Surabaya 10 Juni 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan Kedokteran dan Ilmu Alam (FIKKIA), Rima Palestine Salsabila berhasil membawa riset bidang travel medicine di kancah internasional. Ia memaparkan hasil risetnya itu dalam International Student Congress of (bio)Medical Sciences (ISCOMS) di University Medical Center Groningen, Belanda pada Senin-Kamis (1-4/6/2026), Penelitian tersebut mengangkat profil kesehatan dan manajemen keselamatan wisatawan pendaki di kawasan Kawah Ijen, Banyuwangi.
Riset yang ditulis bersama dr Husada Tsalitsa Mardiansyah, dr Ivan Rahmatullah MPH PhD, dan dr Muhammad Nazmuddin MSc itu berawal dari kegiatan field trip dan studi lapangan di area Paltuding, Kawah Ijen. “Saya tidak menyangka abstrak ini bisa lolos. Awalnya saya hanya ingin mencari kesempatan untuk belajar menulis ilmiah dan menambah pengalaman, tetapi ternyata terpilih untuk sesi poster presentation di forum internasional,” ujar Rima.
Mengangkat Urgensi Travel Medicine
Ketertarikan Rima terhadap topik ini muncul setelah melihat langsung berbagai risiko kesehatan yang dihadapi wisatawan di kawasan pendakian saat studi lapangan di Kawah Ijen. Menurutnya, tingginya minat masyarakat terhadap wisata alam belum sepenuhnya diimbangi dengan kesadaran akan pentingnya persiapan kesehatan sebelum mendaki. “Indonesia memiliki banyak destinasi pendakian gunung berapi yang indah karena berada di wilayah Ring of Fire. Namun, masih banyak wisatawan yang belum memahami pentingnya persiapan kesehatan sebelum melakukan pendakian,” ujarnya.
Berangkat dari kondisi tersebut, Rima bersama tim dan para supervisor menyusun penelitian mengenai implementasi pre-hiking screening dan konsultasi kesehatan bagi pendaki. Berbekal data lapangan dan diskusi intensif, tim berhasil menghasilkan abstrak yang lolos seleksi ISCOMS 2026. Dalam penelitian tersebut, mereka menemukan masih adanya kesenjangan dalam akses dan penerapan informasi keselamatan bagi wisatawan pendaki.
“Temuan kami menunjukkan bahwa skrining kesehatan sebelum pendakian dapat menjadi langkah penting untuk mencegah kondisi darurat yang sebenarnya dapat dihindari,” jelas Rima.
Berdasarkan hasil tersebut, tim merekomendasikan penguatan sistem skrining kesehatan yang terintegrasi dengan perizinan pendakian, pemanfaatan teknologi digital seperti smartwatch dan point-of-care testing, serta penyediaan informasi risiko kesehatan yang lebih komprehensif bagi wisatawan.
“Saya berharap penelitian ini dapat menjadi langkah awal untuk mengembangkan Travel Medicine di Indonesia sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan dan keselamatan wisata di destinasi alam,” tambahnya.
Belajar dari Forum Internasional
Mengikuti ISCOMS menjadi pengalaman pertama Rima dalam melakukan riset, menyusun poster ilmiah, sekaligus mempresentasikan hasil penelitian di hadapan peserta dari berbagai negara. Tantangan terbesar yang ia hadapi adalah rasa gugup dan keterbatasan pengalaman saat berhadapan dengan mahasiswa S2, S3, serta para ahli di bidang kesehatan global.
“Saya sempat sangat panik sebelum presentasi dimulai. Namun setelah mulai berbicara di depan audiens, perlahan rasa gugup itu berkurang dan saya bisa menyampaikan penelitian dengan lebih baik,” ungkapnya. Selain mempresentasikan penelitian, Rima juga mengikuti berbagai workshop mengenai integrasi kecerdasan buatan dalam kesehatan, riset berkelanjutan, hingga keterampilan klinis. “Saya berharap pengalaman ini dapat saya bagikan kepada teman-teman di kampus dan menjadi motivasi untuk terus mengembangkan Travel Medicine di Indonesia demi meningkatkan kualitas kesehatan dan keselamatan wisata,” pungkasnya. (naf)
